Ketika Sarung Lebih Seksi dari Leging: Petualangan Anak Kampung Di Ngejalang Fest

iwan

Jumat, 5 Desember 2025 - 08:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dua hari nongkrong di Ngejalang Fest 2025 Bumi Lebu Negeri Ratu Tenumbang, rasanya kayak otak saya dikasih mode “flashback ultra HD”. Saya datang cuma mau makan jajanan, lihat-lihat, dan bikin story ala-ala “hidupku indah padahal enggak juga”. Tapi baru dua langkah masuk, saya langsung kena hantam nostalgia di bagian dada kiri agak atas.

Negeri Ratu Tenumbang (Netizenku.com): Yang pertama nyapa adalah bunyi kukur, “krek… krek… krek…”. Itu bukan suara kelapa diparut, itu suara memori masa kecil diketok pelan biar bangun. Tiba-tiba saya merasa jadi bocah ingusan yang duduk jongkok dekat ibu sambil pura-pura nunggu serpihan kelapa jatuh, padahal cuma mau nimbrung tanpa kontribusi berarti. Dibilang jangan dekat malah ngesot makin dekat, udah kayak magnet ketemu besi.

Tapi yang paling bikin saya speechless adalah pemandangan ibu-ibu bersarung duduk bersila memarut kelapa.
Wah, ini perlu saya garis bawahi, bold dan miring:

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ternyata ibu-ibu bersarung itu lebih memikat daripada ketika mereka pakai leging ketat demi dibilang modern.

Entah kenapa, sarung itu punya aura. Anggun tapi sederhana. Santai tapi wibawa. Adem tapi berkarakter. Ibaratnya kalau sarung punya akun Instagram, pasti bio-nya, “natural beauty, no filter”.

Sementara kalau leging ketat? Ya… kita semua tahu. Kadang terlalu jujur dalam menampilkan geografi tubuh yang tidak perlu ditampilkan.

Melihat mereka bersarung itu seperti melihat budaya yang sedang berdiri tegak sambil bilang, “Tenang nak, kita nggak punah kok, cuma lagi ngumpet sebentar”.

Lalu saya lanjut jalan dan menemukan gerobak pelepah pinang, kendaraan paling jujur dan paling berbahaya yang pernah saya naiki di masa kecil. Nggak ada rem, nggak ada sabuk pengaman, dan kalau ngebut tinggal serahkan nyawa kepada Tuhan dan teman yang narik. Dulu kalau jatuh, bukan nangis, malah bangga.

“Liat nih, lututku lecet tiga! Kamu cuma satu! Lemah!”

Baca Juga  Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api

Mental juara sebelum kenal Piala Dunia.

Trus ada gegebok undom, alias batok kelapa sakti yang dijadikan sepatu berkaki satu. Kita jalan gaya flamingo yang habis diputusin pacarnya, tapi pede luar biasa. Tali putus? Bukan marah, malah heboh nyari tali baru sambil teriak, “Gas lagi! Aku belum puas!”

Setiap sudut festival itu seperti mesin waktu manual. Nggak pakai tombol, nggak pakai portal, cukup pakai suara, tawa, dan aroma kelapa.

Dan yang bikin saya meleleh kayak es mambo jam 1 siang adalah suasana masyarakatnya. Anak-anak lari tanpa gadget, ibu-ibu bersarung bekerja sambil senyum, bapak-bapak nonton sambil ketawa kecil kayak baru ingat cinta pertama.

Semuanya terasa… tulus.
Tulus kayak makan singkong rebus sama kopi pahit. Sederhana tapi nyentuh jiwa.

Saya duduk sebentar di bawah pohon pinang, lihat anak-anak main, lihat ibu-ibu bersarung yang anggun tanpa paksaan, lihat bapak-bapak yang sepertinya sudah berdamai dengan isi dompet. Di sana saya sadar kalau budaya itu tidak pernah hilang.
Kita saja yang terlalu sibuk ngejar modern sampai lupa nengok belakang.

Baca Juga  Birokrasi Gemuk, Kinerja Kurus: Lampung Barat Terjebak Ilusi Efisiensi

Hari itu, nostalgia rasanya tumpah ruah. Kalau nostalgia itu makanan, saya makan tanpa nahan kalori. Kalau nostalgia itu minuman, saya teguk sampai bibir belepotan.

Dan akhirnya saya cuma bisa pulang sambil senyum sendiri, karena masa kecil saya rasanya ikut nebeng pulang di tas.

Untuk semua yang bikin saya “pulang” ke bagian hidup yang paling manis, saya cuma mau bilang, “Terima kasih Sai Batin Marga Tenumbang, terima kasih kepada masyarakat yang gotong-royong menghidupkan budaya seindah ini, dan terima kasih kepada sang inisiator Ricard Sambera atas ide cerdas yang bukan hanya membuat festival—tetapi sukses menghidupkan kembali kenangan yang hampir tenggelam oleh modernitas”.

Sarung tetap juara. Budaya tetap hidup, dan nostalgia? Resmi bikin saya ketagihan. (*)

Berita Terkait

Bunda Eva (Memang) Bukan Margaret Thatcher
Sekber Pantau MBG Lampung, “Nggak Ada Gunanya?”
Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Minta MBG Berlanjut Puluhan Tahun, Gurih ya?
Saat Keputusan Gubernur Tentang MBG Lampung Diteken, Ratusan Siswa Keracunan
MBG Lampung Beruntung “Dikawal” Duet Kakak Beradik
MBG Lampung Gamang Wujudkan Asta Cita Prabowo
Birokrasi Gemuk, Kinerja Kurus: Lampung Barat Terjebak Ilusi Efisiensi

Berita Terkait

Rabu, 13 Mei 2026 - 22:25 WIB

Pansus DPRD Lampung Soroti LKPJ 2026, Minim Data dan Indikator Kinerja

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:56 WIB

DPRD Lampung Soroti Pengawasan Lapak Kurban Musiman Jelang Iduladha

Selasa, 12 Mei 2026 - 19:14 WIB

Korban TPPO Dipulangkan, Dewi Mayang Suri Djausal Apresiasi Polda Lampung

Selasa, 12 Mei 2026 - 17:43 WIB

Rakerda 2026, Jihan Ajak Pramuka Perkuat Karakter Pemuda

Selasa, 12 Mei 2026 - 16:42 WIB

DPRD Lampung Dukung Proyek PSEL, Ubah 1.100 Ton Sampah Jadi Energi Listrik

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:12 WIB

MBG Lampung 2026 Diprediksi Datangkan Rp12 Triliun

Senin, 11 Mei 2026 - 20:25 WIB

DPRD Lampung Siapkan Raperda Urban Farming

Senin, 11 Mei 2026 - 20:19 WIB

Gubernur Mirza Kawal Percepatan PSEL Lampung Raya

Berita Terbaru

Lampung Selatan

Pemkab Lampung Selatan Percepat Transformasi Sistem Kerja ASN

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:41 WIB

Lampung Selatan

Lampung Selatan Tuntaskan 99,9 Persen Imunisasi Zero Dose 2026

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:38 WIB

Tulang Bawang Barat

Kementan Salurkan Bantuan Tebu, Kopi, dan Kakao untuk Petani Tubaba

Rabu, 13 Mei 2026 - 14:11 WIB