Birokrasi Gemuk, Kinerja Kurus: Lampung Barat Terjebak Ilusi Efisiensi

iwan

Selasa, 21 April 2026 - 12:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Di negeri yang katanya kaya potensi tapi miskin eksekusi ini, jabatan Bupati Lampung Barat tampaknya sudah naik level: bukan lagi sekadar kepala daerah, tapi harus menjelma jadi “one man show”—bupati, staf ahli, kepala dinas, bahkan kalau perlu sekalian jadi tenaga honorer yang masih punya semangat kerja.

Lampung Barat (Netizenku.com): Bagaimana tidak? Di saat kursi-kursi empuk diisi oleh orang-orang yang mestinya berpikir strategis, yang terjadi justru semacam lomba menunggu mukjizat. Roadshow ke Jakarta? Sudah. Foto-foto? Lengkap. Tapi hasil? Nihil. Seolah-olah program dari pusat itu seperti durian runtuh—tinggal duduk manis, nanti jatuh sendiri ke pangkuan. Sayangnya, ini bukan musim durian, ini musim alasan.

Lucunya lagi, di tengah anggaran yang makin cekak—yang bahkan sampai tega memangkas TPP ASN—justru masih ada pos-pos yang dipelihara seperti pusaka keramat. Tiga staf ahli bupati, misalnya. Secara teori, mereka ini harusnya jadi “otak tambahan”. Tapi dalam praktik, lebih mirip “beban tambahan”. Ide cemerlang? Entah sedang disimpan untuk edisi khusus, atau memang belum sempat dipikirkan sejak dilantik.

Baca Juga  Ada Ulat di Menu MBG, Siswa Lambar Enggan Konsumsi

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kalau mau jujur-jujuran, beberapa dinas itu seperti hidup di dunia paralel—ada secara struktur, tapi tak terasa manfaatnya di kehidupan nyata. Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja? Kinerjanya lebih sunyi dari pabrik yang tutup. Dinas Pendapatan Daerah? Pendapatan stagnan, tapi struktur tetap gemuk. Ini bukan soal ada atau tidak, tapi soal guna atau sekadar nama.

Belum lagi parade dinas sektor pertanian: Perkebunan dan Peternakan, Tanaman Pangan dan Hortikultura, Perikanan. Tiga sampai empat kantor, anggaran jalan terus, tapi petani tetap mengeluh dari musim ke musim. Kalau hasilnya sama saja, kenapa tidak disatukan saja? Atau jangan-jangan, yang tumbuh subur justru birokrasi, bukan pertanian?

Baca Juga  Siswi SMAN 1 Liwa Raih Beasiswa Kedokteran Gigi Unsyiah

Yang paling menarik tentu saja Badan Riset Daerah alias BRIDA. Namanya terdengar canggih, seolah-olah tiap hari bicara inovasi dan terobosan. Tapi di lapangan? Petani kopi tetap dengan cara lama, petani sayur masih bergantung pada pestisida. Risetnya ke mana? Mungkin sedang riset bagaimana tetap terlihat sibuk tanpa menghasilkan sesuatu.

Sementara itu, di level bagian-bagian, fragmentasi makin terasa seperti hobi. Bagian Organisasi jalan sendiri, Hukum sibuk sendiri. Perekonomian dan Pembangunan seperti dua saudara yang jarang ngobrol. Kesra dan Umum? Ya, umum saja—tidak terlalu terasa.

Baca Juga  Bambang Kusmanto Pasang Lampu Jalan untuk Warga Sukau dan Balik Bukit

Padahal kalau mau efisien—dan ini sering digaungkan—logikanya sederhana: satukan yang bisa disatukan, buang yang tidak perlu, dan isi yang tersisa dengan orang-orang yang benar-benar bekerja. Tapi tampaknya, yang lebih mudah adalah memotong tunjangan pegawai daripada memotong ego jabatan.

Akhirnya, yang terjadi bukan efisiensi, tapi ilusi efisiensi. Struktur tetap gemuk, kinerja tetap kurus.

Maka wajar jika Bupati Lampung Barat dituntut multitalenta. Karena kalau semua lini berjalan optimal, bupati tinggal mengarahkan. Tapi kalau separuh tim hanya jadi penonton, ya bupati harus turun tangan ke semua lini—dari mikir program sampai ngejar pusat, dari strategi sampai eksekusi.

Pertanyaannya sederhana: sampai kapan sistem seperti ini dipertahankan?

Atau jangan-jangan, kita memang lebih nyaman dengan kondisi ini—ramai jabatan, sepi manfaat. (*)

Berita Terkait

Bau Ikan Busuk dari Dapur MBG
Hapkido Lampung Barat Borong 14 Medali pada Try Out Porprov
BGN Kelewat Pede, KPK Dengungkan “Tanda Bahaya”
Siswi SMAN 1 Liwa Raih Beasiswa Kedokteran Gigi Unsyiah
Dramaturgi Geleng-Angguk MBG
Bambang Kusmanto Pasang Lampu Jalan untuk Warga Sukau dan Balik Bukit
Parosil, Jabatan Bukan Hadiah OPD Harus Inovatif
Bunda Eva (Memang) Bukan Margaret Thatcher

Berita Terkait

Rabu, 3 Juni 2026 - 16:54 WIB

DPRD Lampung Soroti Rencana Anggaran Rp10 Miliar untuk SMA Siger

Rabu, 3 Juni 2026 - 14:49 WIB

Dewan Pendidikan Ajak Publik Awasi SPMB 2026

Rabu, 3 Juni 2026 - 12:14 WIB

Sekber Siber Pantau MBG Menunggu Penertiban BGN di Lampung

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:04 WIB

Gubernur Lampung Dukung Kepemimpinan Baru BGN Perkuat Program MBG

Selasa, 2 Juni 2026 - 21:07 WIB

Pemprov Lampung Sosialisasikan E-Reviu untuk Perkuat Pengawasan dan Tata Kelola Daerah

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:38 WIB

Soroti PAD Mandek, DPRD Lampung Desak Pembenahan Pajak dan Aset Daerah

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:21 WIB

DPRD Lampung Cari Solusi Anjloknya Harga Sawit

Senin, 1 Juni 2026 - 13:11 WIB

Ketat! Badan Gizi Nasional Bakal Setop Dapur Makan Bergizi Gratis yang Langgar Aturan

Berita Terbaru

Lampung

Dewan Pendidikan Ajak Publik Awasi SPMB 2026

Rabu, 3 Jun 2026 - 14:49 WIB

Ilustrasi Ikan busuk mulai dari kepala. (Netizenku)

Celoteh

Bau Ikan Busuk dari Dapur MBG

Rabu, 3 Jun 2026 - 08:19 WIB