Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api

Hendri Setiadi

Rabu, 29 April 2026 - 13:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang guru memperlihatkan perbedaan porsi bernilai Rp2000 hanya terletak pada kepalan nasi yang berukuran sedikit lebih besar. (Foto: Netizenku)

Seorang guru memperlihatkan perbedaan porsi bernilai Rp2000 hanya terletak pada kepalan nasi yang berukuran sedikit lebih besar. (Foto: Netizenku)

Mungkin penerima manfaat makan bergizi gratis (MBG), khususnya di kalangan pelajar sekolah dasar (SD) di Lampung, belum banyak yang tahu bahwa porsi makan yang disalurkan ke sekolah mereka ada perbedaan.

(Netizenku.com): BPM, seorang murid SD swasta di kawasan Kedaton, Bandar Lampung, bercerita. Saat waktu makan siang tiba, biasanya utusan siswa dari masing-masing kelas akan menuju titik omprengan MBG berada.

Seluruh jatah omprengan ditata pada satu tempat. Tidak ada perbedaan susunan omprengan. Sehingga siswa mulai dari kelas 1 sampai 6 bebas mengambil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini hanya satu potret saja. Bahwa ada SD yang menerima keseragaman porsi menu MBG serupa itu. Tapi bukan tidak mungkin sekolah-sekolah dasar lainnya juga mengalami perlakuan serupa.

Padahal di dalam Petunjuk Teknis Tata Kelola Penyelenggaraan MBG 2026, dikenal pengelompokan penerima manfaat. Pengelompokan pertama mencakup anak balita/PAUD/TK/RA, SD/MI kelas 1-3.

Baca Juga  BGN Kelewat Pede, KPK Dengungkan “Tanda Bahaya”

Pada kelompok ini pengadaan menu dan porsi makan menggunakan acuan dasar Rp8.000/orang.

Pengelompokan berikutnya meliputi murid SD/MI kelas 4-6 dan SMP/MTS. Kemudian pelajar SMA/MA/SMK, SLB, serta pendidik. Berikutnya santri. Terakhir ialah ibu hamil dan ibu menyusui.

Kelompok penerima manfaat ini menggunakan acuan dasar Rp10.000/orang

Mari kita tengok contoh lain. Sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) berada di kawasan Labuan Ratu, Bandar Lampung, memiliki siswa 64. Separuh siswa itu adalah santri sebuah pondok pesantren.

Mereka menerima jatah MBG seperti sekolah dasar pada umumnya. Seorang pendidik, sambil didampingi beberapa rekannya, berucap MBG yang diterima memiliki perbedaan.

Dia menguraikan, omprengan untuk anak kelas 1 sampai 3 di renteng dan diikat dengan tali plastik warna hijau. Sedangkan untuk kelas 4 sampai kelas 6 diikat tali rapia merah.

Pembeda lainnya adalah porsi nasi. Kepalan nasi jatah murid kelas 4 sampai 6 berukuran sedikit lebih besar dibanding kepalan nasi untuk adik kelas.

Baca Juga  Bau Ikan Busuk dari Dapur MBG

Sedangkan porsi menu lauk pauk relatif sama. Tidak ada perbedaan yang kentara. Kalaupun ada perbedaan lain, seloroh pendidik tadi, terdapat pada buah jeruk. Hanya sebagian jeruk yang masih segar, selebihnya kisut. Asem pula.

Padahal, kalau melihat juknis MBG, anggaran pengadaan di antara dua pengelompokan tadi (antara kelas 3 dan 4) ada selisih Rp2 ribu.

SPPG Curang Gembosi Porsi

Pola-pola “penggembosan” atau penyusutan serupa ini seiring waktu semakin kurang mendapat perhatian oleh penerima manfaat, bahkan di kalangan khalayak luas.

Kalau pun ada yang melihat kejanggalan tersebut, mereka merasa sungkan mempersoalkan. Khawatir dianggap tidak bersyukur, sudah diberi gratis tapi masih protes.

Sebaliknya, ketika penerima manfaat atau bahkan publik luas sudah tak mau ambil pusing lagi dengan keberadaan MBG, maka bagi para pengelola dapur MBG atau pemilik SPPG fenomena ini menjadi kabar gembira.

Baca Juga  Bunda Eva (Memang) Bukan Margaret Thatcher

Mereka bakal girang sejadi-jadinya lantaran penerima manfaat memiliki stok pemakluman berlimpah. Mungkin juga dalam hati mereka berujar, “Senang berbisnis dengan Anda”.

Jelas praktik demikian dianggap bisnis empuk bagi pengelola SPPG curang yang demen menyusutkan porsi menu. Mari kita kalkulasi. Kalau dalam sehari mereka melayani 3.000 omprengan, lalu andai ada separuh yang porsi menunya digembosi, tinggal dikalikan saja selisih nilainya.

Dan itu hitungan “income” per hari. Bagaimana lagi ketika diakumulasi per bulan. Hemmm….benar-benar bisnis empuk.

Pertanyaannya, ke mana Satgas MBG Lampung dan Kantor Regional BGN yang notabene perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN) di Lampung?

Kalau praktik demikian yang berlangsung di Bandar Lampung alias lokasinya ada di depan mata saja luput dari pengawasan, lantas bagaimana lagi nasib porsi-porsi menu MBG di daerah, apalagi di pelosok. Wassalam. (*)

Berita Terkait

Gubernur Mirza Sepatutnya “Bantu” Presiden Prabowo
Menelisik Jejak Kaki-Tangan Dadan Cs di MBG Lampung
Bau Ikan Busuk dari Dapur MBG
BGN Kelewat Pede, KPK Dengungkan “Tanda Bahaya”
Dramaturgi Geleng-Angguk MBG
Bunda Eva (Memang) Bukan Margaret Thatcher
Sekber Pantau MBG Lampung, “Nggak Ada Gunanya?”
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Minta MBG Berlanjut Puluhan Tahun, Gurih ya?

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 10:37 WIB

PKB Lampung Gelar Harlah ke-28 dengan Beragam Aksi Sosial

Selasa, 30 Juni 2026 - 13:19 WIB

DPRD Lampung Soroti Antrean Solar, Minta Pertamina Tambah Pasokan

Selasa, 30 Juni 2026 - 12:43 WIB

APPMBGI, MBG Dukung Peningkatan IPM Lampung

Senin, 29 Juni 2026 - 13:44 WIB

Demo di DPRD Lampung, PMII Minta MBG Dievaluasi

Minggu, 28 Juni 2026 - 18:39 WIB

Genjot Produksi Padi, Gubernur Lampung Dorong Modernisasi Pertanian di Mesuji

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:24 WIB

Puluhan Tahun Rusak, Pembangunan Jalan Gedong Aji–Umbul Mesir Kini Pangkas Waktu Tempuh Jadi 5 Menit

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:09 WIB

Harlah Ke-28, PKB Lampung Gelar Pasar Murah di 100 Titik

Sabtu, 27 Juni 2026 - 20:20 WIB

Edy Irawan Arief Pimpin Demokrat Lampung 2026–2031, Targetkan Kejayaan di Pemilu 2029

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

DPRD Tubaba Minta Pemkab Segera Cairkan Siltap Aparatur Tiyuh

Kamis, 2 Jul 2026 - 00:00 WIB

Pringsewu

Bupati Pringsewu Apresiasi Kiprah UAP Bangun Inovasi

Rabu, 1 Jul 2026 - 23:52 WIB

Pringsewu

Bupati Pringsewu Apresiasi Sinergi Polres Pringsewu

Rabu, 1 Jul 2026 - 23:49 WIB