BERBAGI

Liwa (Netizenku.com): Tidak semua orang menyadari pentingnya pemberantasan virus Covid-19 melalui penyemprotan cairan disinfektan. Bahkan sekelas kepala sekolah, abai dengan instruksi bupati Lampung Barat terkait Serangan 26 Maret.

Dalam rangka memastikan semua elemen masyarakat melakukan penyemprotan secara massal, Camat Air Hitam, Dahlin, memantau wilayahnya. Terbukti SD Negeri II
Gunung Terang, Kecamatan Air Hitam, tidak bekerja secara maksimal.

“Bupati sudah instruksikan untuk melakukan penyemprotan secara massal, Kamis (26/3) dan kita sudah sosialisasikan. Untuk memastikan itu berjalan dengan baik saya memantau baik di pekon-pekon maupun sekolah. Ternyata apa yang dilakukan SD Negeri II tersebut tidak maksimal,” kata Dahlin.

Bahkan kata dia, saat ditanya keberadaan kepala sekolah, guru yang ada cenderung menghindar, setelah didesak ternyata yang bersangkutan ke Liwa. Tentang kenapa tidak melakukan penyemprotan dengan maksimal, guru-guru tersebut mengaku tidak ada petunjuk atasan apalagi pelimpahan wewenang.

“Saya tanya kemana kepala sekolah, tidak dijawab dengan jelas, baru setelah didesak dikatakan ke Liwa. Sementara terkait mereka tidak melakukan penyemprotan dengan maksimal, disampaikan alasan yang tidak masuk akal, bahwa tidak ada pelimpahan kewenangan dari pimpinan, bahkan mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan,” jelas Dahlin.

Mengetahui, ada kepala sekolah yang tidak mengindahkan instruksinya tentang Serangan 26 Maret, Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus berang dan sangat menyesalkan ada oknum kepala sekolah yang tidak peduli dengan lingkungan.

“Saat ini kita sedang perang melawan wabah penyakit, tetapi aneh kalau ada seorang guru bahkan kepala sekolah meremehkannya, untuk itu saya perintahkan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan serta Inspektorat untuk melakukan pembinaan,” ujar bupati.

Apalagi kata dia, seharusnya seorang guru menjadi teladan di lingkungan kerja dan di tengah-tengah masyarakat. Itulah gunanya program literasi untuk terus membaca dan belajar. Apalagi yang dilakukan saat ini adalah gerakan untuk kemanusiaan.

“Kenapa kita adakan program literasi, untuk kita terus membaca dan belajar, kita harus sensitif, apalagi yang kita lakukan saat ini adalah gerakan kemanusiaan, dan seharusnya seorang tenaga pendidik itu menjadi teladan di lingkungan tugas dan di tengah-tengah masyarakat,” tandas Parosil. (Iwan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here