Di Pesisir Barat, jabatan itu ibarat hujan di bulan September. Kadang deras, kadang cuma gerimis, eh besoknya sudah kering kerontang. Baru kemarin masih dipanggil “Pak Kadis”, sekarang sudah jadi “Pak yang dulu di sana”. Bupati baru, gaya baru. Yang tidak sejalan, minggir. Yang kemarin diam saat kampanye, dicoret. Yang salah pilih warna, ya siap-siap didegradasi.
(Netizenku.com): Mutasi ramai-ramai, ASN dipindah sana-sini. Ada yang naik, ada yang geser, ada juga yang disuruh “istirahat dulu”, padahal sebenarnya dipecat pelan-pelan. Lucunya, yang rajin bekerja malah digeser, sementara yang rajin swafoto bareng bupati justru naik. Benar kata pepatah zaman sekarang: di birokrasi, kerja bagus kalah sama muka bagus di feed media sosial pimpinan.
Bupati Pesisir Barat memang punya kuasa untuk melakukan mutasi. Tapi netizen juga punya kuasa untuk mengomentari. Masak iya, mutasi ASN seperti menyusun line-up pemain futsal, yang dekat dengan pelatih pasti main duluan. Padahal yang jago dribbling malah duduk di bangku cadangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang paling menyedihkan itu yang nonjob. Seragam masih melekat, tapi pekerjaan tidak ada. Datang pagi, duduk, ngopi, baca koran, main gawai, pulang. Tidak jelas mengerjakan apa. Ditanya ke atasan, jawabnya masih “dalam penataan”. Padahal sudah tiga bulan “ditata”, tapi tidak pernah dipasang lagi.
Kalau ditanya kenapa bisa nonjob, jawabannya beragam: mulai dari tidak aktif kampanye, tidak setor muka, sampai “tidak vibes” dengan pimpinan. Lah, ini birokrasi atau ajang cari chemistry? Yang dicari seharusnya PNS kompeten, bukan konten.
Netizen juga tidak buta. Di balik alasan “penyegaran organisasi”, semua tahu ini semacam “balas dendam gaya halus”. Bupati sudah menang, tapi masih menyimpan dendam kepada yang tidak mendukung. Jadi ASN pun harus jadi pahlawan lima tahunan. Salah ambil posisi, bisa-bisa dicoret dari daftar pejabat.
Saran untuk Bupati Pesisir Barat, kalau melakukan mutasi jangan hanya karena sakit hati saat pemilu. Rakyat memilih bukan cuma untuk menyenangkan pimpinan, tapi untuk melihat perubahan. ASN itu bukan alat politik, melainkan mesin pelayanan. Jangan rusak mesin hanya karena tidak memberi suara. Ingat ya, Pak, pemilu memang lima tahun sekali, tapi karma bisa datang setiap hari.
Dan untuk ASN yang sedang “nganggur elegan” alias nonjob, sabar ya. Jabatan itu titipan. Kadang naik, kadang turun. Tapi kerja baik dan integritas tidak bisa dimutasi. Tenang saja, yang sekarang sok berkuasa juga nanti akan pensiun kok.
Salam hangat dari kami, rakyat jelata yang hanya bisa menyimak, nyinyir, dan mengetik di pojok media sosial. Sebab kalau bersuara langsung, bisa-bisa besok kami juga ikut dimutasi ke Planet Mars. (*)








