Bunda Eva (Memang) Bukan Margaret Thatcher

Hendri Setiadi

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Apakah apple to apple menyandingkan Margaret Thatcher (bekas Perdana Menteri Inggris yang fenomenal) dengan Eva Dwiana atau lebih sering disapa Bunda Eva yang (hanya) Walikota Bandar Lampung? Tentu saja tidak. Tapi soal keberanian dan kegigihan, sepertinya keduanya “sebelas-dua belas”, ada kemiripan.

(Netizenku.com): Bagi yang belum tahu, Margaret Thatcher mengawali karir politiknya di Partai Konservatif di Inggris. Dia malah pernah menakhodai partai itu dari tahun 1975 sampai 1990. Terbilang lama untuk seorang perempuan memimpin partai di sebuah negeri berkekuasaan besar.

Sejalan dengan itu karirnya sebagai negarawan juga terbilang moncer. Tahun 1979 dia didapuk menjadi Perdana Menteri Britania Raya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Soal keberanian dan kegigihan tak perlu diragukan. Sepak terjang Thatcher tak jarang seperti “sepur rem blong”. Kalau sudah punya keinginan, peduli setan. Yang tak sependapat diacuhkan. Yang nekat menghalangi bakal diterabas kongkol.

Pokoknya stereotipe ras terkuat di muka bumi. Hajar!!! Tak berlebihan bila seorang jurnalis Soviet kemudian menjulukinya “Wanita Besi” alias Iron Lady. Julukan itu ditasbihkan sebagai cerminan atas gaya politik dan kepemimpinan Thatcher yang keras kepala dan tak kenal kompromi.

Selain dikenal sebagai Perdana Menteri perempuan pertama, Thatcher juga merupakan sosok paling lama menduduki posisi strategis itu sepanjang sejarah Inggris. Begitu menterengnya wonder woman satu ini.

Sepanjang karirnya, perempuan yang mengawali kiprah sebagai ahli penelitian kima sebelum beralih menjadi pengacara, ini meninggalkan banyak rekam jejak, baik dalam skala dalam negeri maupun global.

Di bawah kepemimpinannya, Inggris mengalami transformasi ekonomi dan sosial secara besar-besaran. Thatcher pernah menggulirkan kebijakan konservatif yang kemudian dikenal dengan nama Thatcherisme. Tak sedikit kalangan berdecak kagum atas kegemilangan itu.

Namun dunia bekerja dengan alur misterinya sendiri. Meski pernah lolos dari upaya pembunuhan oleh militan Irlandia dengan cara mengebom hotel tempatnya bermalam, Thatcher akhirnya mesti mengakhiri karir dan mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri.

Stroke lantas mendera sampai memaksa Thatcher menutup mata untuk terakhir kali pada 8 April 2013, saat usianya genap 87 tahun.

Baca Juga  Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api

Digebuki Komentar Miring

Nun jauh dari makam Thatcher, terdapat Bandar Lampung. Belakangan kota ini dikenal lantaran kerap direndam banjir. Tak pelak banyak warganya yang trauma dengan genangan air.

Namun sejatinya bukan hanya warga yang bergidik akan ancaman banjir. Hakulyakin Eva Dwiana, selaku Walikota, pasti memiliki kekhawatiran yang lebih akut atas hal yang sama.

Malah tidak sedikit warga kota yang kerap berseloroh bahwa setiap kali membuka mata dari tidur, doa pertama yang dipanjatkan Sang Walikota ialah jangan sampai hujan lebat berlama-lama.

Sangat mungkin Eva cemas kalau doanya tak terkabul, lantas hujan mengguyur kota dan itu berarti banjir bakal tumbuh bak jamur, menjalar cepat di banyak tempat.

Bila banjir ternyata memang terjadi, jangan pikir Eva akan berbaring sambil menahan kepalanya yang pusing seraya  meratapi doanya yang tak makbul.

Sebaliknya, menurut pengakuan sebagian lurah dan camat, setiap kali hujan deras menyergap, mereka tidak boleh jauh dari ponsel. Karena boleh jadi Walikota bakal menghubunginya untuk koordinasi seputar situasi.

Kalau ada banjir tak terkendali, tak butuh waktu lama Eva pun gercep otewe ke TKP. Kendali komando penanganan langsung dia ambil alih. Soal gambaran ini ada banyak medsos yang telah memvisualisasikannya.

Namun peribahasa bilang,  “Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak”. Kendati sudah jibaku mencoba menangani banjir, apa daya banjir seolah lebih dulu teken kontrak akan kerap bertandang menyambangi pemukiman warga.

Tak pelak banjir kembali datang lagi dan lagi. Warga kembali dipaksa menerima dampaknya. Bahkan, bukan hanya harta yang melayang. Tak sedikit nyawa anggota masyarakat ikut tak terselamatkan.

Kalau sudah begini dijamin Eva bakal menuai hujatan dari seantero kalangan. Terutama di medsos. Umpatan yang dilontarkan bukan lagi level pedas, tapi sudah mengarah pada cacian kotor. Sebutek genangan banjir.

Pada kritikan lain, Eva juga disebut berperilaku seperti Sisyphus dalam mitologi Yunani. Di mana dia dipaksa menggulirkan batu ke puncak bukit yang curam, namun setiap kali hampir mencapai puncak, batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah, membuat usahanya sia-sia.

Baca Juga  Saat Struktur Lebih Gemuk dari Kinerja: Lampung Barat Butuh Perombakan

Itu dianggap sama seperti tindakan Eva yang selama ini melakukan pengendalian banjir secara parsial. Satu titik dibenahi, hujan datang, banjir kembali menggenangi.

Sebab, air berjalan mengarungi lintasan. Kalau mau dibenahi, ya mestinya seluruh lintasan yang perlu dioprek. Harus komprehensif.

Dijadikan samsak sedemikian rupa lantas membuat mental Eva kena tohok? Mungkin iya, bisa juga tidak. Tidak ada yang tahu pasti tentang ini. Hanya saja yang bisa disaksikan dan dipastikan, Eva tetap kedapatan kerap wara-wiri mendatangi titik-titik rawan banjir.

Bukan sebatas meninjau, dia lantas menggerakkan tangan menunjuk ke saluran air atau sungai yang perlu ditangani. Supaya saat hujan datang air bisa lancar mengalir. Jangan sampai meluap dan keluyuran ke mana-mana.

Mendadak Merapat

Ada hasilnya? Tentu ada. Tapi resep ini terbukti belum menyembuhkan secara tuntas. Banjir masih keranjingan show of force.

Hanya saja walau berhasil menerobos pintu, lalu singgah ke ruang tamu, lantas menggenangi setiap sudut rumah warga dan menghanyutkan banyak panci kesayangan emak-emak, tapi aliran banjir yang mirip air bah tidak berhasil memukul mundur Eva hingga surut ke sudut ring. Apalagi sampai melempar handuk putih tanda menyerah. Tak terdengar kata “ampun” dari mulutnya.

Benar, Eva kemudian memang mencari kawan sejalan untuk penanganan banjir di ibu kota Provinsi Lampung ini. Dia rapat koordinasi dengan Pemprov, juga dengan pihak Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWSMS) yang belakangan menyulut kekecewaan Eva, dan kemudian dilampiaskan melalui ekspresi pelapalan kata “Bohong” tepat di “depan hidung” orang yang disasar.

Pada momen ini Eva bukan hanya tampak to the point. Lebih dari itu ia sudah to “jlebbb” point, langsung ke sasaran tembak. Tak pelak potongan video-nya semarak beredar. Mudah ditebak, lagi-lagi publik kompak ngegerundelin sikap Eva yang dianggap keras.

Tapi seorang narasumber internal di Pemkot bilang, bahwa ucapan itu bisa meluncur dari mulut Eva lantaran BBWSMS dianggap tidak konsisten.

Di  depan media ngomong mau membantu mitigasi banjir. Tapi setelah itu tidak ada follow up. Eva menganggapnya cuma NATO (no action talk only) alias ngomong doang.

Alhasil, terbangun narasi di publik seakan Eva yang tidak bisa diajak bekerja sama. Sebab lebih demen “nyolo” alias show force sorangan wae. Di situ tombol mode ofensif Eva menyala.

Baca Juga  MBG Lampung Gamang Wujudkan Asta Cita Prabowo

Meski narasinya sudah digoreng sedemikian rupa, agaknya Eva tak menggubris. Dia malah mengaku sudah melaporkan kondisi ini ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Sampai kemudian Selasa (5 Mei 2026) terbetik kabar di pemberitaan kalau pemerintah pusat, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mengalokasikan dana Rp5 miliar untuk Bandar Lampung.

Duit tersebut diperuntukkan khusus penyusunan masterplan penanganan banjir. Menanggapi itu Eva semringah sambil berucap, “Ini rezeki Bandar Lampung”.

Semenjak itu, Eva yang biasanya hanya nyolo mengurusi mitigasi banjir, sekarang mulai sibuk meladeni banyak pihak. Ada yang kepingin diskusi atau menawarkan konsep mitigasi. Ada pula yang menegaskan spirit bersinergi.

Pada titik ini publik mesti fair, jibaku Eva membuahkan hasil. Kendati pasti tetap ada yang mau sorongkan komentar miring, bahwa pusat datang mengulurkan tangan karena peduli nasib rakyat. Dengan kata lain, solusi penanganan banjir datang bukan semata karena Eva.

Tapi kalangan yang mengapresiasi upaya Eva bisa juga menyahut. Itu semua cuma cara. Dan yang terpenting ending-nya

Mungkin karena melihat Eva berjibaku dan jumpalitan tangani banjir seorang diri, akhirnya kabar itu sampai ke Presiden Prabowo. Sebagai mantan prajurit jiwa ksatrianya terpanggil.

Presiden tak rela melihat seorang perempuan berjuang sendiri. Maka tanda simpati pun terejawantah dalam bentuk anggaran.

Sahut-sahutan komentar serupa itu sah-sah saja berlangsung. Tapi sangat mungkin Eva kini sudah sedikit lega, dan tidurnya bisa lebih pulas.

Lalu saat pagi datang, sebelum memulai aktivitas, dia mestinya menyempatkan diri untuk membaca buku “Margaret Thatcher -the Authorized Biography”.

Ini memang buku lawas. Mungkin agak sulit dicari. Kalau memang tidak ketemu, bisa pinjam bukunya ke saya. Huff…!(*)

Berita Terkait

Sekber Pantau MBG Lampung, “Nggak Ada Gunanya?”
Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Minta MBG Berlanjut Puluhan Tahun, Gurih ya?
Saat Keputusan Gubernur Tentang MBG Lampung Diteken, Ratusan Siswa Keracunan
MBG Lampung Beruntung “Dikawal” Duet Kakak Beradik
MBG Lampung Gamang Wujudkan Asta Cita Prabowo
Birokrasi Gemuk, Kinerja Kurus: Lampung Barat Terjebak Ilusi Efisiensi
Lampung Dapat Apa dari MBG?

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 22:03 WIB

Giri Akbar, Kunjungan Wapres Perkuat Sinergi Pusat dan Daerah

Jumat, 8 Mei 2026 - 09:55 WIB

Koperasi IJP Gandeng Kelompok Tani Lampung Timur Kembangkan Magot Bernilai Ekonomi

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:29 WIB

DPRD Lampung Minta Pengawasan Ketat Hewan Kurban

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:45 WIB

Jalan Mulus hingga Perbatasan, Gubernur Lampung Resmikan Groundbreaking Ruas Brabasan-Wiralaga

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:27 WIB

Kasus HIV di Lampung Meningkat, DPRD Lampung Desak Pemerintah Perkuat Edukasi dan Pencegahan

Rabu, 6 Mei 2026 - 15:44 WIB

Inovasi RMDku, Cara Lampung Dongkrak Akurasi IPM

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:47 WIB

Sekber Konstituen Dewan Pers Segera Gelar Sarasehan “Lampung Mau Dibawa Ke Mana?”

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pupuk Subsidi Mandek di Lampung Tengah, Miswan Rody Endus Permainan Kotor Oknum

Berita Terbaru

Celoteh

Bunda Eva (Memang) Bukan Margaret Thatcher

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:53 WIB

Pringsewu

468 Jamaah Haji Pringsewu Resmi Diberangkatkan

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:31 WIB

Lainnya

Skandal Setoran TPP Guru TK Tanggamus Terbongkar

Jumat, 8 Mei 2026 - 12:51 WIB