Tulangbawang Barat (Netizenku.com): Tubaba Art Festival (TAF) ke-6 bakal dimeriahkan dengan penampilan anak-anak potensial yang mementaskan seni teater mengangkat sosok Bunian.
Hal tersebut disampaikan Direktur Sekolah Seni Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Semi Ikra Anggara, saat melakukan konferensi pers di Kafe Space Nughik, Komplek Uluan Nughik, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kamis (3/11).
Diketahui, sosok Bunian merupakan sebuah makhluk mitologi yang sering diucapkan oleh Bupati Tubaba periode 2017-2022, Umar Ahmad saat menyampaikan sambutan diberbagai acara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Teater anak adalah karya yang durasi penciptaanya paling panjang dalam festival ini, bocah-bocah berusia 6-15 tahun berlatih hampir satu tahun demi mementaskan lakon “Bunian” sebuah lakon pendidikan karakter yang memunculkan watak hantu baik yang mengajarkan respek, sopan santun, solidaritas dan kecintaan terhadap lingkungan,” ujarnya kepada sejumlah wartawan.
Ia menjelaskan, teater ini ramai dengan tarian, musik dan permainan aktor-aktornya yang natural. Sedangkan pameran Seni Rupa Anak, kembali akan memamerkan karya “Perjalanan Karet”, sebuah karya seni rupa lintas media berdasarkan riset kehidupan sehari-hari masyarakat petani karet di Tubaba.
Ia mengatakan, beberapa karya berupaya membuat terobosan estetika; karya tari Site Specifik akan dipentaskan di pasar ikonik besutan Andra Matin, Pasar Pulung Kencana. Para penari memungut berbagai tanda yang terhampar dari ruang dan fenomena pasar lantas dipresentasikan melalui vocabulari gerak hasil temuan mereka sendiri;
Selain beberapa karya tersebut, lanjutnya, masih banyak beberapa penampilan kesenian, workshop dan lokakarya. Di antaranya adalah: pameran keramik di Studio Tanoh Nughik, peluncuran buku antologi puisi-cerpen siswa-siswi Tubaba, pertunjukan musik dari Jogja kembali, sebuah kelompok musik Hibrida yang digawangi mahasiswa dan mahasiswi Tubaba yang sedang menempuh pendidikan seni musik di kota Jogjakarta, pemutaran film karya komunitas, dan beberapa lokakarya.
Perlu diketahui, kata Semi, TAF yang keenam ini tidak diselenggarakan Sekolah Seni bersama dengan Pemkab Tubaba. Tapi diselenggarakan oleh Sekolah Seni Tubaba atau yayasan pendidikan seni dan ekologi sendiri.
“Kami mendapatkan dana hibah sebesar Rp400 juta. Untuk menyelenggarakan kegiatan ini,” kata dia.
Diketahui, kegiatan TAF yang keenam ini diproyeksikan terwujud secara trilogis, diadakan dari tahun 2022, 2023, dan berakhir di 2024. Dengan mengusung tema utama “SELF & SPACE”, festival ini meneguhkan dua hal yaitu persoalan diri dan ruang: hubungan antara seseorang dan hunian yang saling membentuk dan dibentuk.
TAF akan dilaksanakan dari tanggal 4 sampai 6 November 2022. Dan digelar secara tersebar di berbagai venue: Kota Budaya Uluan Nughik, Tiyuh-tiyuh, Studio Tanoh Nughik, Bioskop Bekas Sinar Jaya, Sesat Agung Bumi Gayo Ragem Sai Mangi Wawai dan Pasar Pulung Kencana.
Kata Semi, Sub tema tahun ini adalah “Terrace of Awareness”: bahwa pelataran teras, yang dibayangkan sebagai ruang terdepan dari sebuah rumah adalah tempat dimana aktivitas perkenalan/ perjumpaan bermula, maka teras menjadi pilihan untuk memulai festival sebagai undangan berkunjung: berjumpa dan bercengkerama dalam perayaan kesenian.
Teras kesadaran adalah upaya tubaba untuk memperkenalkan segala kesenian yang telah diracik dan dimasak hampir sepanjang tahun di dalam “Rumah Tubaba” untuk kemudian disajikan kepada para warga dan tamu festival, yang terbagi menjadi tiga menu utama: pertunjukan, pameran/pemutaran film dan lokakarya.
Adapun, beberapa kegiatan yang akan dilakukan selama tiga hari yakni, pembukaan dengan persembahan tari Sigeh Penguten, menyanyikan lagu Indonesia Raya, sambutan Direktur Sekolah Seni Tubaba dan Pj Bupati.
Dilanjutkan dengan Bazar UMKM, Open House Rumah Badik, Open House Tubaba Cerdas, pameran seni rupa A dan B. Pameran Keramik Tanoh Nughik yang dilaksanakan selama acara berlangsung.
Kemudian, penampilan musik akustik, launching sekaligus diskusi buku yang berjudul Utara Selatan Sungai dan Rahasia Kesaktian Raja Tua dan Workshop Keramik. Serta di malam hari pertunjukan musik Ijotafara dan pemutaran film.
Hari kedua, penampilan teater musikal anak Bunian, musik Jogja Kembali. Dan di hari ketiga, pelaksanaan potong nasi tumpeng, pementasan tari Nenemo, dan pementasan tari Site Specific Dance Pasar Pulung. (Arie/Leni)








