Tukang Fotokopi Pun Tahu Itu

Luki Pratama

Selasa, 9 Juli 2024 - 17:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi tukang fotokopi. (Foto: Pinterest)

Ilustrasi tukang fotokopi. (Foto: Pinterest)

“Siapa yang tidak tahu? korupsi itu sudah biasa dan turun menurun, dari jadi staf saja sudah berusaha mencari keuntungan pribadi. Lumrah.” Begitu kiranya yang dikatakan oleh tukang fotokopi (sebutan pelaku usaha fotokopi).

Siapa menyangka, di balik bayangan omset besar dari usaha fotokopi yang dijalankan di lingkungan pemerintahan.

Terbentang realita pahit praktik kecurangan yang menjerumuskan para pelaku usaha ke dalam dilema moral.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jauh dari kesan mudah dan menguntungkan, mereka dihadapkan pada pilihan sulit antara mendapatkan keuntungan secara finansial atau tetap menegakkan moralitas serta integritas.

Seperti halnya yang terjadi di berbagai usaha fotokopi di sekitaran lingkungan Kantor Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung.

Di lingkungan pemerintahan tertinggi di Lampung itu, tukang fotokopi dipaksa tutup mata dan menelan pil pahit saat mendapati oknum pegawai pemerintah yang mencoba berbuat curang dengan meminta menaikkan nilai nota jasa secara drastis. Tentunya tidak sesuai dengan harga sebenarnya.

Bayangkan saja, nominal jasa fotokopi yang seharusnya hanya menghabiskan Rp200 ribu dimanipulasi menjadi Rp10 juta.

Oknum pegawai pemerintah berseragam coklat yang sebenarnya telah dibayar mahal oleh pemerintah itu pun rela meminta stempel toko untuk melegalisir nota guna memuluskan aksi manipulatif nya.

Situasi seperti itu telah menghadirkan dilema yang cukup besar bagi para pengusaha fotokopi di lingkungan pemerintah.

Di satu sisi, mereka sadar bahwa tindakan tersebut merupakan praktik penunjang terjadinya korupsi yang merugikan negara dan bertentangan dengan nilai moral.

Namun disisi lain, para pelaku usaha itupun dihantui rasa takut kehilangan pelanggan setia, ketika mereka menolak permintaan pelegalan manipulasi nominal nota fotokopi.

Kendati demikian, di tengah godaan besar dan pasar usaha fotokopi yang menganggap lumrah praktik-praktik manipulasi nota. Masih adapula pengusaha fotokopi yang teguh memegang prinsip dengan berlaku jujur dalam menjalankan usahanya.

Para pengusaha fotokopi yang berprinsip ini memilih untuk menolak permintaan oknum, meskipun beresiko kehilangan pelanggan.

Sebab, bagi mereka risiko besar kehilangan konsumen di tengah pasar usaha fotokopi yang melegalkan praktik-praktik tidak jujur tersebut tidak sebanding dengan rezeki yang halal. Bukan mengejar keuntungan sesaat.

Bila dilihat lebih dalam praktik curang tersebut tidak hanya merugikan para pengusaha fotokopi secara finansial, tetapi juga melukai harga diri mereka.

Penulis menilai praktik manipulasi nota dengan keuntungan yang sedikit menimbulkan celah dosa sangat bertentangan dengan aturan agama. Itu juga yang dirasakan oleh pelaku usaha fotokopi.

Sayangnya meski aturan agama telah jelas melarang praktik yang tidak menjunjung nilai kejujuran, penawaran untuk menaikkan harga oleh oknum tetap terjadi di berbagai tempat usaha fotokopi yang berada di lingkungan Pemprov Lampung.

Adanya hal tersebut pun telah membentuk persepsi publik terutama para pelaku usaha fotokopi menyoal tindakan korupsi di tingkat pejabat tinggi pemerintahan akan terus terjadi.

Lantaran tindakan manipulasi dengan nominal yang tak seberapa menjadi tindakan wajar para pegawai pemerintah yang mungkin belum memiliki jabatan tinggi. Apalagi ketika mereka nanti sudah menduduki jabatan strategis, bisa lebih besar lagi memanipulasi keuangan demi keuntungan pribadi.

Timbul pertanyaan dibenak penulis. Bisa jadi semua mengetahui praktik curang tersebut? Bahkan tukang fotokopi pun tahu praktik itu. (*) 

Berita Terkait

Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain
Tahun Baru di Bawah Bayang Siklon: Lampung Diminta Waras di Tengah Euforia
Ekonomi Lampung dan Ilusi Stabilitas (Bagian 3in3)
Kadalistik Kebijakan dan Produksi Citra di Lampung (Bagian 2 in 3)
Penghargaan dan Anomali Fiskal Lampung (Bagian 1 in 3)

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:45 WIB

80 KK di Way Laga Terima Bantuan Air Bersih

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:42 WIB

Pemkot Bandar Lampung Rotasi Pejabat, Dua Camat Dilantik

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:35 WIB

Pemkot Bandar Lampung Siapkan Rp2,5 Miliar untuk Olok Gading

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:25 WIB

Eva Dwiana Siapkan Strategi Hadapi Banjir

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:20 WIB

Bandar Lampung Expo 2026 Jadi Inspirasi Peluang Usaha

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:15 WIB

Kebakaran Lahap Bengkel dan Toko Elektronik di Kedaton

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:11 WIB

Pemkot Bandar Lampung Targetkan PAD 2027 Rp1,164 Triliun

Senin, 20 Juli 2026 - 17:27 WIB

Konvoi 30 Jeep PPM Jadi Magnet Festival Budaya HUT ke-344 Kota Bandar Lampung

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Tubaba Gandeng Telkom University Bangun Pertanian Cerdas Berbasis AI dan IoT

Rabu, 29 Jul 2026 - 13:10 WIB

Oplus_131072

Tulang Bawang Barat

Kadisdikbud Tubaba Dorong Sekolah Perkuat Refleksi Program

Rabu, 29 Jul 2026 - 12:03 WIB

Bandarlampung

80 KK di Way Laga Terima Bantuan Air Bersih

Rabu, 29 Jul 2026 - 11:45 WIB