Kadalistik Kebijakan dan Produksi Citra di Lampung (Bagian 2 in 3)

Ilwadi Perkasa

Rabu, 24 Desember 2025 - 01:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anomali Fiskal (Ilustrasi.iwa)

Anomali Fiskal (Ilustrasi.iwa)

Jika pada tulisan sebelumnya persoalan penghargaan dibaca sebagai masalah representasi fiskal, maka pada titik ini pertanyaannya bergeser, mengapa anomali semacam itu bisa terus berulang dan diterima sebagai sesuatu yang wajar? Jawabannya tidak berdiri pada satu kebijakan atau satu penghargaan, melainkan pada sebuah pola yang kian menguat dalam praktik pemerintahan daerah: apa yang dapat disebut sebagai kadalistik kebijakan.

Kadalistik, dalam konteks ini, bukanlah kebohongan terbuka. Ia bekerja lebih halus. Data tetap digunakan, indikator tetap dirujuk, dan bahasa kebijakan tetap terdengar teknokratis. Namun realitas disesuaikan dengan kebutuhan citra. Kategori dipilih secara selektif, konteks dipersempit, dan capaian dipresentasikan seolah berdiri di atas fondasi yang lebih kokoh daripada keadaan sebenarnya.

Di Lampung, pola ini menemukan ruang suburnya. Ketika kapasitas fiskal masih terbatas, ketergantungan pada transfer pusat tinggi, dan struktur ekonomi belum bertransformasi secara signifikan, narasi keberhasilan justru bergerak lebih cepat daripada perbaikan struktural itu sendiri. Penghargaan menjadi instrumen penting dalam proses ini, bukan sebagai alat evaluasi, melainkan sebagai alat legitimasi.

Baca Juga  Soroti Pajak Air Permukaan, DPRD Lampung Minta Pengawasan Perusahaan Diperketat

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peran OPD tidak bisa dilepaskan dari mekanisme tersebut. Dalam sistem birokrasi yang kian menekankan kinerja simbolik, OPD dituntut bukan hanya bekerja, tetapi juga menceritakan kerja. Laporan kinerja, bahan presentasi, dan rilis keberhasilan disusun dengan logika yang sama, yakni menonjolkan apa yang bisa ditonjolkan, dan mengecilkan apa yang belum selesai. Ini bukan pelanggaran administratif, tetapi pilihan politis dalam ruang abu-abu kebijakan.

Masalahnya, ketika pilihan ini dilakukan secara sistemik, ia menciptakan jarak antara realitas ekonomi dan narasi pembangunan. Penurunan kemiskinan, misalnya, lebih sering dirayakan sebagai bukti keberhasilan kebijakan, ketimbang dibaca sebagai sinyal bahwa daya tahan masyarakat masih diuji oleh mahalnya biaya hidup, sempitnya lapangan kerja formal, dan rendahnya nilai tambah sektor ekonomi utama. Keberhasilan dipersempit menjadi angka, sementara struktur yang melahirkan angka itu jarang disentuh.

Baca Juga  Imelda Dorong Kepastian Usaha Peternak Telur

Di sinilah ekonomi politik Lampung perlu dibaca ulang. Selama sektor primer tetap dominan, hilirisasi berjalan lambat, dan PAD tidak tumbuh signifikan, kapasitas fiskal daerah akan terus rapuh. Dalam kondisi seperti ini, produksi citra menjadi lebih murah daripada reformasi struktural. Penghargaan lebih mudah diraih daripada memperluas basis pajak daerah atau meningkatkan produktivitas ekonomi.

Pers memiliki posisi krusial dalam lingkaran ini. Ketika penghargaan diberitakan apa adanya, tanpa konteks fiskal dan ekonomi, pers, sadar atau tidak, ikut memperkuat kadalistik kebijakan. Bukan karena pers berpihak, tetapi karena logika kejar tayang dan akses informasi sering kali lebih cepat daripada proses verifikasi struktural. Akibatnya, publik menerima versi realitas yang sudah dipoles, bukan realitas yang utuh.

Baca Juga  Gubernur Lampung, Kemerdekaan Harus Dirasakan Masyarakat melalui Pembangunan yang Nyata

Fenomena ini berbahaya bukan karena ia sepenuhnya salah, tetapi karena ia terlalu nyaman. Kadalistik kebijakan menciptakan ilusi bahwa Lampung sedang baik-baik saja, padahal tantangan mendasarnya belum berubah. Ketika kritik muncul, ia mudah dipatahkan dengan daftar penghargaan. Ketika pertanyaan fiskal diajukan, ia diredam dengan narasi keberhasilan sektoral.

Padahal, pembangunan daerah tidak diukur dari seberapa sering ia diapresiasi, melainkan dari seberapa kuat ia bertahan tanpa pujian. Selama kapasitas fiskal Lampung belum benar-benar menguat, selama ekonomi daerah belum naik kelas, dan selama kemiskinan masih menjadi persoalan struktural, maka setiap penghargaan seharusnya dibaca dengan kehati-hatian.

Kadalistik kebijakan bukan soal niat buruk, melainkan soal kebiasaan yang dibiarkan. Jika tidak dikoreksi, ia akan terus memproduksi citra yang menenangkan, tetapi menjauhkan Lampung dari debat yang paling penting: apa yang benar-benar perlu diubah, bukan sekadar apa yang bisa dirayakan

Bersambung…

.***

Berita Terkait

BPBD Lampung Siap Bantu Korban Gempa NTT
Atap Rapuh, Mimpi Anak Way Kanan Tak Boleh Runtuh
Gubernur Lampung Ikuti Upacara Detik Detik Proklamasi Secara Virtual
Gubernur Lampung, Kemerdekaan Harus Dirasakan Masyarakat melalui Pembangunan yang Nyata
Pengusaha Jambi Laporkan Dugaan Penipuan Proyek Fiktif Rp465 Juta ke Polda Lampung
Konflik PT BSA Memanas, Wahrul Desak Pemerintah Pusat Turun Tangan
Putra Jaya Umar, Antara Kebun, Petani, dan Tanggung Jawab Sebagai Wakil Rakyat
Pulung Kencana Berseru, Putra Jaya Umar Siap Kawal Jalan hingga Sumur Bor

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bandar Lampung Peroleh Bantuan 300 Bedah Rumah BSPS

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:30 WIB

Pemkot Ajak Warga Jaga Kerukunan, Rawat Perbedaan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:51 WIB

Pemkot Perkuat Tata Kelola Program

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:19 WIB

1,19 Juta Wisatawan Datang ke Bandar Lampung

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:17 WIB

292 Alat Bantu untuk Warga Bandar Lampung

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:26 WIB

PSEL Lampung Raya Mulai Dimatangkan

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:23 WIB

Kodam XXI/Radin Inten Genap Satu Tahun

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:04 WIB

Solar Tumpah, Jalan Saleh Raja Kusuma Licin

Berita Terbaru

Lampung

BPBD Lampung Siap Bantu Korban Gempa NTT

Selasa, 18 Agu 2026 - 18:23 WIB

Lampung

Atap Rapuh, Mimpi Anak Way Kanan Tak Boleh Runtuh

Selasa, 18 Agu 2026 - 15:38 WIB