Selamat Tinggal Singkong, Tapi Jangan Tinggalkan Petaninya

Ilwadi Perkasa

Minggu, 14 September 2025 - 06:14 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

“Singkong boleh ditinggalkan, tapi jangan petaninya.
Harga turun, hasil tak sebanding. Saatnya pikirkan jalan keluar tanpa meninggalkan mereka yang memberi makan negeri.”

“Singkong boleh ditinggalkan, tapi jangan petaninya. Harga turun, hasil tak sebanding. Saatnya pikirkan jalan keluar tanpa meninggalkan mereka yang memberi makan negeri.”

Harga singkong di Lampung terus merosot, membuat banyak petani dan pemerintah berada di ambang putus asa. Alih tanam mengganti komoditas mungkin bisa jadi jalan keluar. Namun yang lebih penting adalah memastikan petani tetap punya harapan, akses, dan keuntungan. Sebab singkong boleh saja ditinggalkan, tapi petaninya tidak boleh ikut terpuruk. (Catatan untuk Gubernur Lampung Rahmat Mirzani).

***

Dorongan beralih ke komoditas lain tentu masuk akal. Padi dan jagung relatif stabil karena harga dijamin pemerintah dan pasarnya jelas. Secara makro, kebijakan ini selaras dengan program ketahanan pangan nasional. Tetapi di lapangan, alih komoditas tidak bisa dilakukan dengan mudah.

Masalahnya, alih tanam itu pasti menimbuilkan tantangan di lapangan. Ketersediaan air menjadi hambatan terbesar. Lahan singkong Lampung mayoritas tadah hujan dan jauh dari irigasi teknis. Untuk mengubahnya menjadi sawah atau ladang jagung, diperlukan investasi besar sumur bor, pompa, hingga bendungan kecil. Tanpa itu, imbauan alih tanam hanya akan menambah beban petani. Supaya efisien, barangkali untuk padi bisa dimulai dari Padi Gogo (tadah hujan)

Baca Juga  Pemprov Lampung Perkuat SAKIP dan Zona Integritas 2026

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Selain itu, ada masalah keterampilan dan kesiapan pasar. Bertahun-tahun petani terbiasa dengan singkong. Beralih ke padi dan jagung berarti mereka harus belajar tentang bibit, pupuk, teknologi, hingga akses pasar. Tanpa pendampingan intensif, risiko kerugian di tahun-tahun awal justru besar.

Jika alih komoditas dianggap jalan keluar, Pemprov Lampung tidak boleh sekadar memberi imbauan. Perlu langkah konkret seperti pemetaan lahan untuk menentukan wilayah singkong yang potensial dialihkan ke padi atau jagung, terutama yang dekat dengan sumber air.

Baca Juga  Kasus HIV di Lampung Meningkat, DPRD Lampung Desak Pemerintah Perkuat Edukasi dan Pencegahan

Perlu adanya program infrastruktur air masif melalui sumur bor, irigasi sederhana, dan bendungan kecil. Petani juga butuh subsidi benih, pupuk, dan pelatihan agar petani tidak tersandung biaya dan keterampilan.

Diversifikasi juga bisa menjadi pilihan. Sebagian lahan tetap ditanami singkong, sebagian lainnya dicoba untuk padi atau jagung. Dengan begitu, petani punya pegangan ganda dan tidak kehilangan identitas sekaligus.

Perbandingan Potensi

Singkong: produktivitas 20–25 ton/ha, harga jual Rp900–Rp1.200/kg, keuntungan bersih Rp10–20 juta/ha/tahun.

Baca Juga  Pemprov Lampung Segera Terapkan Kebijakan Bayar Pajak Kendaraan Tanpa KTP Sesuai STNK

Padi: produktivitas 5–6 ton/ha per musim, dua musim tanam, keuntungan bersih Rp35–50 juta/ha/tahun.

Jagung: produktivitas 6–8 ton/ha per musim, dua musim tanam, keuntungan bersih Rp30–45 juta/ha/tahun.

Secara ekonomi, padi dan jagung memang lebih menjanjikan. Tapi angka-angka ini hanya bisa tercapai bila ada air, teknologi, dan pasar yang mendukung.

Kesimpulannya, arah kebijakan alih komoditas mungkin logis, tetapi tanpa dukungan modal dan infrastruktur besar, itu hanya retorika. Lampung butuh sinergi pemerintah pusat, BUMN, dan swasta untuk mewujudkannya. Yang terpenting, kebijakan ini harus berpihak pada petani.

Karena pada akhirnya, singkong boleh ditinggalkan, tapi jangan petani yang selama ini telah memberi makan negeri.

Berita Terkait

HUT Bandar Lampung ke-344, Budiman As Minta Drainase dan Wisata Jadi Prioritas
BBM Non-Subsidi Naik, DPRD Lampung Ingatkan Efek Domino ke UMKM dan Daya Beli
APBD Seret Bukan Alasan! Warga Linggapura Nekat Bangun Jalan Sendiri
Budiman AS Ramaikan Bursa Calon Ketua DPD Partai Demokrat Lampung
Demo Mahasiswa di Pemprov Lampung Memanas, Massa Desak Masuk Halaman Kantor
Menuju Pesantren Ramah Anak, PKB Lampung Gagas Sistem Perlindungan Santri
Ketok Palu! DPRD Targetkan 16 Raperda Prioritas dalam Propemperda Lampung 2026
Lampung Raih WTP ke-12 Berturut-turut

Berita Terkait

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:39 WIB

HUT ke-344 Kota Bandar Lampung, Pemuda Panca Marga Raih Penghargaan di Momen Menuju Indonesia Emas

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:53 WIB

Sidang Paripurna HUT Bandar Lampung Diwarnai Aksi Molor Anggota Dewan

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

HUT Bandar Lampung ke-344, Wali Kota Eva Dwiana Minta Pemuda Lanjutkan Perjuangan Pahlawan

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:04 WIB

Solusi Banjir Kota Bandar Lampung, Forum DAS Siapkan 1.500 Titik Prioritas

Selasa, 28 April 2026 - 18:08 WIB

Smart BRT Itera, Model Transportasi Masa Depan Lampung

Jumat, 24 April 2026 - 19:40 WIB

Baru 50 Persen SPPG di Bandar Lampung Kantongi SLHS

Selasa, 21 April 2026 - 13:20 WIB

3 Konstituen Dewan Pers di Lampung Bentuk Sekretariat Bersama

Senin, 22 Desember 2025 - 14:24 WIB

Pompa Air di Perum Bukit Beringin Raya Rusak, Kadis Perkim Minta PT Sinar Waluyo Tanggung Jawab

Berita Terbaru

Pringsewu

Kemendagri Dukung Pengembangan Mocaf di Pringsewu

Rabu, 17 Jun 2026 - 23:37 WIB