Menelisik Potensi LGBT di Kalangan Pelajar dan Santri

Luki Pratama

Kamis, 20 Juni 2024 - 16:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Psikolog Klinis Lampung, Indah Dewanti Rahmalia. Foto: Luki.

Psikolog Klinis Lampung, Indah Dewanti Rahmalia. Foto: Luki.

Bandarlampung (Netizenku.com): Psikolog Klinis Lampung, Indah Dewanti Rahmalia, mengungkapkan pondok pesantren (Ponpes) berpotensi menjadi sarang perkembangan perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) jika tidak mendapatkan pengawasan.

Pernyataan ini didasarkan pada keluhan klien yang ia terima selama melakukan konseling.

“Setiap harinya, sekitar 10 persen dari klien merupakan penyandang LGBT,” kata dia kepada awak media, Kamis (20/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari 10 persen pasien penyandang LGBT itu, kebanyakan masih dibawah 17 tahun. Berstatus pelajar dan ada sebagian yang menempuh pendidikan alternatif Ponpes.

Dijelaskannya, ada dua tipologi homosexual. Pertama dia nyaman ketika berhubungan dengan sesama jenis hingga terbawa perasaan, yang kedua dikarenakan faktor tidak ada tempat untuk menyalurkan hasrat sexual yang terlalu tinggi.

Baca Juga  PFI Lampung Kecam Teror Senpi terhadap Wartawan di Tulang Bawang, Minta Polisi Usut Tuntas

“Sedangkan kondisinya hanya ada sesama jenis. Faktor kedua itu kerap terjadi di lapas maupun di Ponpes yang notabene satu asrama isinya sesama jenis,” jelasnya.

Selain itu, tambahnya, menurut teori Freud, memang setiap manusia memiliki bibit untuk menyukai sesama jenis. Hanya saja tidak semua orang mengalami pertumbuhan perasaan tersebut.

“Suka kan tidak harus arah romantis ya. Jadi sebenarnya tergantung bagaimana cara menempatkan rasa suka tersebut,” tambahnya.

Oleh sebab itu Indah meminta orang tua harus lebih waspada lagi memperhatikan anaknya supaya tidak terjerumus ke perilaku yang menyimpang.

“Orang tua harus dapat membangun keterbukaan dengan anak dan harus diajarkan pendidikan seksual sejak dini,” harapnya.

Menurutnya saat ini memang penyandang LGBT mengincar pelajar. Tidak seperti dulu lagi.

“Faktor gawai juga mempengaruhi. Bahkan banyak ditemukan pada pria dewasa yang memang sengaja mereka mengincar anak dibawah umur 17 tahun,” pungkasnya.

Baca Juga  Banggar DPRD-TAPD Lampung Sepakati Perubahan APBD 2026, SiLPA Naik Rp94,3 Miliar

Sementara itu, satu diantara santri Ponpes di Provinsi Sai Bumi Ruwa Jurai membenarkan adanya perilaku menyimpang di lingkungan Ponpes.

Semuanya, jelasnya, berawal menjadi korban pelecehan seksual kemudian merabah menjadi pelaku pelecehan seksual.

“Itu semua karena isinya laki-laki semua, jadi kita seperti memperlakukan lelaki seperti halnya perempuan. Kita cubit, kita sentuh-sentuh,” jelasnya sembari meminta untuk nama Ponpesnya tidak disebutkan.

Pelaku melakukan aksi ketika malam hari saat korban sedang tertidur. Setelahnya seiring berjalannya waktu korban berubah menjadi pelaku pelecehan seksual.

“Bahkan ada yang sampai nyaman dan mengakui mereka saling berpacaran,” tuturnya.

Meski mayoritas melakukan perilaku menyimpang, tetapi tidak semuanya melakukan sodomi.

Baca Juga  Peduli TB Lampung Diluncurkan, Percepat Penemuan Kasus Menuju Eliminasi TB 2030

“Banyak juga yang sampai ke sodomi tetapi tidak semuanya,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (UPTD PPPA) Provinsi Lampung, Ria Melanie, membenarkan adanya perilaku menyimpang dilingkungan pendidikan maupun Ponpes.

Kasus kekerasan di lingkungan Ponpes sering kali didasari oleh relasi kuasa. Instansi pendidikan tersebut merupakan salah satu penyumbang kasus kekerasan seksual di Lampung.

“Ada kasus sodomi. Kebanyakan pelaku menggunakan relasi kuasa,” kata dia.

Ia juga meminta orang tua untuk membekali anak pendidikan seksual dan berani terbuka ketika menjadi korban pelecehan seksual.

“Jangan dianggap tabu lagi seks. Orang tua harus memberikan pendidikan seperti, mana saja bagian tubuh yang boleh disentuh dan mana saja yang tidak boleh,” tutupnya. (Luki)

 

Berita Terkait

Lampung Mulai Bangun Ekosistem Bioetanol untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Mikdar Ilyas Dorong Pengawasan Beras Premium untuk Lindungi Konsumen
Antrean Solar Meluas, DPRD Lampung Dorong Penambahan Kuota BBM Bersubsidi
Gubernur Mirza: Pemimpin Harus Pahami Pasal 33 UUD 1945 untuk Sejahterakan Rakyat
Pemprov Lampung Bentuk FKLPID, Perkuat Sinergi Dunia Industri dan Pendidikan
BULOG Pastikan Bantuan Pangan Beras Menjangkau Masyarakat Lampung Selatan
98 Kepala Sekolah di Lampung Resmi Dilantik, Sejumlah Jabatan Dirotasi
APBD Perubahan 2026 Lampung Difokuskan Perkuat Program Prioritas dan Pertumbuhan Ekonomi

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 14:12 WIB

Pengurus Baru Pramuka Tulang Bawang Udik Resmi Dilantik, Ini Pesan Tegas Ketua Kwarcab Tubaba

Kamis, 10 September 2026 - 17:19 WIB

DPRD Tubaba Sahkan Raperda APBD-P 2026, Busroni Tegaskan Pengawasan Tak Berhenti di Paripurna

Selasa, 1 September 2026 - 20:09 WIB

Pramuka Tubaba Diminta Jadi Teladan, Bupati Novriwan Soroti Pangan, Disiplin, dan Penanganan Sampah Plastik

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:11 WIB

Kapolres Tubaba Ajak Pers Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:24 WIB

PAD Tubaba Digenjot, Aset Daerah dan Pajak Mulai Dioptimalkan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:24 WIB

HUT ke-25, Demokrat Tubaba Hadir Lewat Aksi Nyata di Tengah Masyarakat

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:36 WIB

Bupati Tubaba: Hilangkan Sekat, Satukan Komando untuk Percepat Pembangunan

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:12 WIB

Bupati Tubaba: Disiplin Kunci Raih Cita-cita

Berita Terbaru