Konflik Agraria Way Lima Memanas, Masyarakat Adat Tantang PTPN I

Soheh

Senin, 19 Januari 2026 - 18:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konflik agraria laten di Kabupaten Pesawaran kembali mencuat. Masyarakat Adat Marga Way Lima secara terbuka menantang negara dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 7 Unit Usaha Way Lima, yang selama puluhan tahun diduga menguasai tanah ulayat adat tanpa penyelesaian hukum yang adil.

Pesawaran (Netizenku.com): Dalam konsolidasi besar yang digelar di Sekretariat Aliansi Masyarakat Pesawaran (AMP), Jalan Raya Kedondong, Desa Gedong Tataan, Senin (19/1/2026), perwakilan masyarakat adat dari Marga Sebadak, Seputih, dan Selimau menyatakan sikap tegas. Mereka menuntut pengembalian tanah ulayat adat seluas kurang lebih 3.000 hektare kepada pemilik sahnya, yakni masyarakat adat Marga Way Lima.

Tidak hanya menyampaikan pernyataan sikap, masyarakat adat juga memastikan akan menggelar aksi unjuk rasa ke Kantor PTPN I Regional 7 Unit Way Lima pada Senin, 26 Januari 2026. Aksi tersebut disebut sebagai bentuk perlawanan terakhir setelah bertahun-tahun aspirasi mereka diabaikan oleh perusahaan dan negara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam forum itu, masyarakat adat secara resmi memberikan kuasa pendampingan kepada tiga tokoh lintas organisasi, yakni Saprudin Tanjung selaku Ketua Aliansi Masyarakat Pesawaran (AMP), Abzari Zahroni selaku Ketua DPP Forum Komunikasi Anak Lampung (FOKAL), dan Okvia Niza selaku Ketua DPD IWO-Indonesia Kabupaten Pesawaran.

Baca Juga  Diduga Bermasalah, FOKAL Soroti Proyek Irigasi BBWS Mesuji Sekampung

Ketua AMP, Saprudin Tanjung, menegaskan bahwa penguasaan tanah adat oleh PTPN merupakan bentuk perampasan hak ulayat yang dilegalkan oleh pembiaran negara.

“Tanah ulayat adat Marga Way Lima ini dikuasai sepihak oleh PTPN I Regional 7. Perjuangan ini sudah dimulai sejak 2018, tetapi negara seolah menutup mata. Tidak ada kejelasan, tidak ada solusi, hanya janji dan diam,” tegasnya.

Ia menilai konflik tersebut bukan sekadar sengketa lahan, melainkan ujian serius bagi komitmen negara dalam melindungi hak masyarakat adat sebagaimana amanat konstitusi.

Nada lebih keras disampaikan Ketua DPP FOKAL, Abzari Zahroni. Ia menyoroti konflik agraria di Lampung yang dinilainya sebagai bom waktu akibat terus dibiarkan tanpa penyelesaian.

“Kasus Way Lima ini hanya satu dari sekian banyak konflik HGU di Lampung. Pemerintah daerah gagal menghadirkan payung hukum yang melindungi masyarakat adat. Perda tentang masyarakat adat dan wilayah ulayat tidak kunjung ada, GTRA pun mandul,” ujar Roni.

Baca Juga  Dua Siswa di Pesawaran Dihentikan MBG Usai Orang Tua Kritik Program

Ia mengingatkan, apabila pemerintah terus bersikap aman dan berpihak pada korporasi, potensi konflik fisik tidak dapat dihindari.

“Mesuji adalah contoh nyata. Gubernur Lampung punya kewenangan strategis untuk berkoordinasi dengan pusat, bahkan mempertimbangkan penghentian HGU perusahaan bermasalah. Pertanyaannya, berani atau tidak?” katanya.

Klaim masyarakat adat diperkuat dengan sejumlah dokumen historis otentik yang mereka miliki. Dokumen tersebut antara lain surat resmi pemerintah kolonial Belanda bersegel tahun 1940 tentang pengembalian tanah ulayat Marga Way Lima, surat wasiat Burhanudin sebagai ahli waris Djais (Khaja Penata Marga), dokumen batas dan luasan tanah adat dari Way Semah Liba hingga Gunung Besar Way Kedondong, serta perjanjian kontrak tanah antara adat dan pemerintah kolonial dengan batas wilayah yang jelas.

Firmansyah, ahli waris Djais yang bergelar Pencalang Pusaka, menegaskan bahwa dokumen-dokumen tersebut merupakan bukti hukum yang sah, bukan sekadar cerita turun-temurun.

Baca Juga  DPRD Pesawaran Tolak Pemanfaatan Lahan Sekolah untuk Program KMP

“Tanah ini pernah dikontrakkan, bukan dijual. Setelah kontrak berakhir, tanah wajib dikembalikan kepada adat. Itu tertulis jelas dalam dokumen,” ujarnya.

Ia juga memaparkan struktur kepemimpinan adat Marga Way Lima yang telah diakui dalam hukum kolonial sejak Undang-Undang Belanda Tahun 1860.

Konsolidasi tersebut turut dihadiri para Saibatin dari berbagai marga, di antaranya Pemuka Agung Bustomi S.P dari Marga Seputih, Muhammad Bahsan dari Marga Selimau, serta Suntan Junjungan Makhga Farifki Zulkarnaiyen Arif dari Marga Badak. Mereka sepakat menyerukan persatuan seluruh kesebatinan Way Lima untuk melawan ketidakadilan struktural.

Sementara itu, Ketua DPD IWO-Indonesia Kabupaten Pesawaran, Okvia Niza, menegaskan komitmen pers dalam mengawal konflik agraria tersebut.

“Kami tidak akan diam. Perjuangan masyarakat adat Marga Way Lima akan terus kami suarakan melalui media sampai pemerintah daerah dan pusat benar-benar turun tangan,” tegasnya. (*)

Berita Terkait

Dua Siswa di Pesawaran Dihentikan MBG Usai Orang Tua Kritik Program
Diduga Bermasalah, FOKAL Soroti Proyek Irigasi BBWS Mesuji Sekampung
PPL bersama Petani Desa Bernung Rayakan Swasembada Pangan
DPRD Pesawaran Pertanyakan Kejelasan Status KMP
DPRD Pesawaran Tolak Pemanfaatan Lahan Sekolah untuk Program KMP
DPD NasDem Pesawaran Rayakan HUT ke-14 dengan Semangat Kebersamaan
Insentif RT di Pesawaran Pakai Dana Desa, AMP Angkat Bicara
Penyadap Karet PTPN Waylima Keluhkan Kerja Malam Tak Manusiawi

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:24 WIB

Hari Keempat, Tim Gabungan Perluas Area Pencarian Mbah Kaliman di Pringsewu

Kamis, 22 Januari 2026 - 19:21 WIB

Sepuluh Personel Polres Pringsewu Terima Satya Lencana Pengabdian dari Presiden RI

Rabu, 21 Januari 2026 - 19:12 WIB

Wabup Pringsewu Resmi Buka Festival Solosong Dangdut KOMDAP Se-Provinsi Lampung 2026

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:05 WIB

Pelaku Penusukan Pedagang di Pasar Sarinongko Sempat Beli Pisau Seharga 5 Ribu

Rabu, 21 Januari 2026 - 18:02 WIB

Modus Jual Beli Motor di Facebook, Residivis Ditangkap Polsek Pringsewu Kota

Selasa, 20 Januari 2026 - 16:02 WIB

Ditolak Mendekati Istri Korban, Pria Tusuk Pedagang di Pasar Sarinongko Pringsewu

Senin, 19 Januari 2026 - 18:06 WIB

Korban Pingsan, Polres Pringsewu Kembalikan Dua Ekor Sapi Hasil Curian

Senin, 19 Januari 2026 - 18:00 WIB

Polisi Ungkap Komplotan Langganan Pencuri Sapi di Pringsewu

Berita Terbaru

Lampung

Pemprov Lampung Siapkan PKN Tingkat II 2026

Jumat, 23 Jan 2026 - 16:52 WIB

Lampung

Kominfo dan PPPA Lampung Perkuat Sinergi PUSPAGA

Jumat, 23 Jan 2026 - 13:06 WIB

Lampung

DPRD Lampung Dukung Rencana Pabrik Rokok HS di Lampung Timur

Jumat, 23 Jan 2026 - 11:35 WIB