Paradoks Wisata Lampung (Bagian II): Berhenti Mengejar Angka, Mulai Membangun Nilai

Ilwadi Perkasa

Minggu, 5 Oktober 2025 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Paradoks Wisata Lampung: Ramai di Jalan, Sepi di Hotel

Paradoks Wisata Lampung: Ramai di Jalan, Sepi di Hotel

Setelah angka-angka pariwisata Lampung menampakkan paradoks besar, wisatawan ramai, tapi hunian hotel menurun, pertanyaan berikutnya adalah mengapa hal itu terjadi dan bagaimana memperbaikinya.

Jawabannya ternyata bukan sekadar soal promosi yang lemah, tetapi soal arah kebijakan yang keliru, yakni Lampung terlalu lama mengejar kuantitas kunjungan, bukan kualitas pengalaman.

Wisata Lampung kini didominasi oleh perjalanan harian dari kabupaten sekitar. Warga dari Lampung Tengah, Metro, dan Tanggamus datang ke kawasan pesisir seperti Pesawaran, Bandarlampung, dan Lampung Selatan hanya untuk satu hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka berfoto di pantai, menikmati kuliner cepat, lalu kembali sore harinya. Pola one-day trip ini memang meningkatkan angka mobilitas, tetapi tidak menambah pendapatan signifikan bagi hotel, restoran, atau UMKM lokal.

Akibatnya, ekonomi pariwisata hanya bergerak di permukaan, sementara sektor akomodasi dan jasa wisata justru stagnan.

Baca Juga  Mikdar Ilyas Dorong Pengawasan Beras Premium untuk Lindungi Konsumen

Minimnya event besar dan aktivitas yang mampu membuat wisatawan menginap turut memperparah situasi. Lampung belum memiliki agenda wisata tahunan berskala nasional yang mampu menciptakan “alasan untuk tinggal”. Tidak ada festival budaya yang konsisten, ajang olahraga bertaraf regional, atau event musik yang menarik massa luar daerah.

Sementara itu, harga tiket pesawat yang tinggi dan konektivitas darat yang belum efisien menambah hambatan bagi wisatawan dari luar Sumatera untuk datang dan menetap.

Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan jebakan yang berbahaya. Wisata Lampung terlihat sibuk, tapi sesungguhnya rapuh. Banyak yang datang, tapi sedikit yang tinggal. Banyak perjalanan, tapi sedikit transaksi.

Dalam konteks ekonomi, Lampung sedang menghadapi disonansi struktural di sektor pariwisata, mobilitas tinggi tanpa dampak ekonomi signifikan.

Jalan keluar dari jebakan ini bukan menambah promosi, tapi mengubah paradigma. Lampung perlu membangun wisata yang menahan, bukan sekadar menarik. Pemerintah daerah, pelaku industri, dan komunitas harus berkolaborasi menciptakan kegiatan yang memaksa wisatawan menginap—mulai dari festival kuliner, eco-run, hingga konser pantai. Daerah wisata yang selama ini hanya hidup di siang hari harus dihidupkan pada malam hari lewat atraksi budaya, pasar malam kreatif, dan pertunjukan lokal.

Pemerintah juga perlu menata ulang strategi transportasi dan aksesibilitas. Tanpa harga tiket yang kompetitif dan paket perjalanan yang terintegrasi, wisata Lampung akan terus kalah oleh provinsi tetangga.

Baca Juga  Pemprov Lampung Ajukan Perubahan KUA-PPAS 2026 dan Rancangan APBD 2027

Kerja sama dengan maskapai dan operator perjalanan bisa menjadi solusi, misalnya lewat paket “fly & stay” atau promosi stop-over tourism bagi pelancong lintas Sumatera.

Namun, yang paling penting adalah mengubah cara mengukur keberhasilan pariwisata. Lampung harus berhenti berbangga dengan jumlah kunjungan dan mulai menilai seberapa besar uang yang tinggal di daerah.

Indikator seperti lama tinggal, rata-rata pengeluaran wisatawan, dan kontribusi sektor akomodasi terhadap PDRB harus menjadi tolok ukur utama. Tanpa itu, Lampung hanya akan terus berputar di lingkaran semu. Ramai tapi rapuh, padat tapi tak produktif.

Baca Juga  Warga Bandar Lampung Diimbau Waspada Paparan Debu Vulkanik Gunung Anak Krakatau

Empat bulan tersisa di tahun ini akan menjadi ujian. Jika Lampung berani melakukan koreksi arah, menggabungkan promosi kreatif dengan kebijakan strategis, sektor pariwisata masih bisa diselamatkan. Tapi bila tetap bertahan pada pola lama yang hanya mengejar angka, Lampung akan menutup tahun dengan catatan suram, wisata ramai, konomi lesu, dan penginapan sepi.

Pada akhirnya, keberhasilan pariwisata bukan soal berapa banyak yang datang, melainkan berapa banyak yang tinggal dan berkontribusi. Dan di situlah nasib ekonomi wisata Lampung akan ditentukan.

Berita Terkait

Lima Presidium KAI Lampung Periode 2026-2031 Resmi Dilantik
Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung
Lampung Perkuat Pengembangan Bawang Putih Dukung Swasembada Nasional 2029
Pemprov Lampung Dorong Persaingan Usaha Sehat untuk Perkuat Investasi dan Hilirisasi
Gubernur Mirza Dorong BAZNAS Perkuat Peran Zakat untuk Entaskan Kemiskinan
Mikdar Ilyas: Kepuasan Publik 81 Persen terhadap Mirza Sejalan dengan Kinerja Pemerintahan
Elly Wahyuni Nilai Kebijakan Pendidikan Ringankan Beban Masyarakat Lampung
Mahasiswa Lampung Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur hingga Usut Tambang Ilegal

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 21:31 WIB

Lima Presidium KAI Lampung Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

Sabtu, 19 September 2026 - 15:52 WIB

Gubernur Lampung Dorong Hilirisasi Komoditas Unggulan Lampung

Sabtu, 19 September 2026 - 15:50 WIB

Lampung Perkuat Pengembangan Bawang Putih Dukung Swasembada Nasional 2029

Sabtu, 19 September 2026 - 15:45 WIB

Gubernur Mirza Dorong BAZNAS Perkuat Peran Zakat untuk Entaskan Kemiskinan

Jumat, 18 September 2026 - 20:38 WIB

Mikdar Ilyas: Kepuasan Publik 81 Persen terhadap Mirza Sejalan dengan Kinerja Pemerintahan

Jumat, 18 September 2026 - 20:36 WIB

Elly Wahyuni Nilai Kebijakan Pendidikan Ringankan Beban Masyarakat Lampung

Jumat, 18 September 2026 - 20:26 WIB

Mahasiswa Lampung Desak Pemerintah Benahi Infrastruktur hingga Usut Tambang Ilegal

Jumat, 18 September 2026 - 20:18 WIB

51 Sekolah di Lampung Terkonfirmasi Tolak Program MBG

Berita Terbaru

Bandarlampung

Gerak Jalan Beregu Pramuka Bandar Lampung Dorong Semangat Kebersamaan

Minggu, 20 Sep 2026 - 17:31 WIB

Tulang Bawang Barat

TP PKK Lampung Canangkan Desa TAPIS di Tubaba, Perkuat Pemberdayaan Keluarga

Minggu, 20 Sep 2026 - 15:34 WIB

Lampung

Lima Presidium KAI Lampung Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

Sabtu, 19 Sep 2026 - 21:31 WIB