Paradoks Wisata Lampung (Bagian I): Ramai di Jalan, Sepi di Hotel

Ilwadi Perkasa

Minggu, 5 Oktober 2025 - 17:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Paradoks Wisata Lampung: Ramai di Jalan, Sepi di Hotel

Paradoks Wisata Lampung: Ramai di Jalan, Sepi di Hotel

Artikel Paradoks Wisata Lampung ini untuk melengkapi artikel sebelumnya “Pariwisata Lampung di Titik Nadir, Hunian Hotel Anjlok, Proyeksi 2025 Lebih Buruk dari 2024″. Artikel ini berusaha mengungkap paradoks yang terjadi dengan mengaitkan pada data jumlah perjalanan wisatawan yang justru tinggi. Wisata Lampung, Ramai di Jalan, Sepi di Hotel.

Di atas kertas, pariwisata Lampung tampak bergairah. Data Badan Pusat Statistik mencatat jumlah perjalanan wisatawan nusantara sepanjang Januari hingga Agustus 2025 telah menembus lebih dari 16 juta perjalanan.

Angka itu hampir menyamai total setahun penuh 2024 yang mencapai 17,87 juta perjalanan. Namun di balik lonjakan tersebut, tersembunyi ironi yang menohok, tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang justru terjun bebas. Pada Agustus 2025, TPK hanya mencapai 40,81 persen, turun 6,48 poin dibanding Juli dan anjlok 7,82 poin dibanding Agustus 2024 yang masih mencatat 48,63 persen.

Baca Juga  APBD Seret Bukan Alasan! Warga Linggapura Nekat Bangun Jalan Sendiri

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi musiman, tetapi sinyal serius bahwa sektor pariwisata Lampung sedang kehilangan daya lekatnya. Jumlah tamu menginap menyusut lebih dari 10 ribu orang hanya dalam sebulan, dari 97.689 tamu pada Juli menjadi 87.018 tamu pada Agustus.

Rata-rata lama menginap tamu di hotel berbintang pun hanya 1,32 hari, naik tipis dari 1,29 hari di bulan sebelumnya, namun tetap menandakan wisata yang dangkal dan  serbacepat. Wisatawan datang, berswafoto, lalu pulang. Ekonomi pariwisata bergerak di jalan raya, bukan di hotel, restoran, atau toko oleh-oleh.

Kondisi ini menjadi paradoks ekonomi yang menekan. Wisata ramai, tapi penginapan sepi. Perjalanan meningkat, tapi perputaran uang di sektor jasa melemah. Padahal, setahun sebelumnya, Lampung menikmati pertumbuhan pariwisata yang gemilang. Tahun 2024 menjadi periode keemasan dengan lonjakan 29,9 persen perjalanan dibanding 2023, disertai rata-rata lama perjalanan wisatawan mencapai 3,9 hari dan pengeluaran rata-rata Rp2,29 juta per orang. Saat itu, wisatawan datang bukan hanya untuk singgah, tapi benar-benar berlibur. Mereka tinggal lebih lama dan membelanjakan uangnya di daerah.

Baca Juga  Budhi Condrowati Minta Pemprov Lampung Cicil Utang BPJS Rp105 Miliar

Kini, situasinya berbalik arah. Data 2025 menunjukkan perjalanan wisatawan tinggi, tetapi kualitas kunjungannya menurun drastis. Lampung menjadi destinasi yang “ramai dilewati” namun jarang disinggahi. Bahkan, kabupaten dengan destinasi alam menawan seperti Tanggamus, Pesawaran, dan Pesisir Barat pun tidak mampu menahan wisatawan lebih dari sehari.

Mereka datang dalam bentuk perjalanan pendek lintas kabupaten, terutama dari kawasan tengah seperti Lampung Tengah dan Metro, untuk rekreasi singkat lalu kembali pulang.

Ironinya, semakin banyak wisatawan datang, semakin sedikit nilai ekonomi yang tertinggal. Hotel kehilangan tamu, restoran kehilangan pelanggan, dan UMKM wisata kehilangan pembeli. Data ini mengonfirmasi bahwa Lampung kini tengah mengalami gejala “pariwisata semu”, tampak hidup dari jumlah kunjungan, tapi sesungguhnya lesu dalam kontribusi ekonomi.

Baca Juga  Gubernur Lampung Dukung Koperasi IJP Maju Sejahtera

Jika tren ini berlanjut hingga akhir tahun, proyeksi menunjukkan TPK hotel bisa terperosok hingga 35–38 persen pada Desember 2025, menjadikannya yang terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Paradoks wisata Lampung bukan hanya persoalan angka, melainkan cermin dari orientasi pembangunan yang salah arah. Lampung selama ini terlalu sibuk mengejar banyaknya wisatawan, tetapi lupa membangun alasan agar mereka bertahan lebih lama.
Dalam bahasa sederhana, pariwisata Lampung ramai orang, tapi sepi penginapan. Dan itu adalah tanda bahaya yang nyata bagi ekonomi lokal.***

#Paradoks Wisata Lampung (Bagian II): Berhenti Mengejar Angka, Mulai Membangun Nilai

Berita Terkait

Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB
Gubernur Lampung Dorong POC dan Hilirisasi Demi Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Mirzani, Petani Harus Nikmati Hasil, Bukan Hanya Menanggung Risiko
Imelda Minta Publik Bijak Sikapi Informasi Gunung Anak Krakatau
Elly Wahyuni Minta Disdik Tegas terhadap Sekolah yang Paksa Siswa Beli Seragam
Wahrul Fauzi Siap Maju Pimpin Karang Taruna Lampung, Usung Pemberdayaan Pemuda dan 1.000 UMKM
Komisi IV DPRD Lampung Minta Tarif Tol BTB Dievaluasi
DPRD Lampung Panggil Pengelola Bahas Kenaikan Tarif Tol

Berita Terkait

Sabtu, 4 Juli 2026 - 20:54 WIB

PWI Lampung Selatan Kirim 14 Atlet Ikuti Seleksi Porwanas 2027

Jumat, 3 Juli 2026 - 14:05 WIB

Tarif Tol Lampung Dinilai Belum Berpihak ke Warga

Kamis, 2 Juli 2026 - 12:51 WIB

PB HMI Soroti Kenaikan Tarif Tol Bakter, Dinilai Bebani Ekonomi Masyarakat

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:51 WIB

Banggar DPRD Lamsel Lanjutkan Bahas Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:12 WIB

LDK DEMA STAI Yasba Bekali Mahasiswa Keterampilan Jurnalistik

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:48 WIB

Zulhas Apresiasi IDS Sumatra 2026 Digelar Tanpa APBD

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:45 WIB

Petugas Kebersihan Tetap Siaga di Tengah Ramainya IDS Sumatra 2026

Sabtu, 23 Mei 2026 - 20:43 WIB

IDS Sumatra 2026 Dongkrak Pendapatan Pedagang Kecil

Berita Terbaru

E-Paper

Lentera Swara Lampung | 163 | Rabu, 8 Juli 2026

Rabu, 8 Jul 2026 - 01:36 WIB

Lampung

Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB

Selasa, 7 Jul 2026 - 18:07 WIB