BANDAR LAMPUNG — Pemkot Bandar Lampung mengajak masyarakat menjaga kerukunan di tengah keberagaman. Perbedaan agama, suku, budaya, dan latar belakang sosial harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan.
(Netizenku.com): Pesan itu disampaikan Staf Ahli Bidang Ekonomi Pemkot Bandar Lampung Ariawan saat menghadiri Ngopi Kerukunan, Rabu (12/8/2026). Ia hadir mewakili Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana dalam kegiatan yang digelar Kantor Kemenag Bandar Lampung bersama FKUB.
Ariawan mengatakan kerukunan membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Menjaga kerukunan tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Diperlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, aparat keamanan, Kementerian Agama, FKUB, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen warga,” kata Ariawan.
Perbedaan Bukan Ancaman
Menurut Ariawan, toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan. Toleransi berarti memberi ruang kepada setiap orang untuk menjalankan keyakinannya dengan aman dan damai.
Karena itu, setiap persoalan yang muncul di masyarakat perlu diselesaikan melalui dialog. Musyawarah dan semangat persaudaraan harus dikedepankan.
“Perbedaan tidak boleh dibiarkan menjadi sumber perpecahan,” ujarnya.
Ariawan juga mengapresiasi peran Kemenag, FKUB, aparat keamanan, penyuluh agama, tokoh masyarakat, dan media. Mereka dinilai ikut menjaga keamanan serta keharmonisan warga Bandar Lampung.
Bijak Bermedia Sosial
Pesan kerukunan juga diarahkan ke ruang digital. Ariawan meminta masyarakat tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Masyarakat juga diminta tidak mudah terprovokasi oleh konten yang dapat memecah belah. Sebaliknya, media sosial perlu dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan perdamaian, persaudaraan, dan kebaikan.
Generasi muda, kata Ariawan, memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman. Perbedaan semestinya menjadi kesempatan untuk saling mengenal dan belajar.
“Kerukunan adalah modal penting bagi pembangunan daerah. Kesejahteraan dan pembangunan yang baik tidak mungkin terwujud apabila masyarakat tidak merasa aman atau jika energi habis hanya untuk mempertentangkan perbedaan,” katanya.
Dimulai dari Kehidupan Sehari-hari
Ariawan berharap toleransi tidak berhenti dalam kegiatan seremonial. Nilai itu harus hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari keluarga, lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, sekolah, rumah ibadah, hingga ruang publik. Sikap saling menghormati dan membantu dinilai menjadi kunci menjaga Bandar Lampung tetap aman dan damai.
“Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus memperkuat komitmen bersama. Berbeda dalam keyakinan, bersatu dalam kemanusiaan; beragam dalam kehidupan, bersatu dalam keindonesiaan,” ujar Ariawan.








