Putra Jaya Umar, Antara Kebun, Petani, dan Tanggung Jawab Sebagai Wakil Rakyat

Tauriq Attala Gibran

Kamis, 13 Agustus 2026 - 17:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Matahari mulai condong ke ufuk barat ketika deru mesin alat berat masih terdengar dari hamparan kebun tebu di Desa Gunung Katun, Tulangbawang Barat. Sore itu, di antara barisan tebu yang menguning dan lalu-lalang truk pengangkut hasil panen, Putra Jaya Umar tampak larut dalam aktivitas perkebunan yang telah menjadi bagian dari kehidupannya jauh sebelum ia duduk di kursi DPRD Provinsi Lampung.

Lampung (Netizenku.com): Tak ada suasana kaku seperti di ruang rapat. Tak ada jarak seperti yang terkadang tercipta antara pejabat dan wartawan. Di kebun itu, Putra justru terlihat lepas. Sesekali ia melempar kelakar, bercanda ria bersama awak media, lalu beralih bercerita tentang kebun, petani, hingga pengalaman hidupnya.

Senyumnya nyaris selalu mengiringi percakapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Begitulah Putra dikenal oleh wartawan yang kerap bertemu dengannya, sosok yang mudah diajak berbincang, humble, suka bercerita dan tak segan memplesetkan kata-kata untuk mencairkan suasana.

Bahkan, ketika pembicaraan mulai terlalu serius, ia kerap menyelipkan humor. Ada saja bahan candaan yang membuat suasana kembali ringan.

Soal penampilan dan latar dirinya pun tak luput dari gurauan. Putra mengaku kerap disebut memiliki etnis Tionghoa karena parasnya. Namun, dengan gaya bercanda khasnya, ia justru mengaku sebagai keturunan Arab.

Candaan itu bukan untuk membangun kesan tertentu. Ia hanya menunjukkan satu sisi Putra yang mungkin jarang terlihat dari ruang sidang, yakni seorang politisi yang menikmati percakapan, senang berinteraksi dan nyaman berada di tengah masyarakat maupun wartawan.

Baca Juga  Setahun Kepengurusan IJP Lampung, Dari Solidaritas Menuju Kontribusi

Namun di balik tawa dan kelakar itu, Putra menyimpan keseriusan ketika berbicara tentang pertanian.

Putra merupakan Anggota DPRD Provinsi Lampung dari Daerah Pemilihan (Dapil) VI yang meliputi Mesuji, Tulangbawang dan Tulangbawang Barat. Namun, ketika berada di kebun, atribut politik seolah berada jauh di belakang.

Yang tampak adalah seorang petani yang berbicara tentang tanah dengan bahasa pengalaman.

“Sehari-hari saya, selain di kantor, ya berkebun seperti ini. Haiyaaa,” kata Putra, tetap berkelakar dengan gaya bicara etnis Tionghoa, Rabu (12/08/2026).

Bagi Putra, kebun bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Di sanalah ia melihat langsung bagaimana tanah menghidupi masyarakat, bagaimana jalan menentukan ongkos produksi, bagaimana air menentukan nasib tanaman, dan bagaimana setiap batang tebu membawa harapan bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.

Perkebunan tebu yang dikelola bersama keluarganya mampu menyerap hingga ratusan tenaga kerja masyarakat sekitar. Sebagian kendaraan dan peralatan juga melibatkan masyarakat agar aktivitas perkebunan ikut menggerakkan ekonomi keluarga mereka.

“Tenaga kerja kita berdayakan masyarakat di sekitar sini,” ujarnya.

Putra dan keluarganya juga membangun kemitraan dengan PT Gunung Madu dan PT PSMI. Melalui pola tersebut, petani memperoleh akses modal, pendampingan tenaga ahli serta dukungan alat transportasi dan alat muat.

“Modal kita dipinjami, lalu tenaga ahli mereka mendampingi. Kalau kita masih kekurangan alat transportasi dan alat muat, kita dipinjami juga. Bayarnya nanti setelah panen,” jelasnya.

Baca Juga  DPRD Lampung, Swadaya Warga Bangun Jalan Jadi Evaluasi bagi Pemkab Lampung Timur

Ia melihat tebu memiliki masa depan yang kuat karena kebutuhan gula nasional masih besar. Menurutnya, produksi gula dalam negeri baru memenuhi sekitar separuh kebutuhan nasional sehingga ruang pengembangan komoditas tersebut masih terbuka.

Tetapi Putra juga tahu, bertani bukan hanya soal menanam dan memanen.

Ada jalan yang harus dilalui.

Bersama keluarga dan para pemilik kebun, ia mengeluarkan sekitar Rp1 miliar untuk memperbaiki jalan sepanjang kurang lebih tujuh kilometer menuju areal perkebunan tebu keluarga seluas sekitar 260 hektare.

“Kalau enggak kita perbaiki, kita mengeluarkan hasil panennya susah. Mobil juga akhirnya ongkosnya jadi mahal,” tegasnya.

Dari pengalaman itu, Putra memahami bahwa jalan usaha tani bukan sekadar infrastruktur. Jalan adalah bagian dari biaya produksi dan menentukan seberapa cepat hasil panen bisa sampai ke pabrik.

Selain tebu, ia juga mengembangkan sawit. Menurut Putra, prospek sawit tetap menjanjikan, terutama dengan kebutuhan CPO nasional yang terus berkembang.

Kuncinya, kata dia, sederhana tetapi tidak mudah, yakni perawatan yang disiplin.

“Pupuknya harus kuat dan tepat waktu, serta terhindar dari hama penyakit. Kalau itu terpenuhi, hasilnya bisa bagus,” ujar Ketua Partai Golkar Tubaba ini.

Di balik optimisme tersebut, tantangan tetap ada. Kapasitas giling pabrik gula yang terbatas membuat petani baru sulit masuk dalam pola kemitraan.

“Kapasitas giling pabrik itu terbatas, sehingga dia tidak bisa menambah mitra lagi,” ungkapnya.

Rencana pembangunan pabrik baru pun menjadi harapan agar daya serap tebu meningkat dan lebih banyak petani memperoleh akses pasar.

Baca Juga  RSUD Abdul Moeloek dan KAI Perluas Layanan Kesehatan Lewat Rail Clinic

Persoalan air juga menjadi tantangan tersendiri ketika kemarau datang.

Petani harus mencari embung terdekat atau menunggu hujan. Bantuan sumur bor dari pemerintah telah diupayakan, tetapi realisasinya diperkirakan baru menjelang akhir tahun.

“Kalau enggak, ya kita tunggu hujan,” kata Putra.

Bagi Putra, kebutuhan petani tidak mengenal kata nanti. Tanaman terus tumbuh, sementara air dibutuhkan setiap hari.

Pengalaman bertani sejak sebelum menjadi anggota DPRD membuat perspektif Putra terhadap persoalan masyarakat terasa dekat. Ia tidak hanya mendengar keluhan petani, tetapi masih menjalani sendiri bagaimana sulitnya mengangkut hasil panen, menghadapi kekeringan dan menghitung biaya produksi.

Itulah pengalaman yang kemudian ia bawa ke gedung dewan.

Di kebun, Putra adalah petani. Di gedung dewan, ia menjadi wakil rakyat. Dua dunia berbeda yang bertemu pada satu kepentingan, yakni bagaimana masyarakat bisa bekerja, menghasilkan dan hidup lebih sejahtera.

Sore semakin tua di Desa Gunung Katun. Matahari perlahan tenggelam di balik hamparan tebu. Putra masih tersenyum, kembali melempar satu-dua candaan kepada wartawan di sela pembicaraan serius.

Di sanalah sosoknya terasa lengkap.

Seorang politisi yang tetap akrab dengan tanah. Wakil rakyat yang tidak meninggalkan akar kehidupannya. Dan pribadi yang memilih membawa pengalaman dari kebun ke ruang kebijakan.

Sebab politik, bagi Putra, bukan hanya tentang berbicara atas nama rakyat.

Politik adalah memahami bagaimana rakyat bekerja.

Dan Putra memilih memahaminya dari tanah.
Haiyaa.. (*)

Berita Terkait

Pulung Kencana Berseru, Putra Jaya Umar Siap Kawal Jalan hingga Sumur Bor
Peduli Lingkungan, Mahasiswa Universitas Malahayati Edukasi Dasawisma Yosorejo Bikin Ecobrick
19 Tahun Dikeluhkan, Jalan Penghubung Tanjung Baru–Baru Ranji Lampung Selatan Dipastikan Diperbaiki 2026
Harlah PKB, Nunik Tegaskan Politik Harus Hadir dan Memberikan Kebermanfaatan bagi Masyarakat
Bapenda Baru Siapkan 45 Water Meter, Munir Minta Seluruh Wajib Pajak Air Permukaan Terukur
Banggar DPRD-TAPD Lampung Sepakati Perubahan APBD 2026, SiLPA Naik Rp94,3 Miliar
DPRD Lampung Sesuaikan APBD Perubahan 2026, Prioritaskan Program Unggulan dan Efisiensi Belanja
Mesuji Ukir Sejarah, Jadi Tuan Rumah Piala Soeratin Lampung Tiga Kategori Sekaligus

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:45 WIB

Kapolres Tubaba Sambangi Kejari, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:10 WIB

Polres Tubaba Uji Ketahanan Fisik dan Bela Diri Personel, Jaga Kesiapan Hadapi Tugas

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:54 WIB

KUA-PPAS APBD Tubaba 2027 Disepakati, Pemkab dan DPRD Fokuskan Anggaran untuk Kebutuhan Masyarakat

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:35 WIB

Bukan Sekadar Cek Kesehatan, Bupati Tubaba Datangi Warga dari Rumah ke Rumah

Kamis, 13 Agustus 2026 - 11:11 WIB

Lomba Gerak Jalan HUT ke-81 RI di Tubaba Jadi Ajang Bentuk Karakter Siswa

Kamis, 13 Agustus 2026 - 10:59 WIB

Bapenda Tubaba Genjot PAD 2026 Lewat Digitalisasi dan Jemput Bola

Rabu, 12 Agustus 2026 - 22:41 WIB

PAD Tubaba Tembus Rp27,22 Miliar, Baru 45,46 Persen dari Target 2026

Rabu, 12 Agustus 2026 - 22:19 WIB

Tubaba Nihil PHK Semester I 2026, Disnakertrans Siapkan Tim Monitoring ke Perusahaan

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Kapolres Tubaba Sambangi Kejari, Perkuat Sinergi Penegakan Hukum

Kamis, 13 Agu 2026 - 20:45 WIB

Tulang Bawang Barat

Bukan Sekadar Cek Kesehatan, Bupati Tubaba Datangi Warga dari Rumah ke Rumah

Kamis, 13 Agu 2026 - 13:35 WIB