Bali dijadikan mimpi.
Labuhan Jukung dijadikan ATM.
Pesisir Barat (Netizenku.com): Sejak dulu Pesisir Barat digadang-gadang akan menjadi “Bali-nya Lampung”. Alamnya ada, ombaknya kelas dunia, matahari gratis tiap sore. Tapi satu yang tak pernah ditiru dari Bali: cara menghormati wisatawan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta sederhana yang entah kenapa sulit dicerna:
👉 Di Bali, masuk pantai tidak bayar.
Datang silakan. Duduk silakan. Main air silakan.
Yang dibayar itu parkir resmi, hotel, makanan, dan jasa—bukan sekadar menginjak pasir ciptaan Tuhan.
Sementara di Labuhan Jukung, baru turun dari motor saja dompet sudah diajak dialog serius.
Masuk bayar.
Parkir bayar.
Pakai fasilitas bayar.
Kelapa muda bayar mahal di banding di kota, padahal Krui merupakan penghasil kelapa, tapi harganya seperti hasil riset luar negeri.
Pantai ini milik pemerintah. Fasilitasnya dibangun dari uang rakyat. Tapi entah kenapa, rasa-rasanya seperti dikelola oleh kelompok “yang kebetulan punya karcis”. Semua terasa legal, tapi logikanya ilegal di akal sehat.
Ironinya, menyambut Tahun Baru 2026, wisatawan justru memadati Pesisir Barat—namun bukan Labuhan Jukung. Jalan macet iya, pengunjung banyak iya, tapi ikon wisata malah ditinggal. Wisatawan memilih Pantai Mandiri di Krui Selatan. Alasannya sederhana dan sangat memalukan: lebih manusiawi, lebih ramah dompet, lebih ikhlas.
Labuhan Jukung sekarang bukan kalah ombak, tapi kalah sikap.
Pantainya makin kumuh, pengelolaannya semrawut, tapi urusan pungutan rapi, disiplin, dan konsisten. Sampah dibiarkan, tapi tarif diawasi. Ini bukan pariwisata, ini eksperimen kesabaran publik.
Dan publik makin paham, ini bukan soal ketidaktahuan. Ini soal kesengajaan. Apalagi ketika yang bertanggung jawab kabarnya adalah mereka yang “berkeringat” saat pilkada, lalu “beristirahat” sambil menarik retribusi setelah pelantikan.
Mungkin inilah konsep wisata versi baru:
Wisata loyalitas, bukan wisata kualitas.
Bali membangun pariwisata dengan filosofi: wisatawan adalah tamu.
Labuhan Jukung hari ini seperti berkata: wisatawan adalah objek.
Kalau Bali bisa hidup dari kenyamanan tanpa memalak pintu masuk pantai, kenapa kita justru bangga memungut dari pasir, angin, dan matahari?
Kalau semua mau dijadikan duit, jangan kaget kalau suatu hari nanti ombak disuruh scan QRIS sebelum menggulung.
Labuhan Jukung tidak kekurangan potensi.
Yang kurang itu keberanian untuk jujur:
apakah mau membangun pariwisata,
atau sekadar mengamankan “jatah”?
Kalau begini terus, jangan lagi sebut Bali sebagai pembanding.
Karena Bali jadi contoh nasional bagaimana wisata dirawat.
Sementara Labuhan Jukung berpotensi jadi contoh nasional juga—contoh bagaimana ikon wisata bisa ditinggalkan karena terlalu banyak tangan di dompet wisatawan.








