Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya menjadi jaring pengaman pemenuhan gizi anak sekolah, justru diduga berubah menjadi alat hukuman.
Pesawaran (Netizenku.com): Dua murid di Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, dilaporkan mengalami pemutusan MBG selama tiga hari setelah orang tua mereka mengkritik buruknya pelayanan program tersebut melalui media sosial.
Kedua murid tersebut merupakan kakak beradik, yakni Alfan, siswa kelas VI MI Al-Fatah, dan Arsya, murid TK RA MA Arif 1. Keduanya tidak lagi menerima jatah MBG yang disalurkan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program MBG Desa Trimulyo yang dikelola Yayasan Garanta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kasus ini memantik reaksi keras Wakil Ketua I DPRD Pesawaran, M. Nasir, bersama Komisi IV DPRD Pesawaran. Mereka turun langsung menemui kedua murid sekaligus melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke dapur SPPG MBG Trimulyo.
Dalam kunjungan ke sekolah kedua siswa tersebut, rombongan DPRD mendapati kondisi menu MBG yang dinilai tidak layak konsumsi. Salah satu temuan mencolok adalah buah salak dalam kondisi busuk yang tetap disajikan kepada siswa. Tak hanya itu, DPRD juga menilai telah terjadi diskriminasi terbuka terhadap dua anak tersebut sebagai dampak dari kritik orang tua mereka.
“Ini kan dampak dari orang tua siswa yang mengkritik. Kalau merasa dirugikan, seharusnya pihak dapur menempuh jalur hukum, bukan malah mengorbankan anaknya. Ini berdampak pada psikologis anak. Teman-temannya dapat, dia tidak. Ini kejam,” tegas M. Nasir.
Menurut Nasir, kritik yang disampaikan orang tua siswa merupakan kritik sosial yang wajar dan tidak bisa dijadikan alasan untuk menjatuhkan sanksi kepada anak. “Ini tidak bisa dibiarkan. Berdosa kita kalau diam. Anak-anak ini menjadi korban. Dari hasil diskusi kami, terbukti ada pemutusan MBG karena postingan orang tua yang memviralkan pelayanan buruk,” lanjutnya.
Komisi IV DPRD Pesawaran menyimpulkan bahwa pengelolaan dapur MBG Trimulyo telah melampaui batas kewenangan dan menunjukkan sikap arogansi.
“Kami melihat potensi gangguan psikologis serius terhadap anak. Ada juga intimidasi terhadap orang tua, serta upaya menakut-nakuti dengan salah tafsir undang-undang. Ini bukan hanya persoalan administrasi, tapi sudah masuk ranah hukum,” kata Nasir.
Atas dasar itu, DPRD secara tegas meminta dapur SPPG MBG Trimulyo segera ditutup dan diganti dengan pengelola lain. “Hari ini saya nyatakan, dapur MBG ini sudah layak ditutup. Saya minta PGN segera menutup dan menggantinya. Kalau tidak, akan terjadi gejolak di masyarakat. Pamong desa, pihak sekolah, semua sudah gerah,” ujarnya.
DPRD juga menyatakan akan membawa persoalan ini ke tingkat yang lebih tinggi. “Kami akan merekomendasikan ini ke Presiden, Gubernur, Bupati, hingga PGN. Bahkan ada indikasi pelanggaran hukum karena intimidasi dan perundungan yang berdampak pada psikologis anak. Ini wilayah aparat penegak hukum,” tegasnya.
Sementara itu, Dewi Ratih selaku penanggung jawab SPPG MBG Desa Trimulyo membantah tudingan tersebut. Ia menyebut keputusan yang diambil merupakan saran dari pusat.
“Kondisinya saat ini sedang panas. Nanti saya akan ke DPRD untuk menjelaskan secara detail dan membawa bukti. MBG itu dibagikan dari dapur, tidak selalu diantar ke sekolah,” ujarnya.
Ia juga mengklaim bahwa kedua anak tersebut sebenarnya tetap mendapatkan MBG. “Untuk dua anak itu, sebetulnya mereka dapat setiap hari. Jadi ada anak-anak yang tidak mampu itu diberikan ke yang bersangkutan. Saya punya buktinya. Sanksi yang saya berikan hanya satu periode, anggaran satu minggu memang tidak saya ajukan,” kata Dewi.
Namun demikian, ia menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam jika merasa diserang. “Kalau itu kritik atau saran kami terima. Tapi kalau sudah fitnah, ujaran kebencian, atau merusak nama baik, kami harus membela diri,” tambahnya.
Terkait permintaan DPRD untuk menutup dapur MBG, Dewi menyatakan pihaknya akan berkoordinasi kembali dengan DPRD dan BGN pusat.
“Saya meminta maaf kepada semua pihak atas polemik yang terjadi di sini. Ke depan kami akan mengevaluasi program ini, memperbaiki diri, serta menerima saran dan kritik dari pihak mana pun. Untuk kedua anak yang sempat dilakukan pemberhentian MBG, per hari ini akan kami distribusikan kembali jatah MBG-nya,” janjinya. (*)








