Kita Pernah Punya Wartawan Jihad, Kapan Ada Lagi?

Hendri Setiadi

Jumat, 28 Maret 2025 - 22:47 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Mochtar Lubis (foto: ist)

Mochtar Lubis (foto: ist)

Ada sebutan crusade journalism. Biasa dimaknai sebagai jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu. Salah satunya nilai kebenaran. Indonesia pernah punya Mochtar Lubis. Lewat Harian Indonesia Raya yang dipimpinnya, sepak terjang mantan guru ini, lantas dikenal sebagai Wartawan Jihad.

(Netizenku.com): Saat kolonial masih bercokol, Mochtar muda sudah memiliki benih pembangkang. Ketika mengajar di sebuah sekolah di Pulau Nias dan berada di bawah pengawasan kompeni, ia malah mengajarkan muridnya menyanyikan lagu Indonesia Raya dan mengibarkan bendera merah putih. Tak pelak londo-londo keparat itu langsung mendelik. Mochtar dianggap menyemai semangat nasionalisme ke anak didik. Ganjarannya ia digiring ke luar sekolah, sambil diteriaki, “Koe jangan pernah kembali lagi,” begitu mungkin maki para bule-bule penindas itu.

Alih-alih menyesali tindakannya, nyali Mochtar malah menjadi. Ia memutuskan berangkat ke Jakarta. Merantau. Waktu berlalu, penjajah berganti. Pada saat Jepang masuk (1942) ia bekerja sebagai anggota tim yang memonitor siaran radio sekutu di luar negeri. Isi siaran dalam bahasa Inggris itu didengar dan dicatatnya untuk kemudian dilaporkan pada Kantor Pemerintahan Militer Jepang. Rutinitas mencatat ini kiranya membekas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah proklamasi, dia beralih pekerjaan. Mochtar bergabung dengan Kantor Berita Antara. Sejak itulah dirinya benar-benar bersinggungan langsung dengan dunia jurnalistik. Agaknya profesi ini sudah terlalu memikat hatinya. Mochtar terlanjur gandrung menjadi jurnalis. Hingga pada 1949, bersama Hasjim Mahdan, dia merintis surat kabar yang diberi nama Harian Indonesia Raya.

Baca Juga  Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?

Sejak itulah kiprah jurnalistik Mochtar melesat. Tapi bukan tanpa alasan. Karena sejak itu pula watak aslinya yang tak kenal kompromi seperti memperoleh wadah. Gaya penulisannya dikenal lugas. Harian Indonesia Raya di bawah kepemimpinannya dianggap “galak”. Namun pembaca suka. Terbukti lewat oplah penjualannya yang terus membumbung.

Sebaliknya pemerintah orde lama malah memberengut. Rezim seperti kebakaran jenggot oleh pemikiran dan tulisan Mochtar yang kritis. Sampai akhirnya ia diberi “pelajaran” digiring ke tahanan dan Harian Indonesia Raya diberangus.

Penjara rupanya tidak mampu merubah Mochtar menjadi kurcaci yang mengkerut nyalinya. Ke luar tahanan, watak pemikiran dan tulisannya masih tetap “beringas”. Pun ketika orde lama beralih ke orde baru. Melalui Harian Indonesia Raya yang kembali terbit, tulisan-tulisan Mochtar -terutama melalui tajuk- tak berhenti menyalak.

Ada yang beranggapan keberingasan tulisan Mochtar Lubis terasa sangat liar. Kritikannya pedas, tajam, dan tanpa basa-basi terhadap kebijakan pemerintah. Ada pula yang menggambarkan kosakata yang dipakai Mochtar selalu sederhana, mudah dipahami (tidak ambigu), praktis, dan ringan. Jarang sekali ia memakai akronim dan eufemisme saat mengkritik. Tak heran bila sasaran yang dikritiknya bakal kelojotan mirip cacing kepanasan. Mochtar Lubis terus saja mengkritik seperti tidak punya rasa takut sedikit pun.

Baca Juga  Bumi Lebu Bercerita, Warga Bercanda, Begitulah Ngejalang Fest 2025 Adanya

Mau tahu seberapa gamblang bahasa yang dipakai Mochtar Lubis?  Berikut contoh tajuk Harian Indonesia Raya berjudul “Amat Memilukan Hati”. Tajuk ini terbit pada 17 April 1970; “Bandit Coopa Arief Husni secara diam-diam dibebaskan dari tahanan dalam oleh Kejaksaan Agung. Ketika ditanya wartawan Indonesia Raya, Jaksa Agung Muda Ali Said meminta wartawan kami menanyakan kepada Jaksa Agung Soegih Arto. Ketika sampai pada Soegih Arto, Jaksa Agung mengoper lagi pada Ali Said.”

Nyali besar Mochtar Lubis juga teruji saat pecah Perang Korea pada tahun 1950. Tanpa babibu dia langsung cabut untuk meliput dari jarak dekat. Sejak itu predikat sebagai koresponden perang menambah panjang deret koleksi prestasinya.

Tapi, dengan cara penulisannya yang sederhana apakah lantas bisa dibilang kepiawaian bahasa Mochtar tergolong rata-rata. Alias biasa saja. Kalau pun ada keistimewaan pada tulisannya hanya sebatas keberanian menyampaikan kritik straight to the point, tok?

Jelas itu pandangan keliru. Sebab, selain wartawan, Mochtar Lubis juga dikenal sebagai sastrawan. Pada awalnya ia menulis cerpen dengan menampilkan tokoh karikatural si Djamal. Kemudian dia bergerak di bidang penulisan novel. Di antara deretan novelnya yakni: Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, serta Berkelana Dalam Rimba.

Baca Juga  Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?

Lengkap sudah talenta Mochtar. Bahkan dia mampu memadukan kedua bakat tersebut dan diganjar penghargaan Magsaysay Award (biasa dianalogikan sebagai nobel skala Asia) untuk karya jurnalistik dan kesusastraan. Untuk kedua kemampuannya itu Mochtar pernah bilang, bahwa ia menulis jurnalistik karena itu adalah kewajiban, sedangkan saat menulis karya sastra karena atas dasar kecintaan.

Tidak bisa dipungkiri Mochtar Lubis dan Harian Indonesia Raya adalah legenda dalam dunia pers Indonesia. Kontroversi keduanya telah menorehkan sejarah. Harian Indonesia Raya yang dinakhodai Mochtar Lubis tercatat memecahkan rekor sebagai media yang pernah tujuh kali dibredel. Enam kali diberangus pada zaman orde lama dan satu kali pada masa orde baru. Pembredelan terakhir (1974) membuat Harian Indonesia Raya tidak terbit lagi hingga sekarang.

Keberanian Mochtar Lubis yang tak pernah surut mengarahkan moncong kritikan terhadap tindak korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakadilan dan ketidakbenaran, serta sikap feodalisme membuatnya memperoleh julukan sebagai wartawan jihad. Ini tentu bukan apresiasi yang berlebihan.

Gerak pikir dan langkah Mochtar Lubis benar-benar terhenti setelah dibekap penyakit Alzheimer. Dia tutup usia pada 2 Juli 2004 dalam usia 82 tahun. Sejak itu mungkin banyak yang bertanya, mungkinkah Indonesia akan kembali melahirkan sosok wartawan-wartawan sekaliber Mochtar Lubis sang Wartawan Jihad? Jika mungkin, saya sangat kepingin bersua. (*)

Berita Terkait

Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?
“GoodB(a)y” Bibi, Lupakan Mimpi Jadi Raja Bayangan
Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?
ASN Lampung Barat di Persimpangan 2026
Lampung Barat: Ketika Amanah Dijadikan Pekerjaan Paruh Waktu
Tujuh Pejabat Baru, Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Amanah di Singgasana, Bukan Sekadar Pencitraan
Kunker ke Lampung Barat, Gubernur Bawa Dua Janji Manis

Berita Terkait

Senin, 26 Januari 2026 - 18:48 WIB

Imigrasi Kalianda Gelar Syukuran Hari Bakti ke-76

Sabtu, 24 Januari 2026 - 10:35 WIB

Lampung Selatan Raih Predikat “Sangat Baik” ITKP 2025

Minggu, 18 Januari 2026 - 13:36 WIB

Tindak Lanjut Pengawasan Tuntas, Pemkab Lamsel Tuai Apresiasi

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:42 WIB

Bupati Egi Resmikan Jalan Kota Baru–Sinar Rejeki

Kamis, 8 Januari 2026 - 08:58 WIB

Kapolres Lamsel Terima Satyalancana Wira Karya dari Presiden RI

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:26 WIB

Unik, Pelantikan Pejabat Eselon II Lampung Selatan Digelar di Ruang Terbuka

Selasa, 6 Januari 2026 - 20:19 WIB

Polres Lampung Selatan Siap Amankan Konferkab IX PWI

Senin, 5 Januari 2026 - 13:01 WIB

Pemkab Lamsel Tegaskan TPG ASN ke-13 Cair Januari 2026

Berita Terbaru

Lampung Barat

Bambang Kusmanto Tinjau Pos Damkar Balik Bukit

Selasa, 27 Jan 2026 - 22:21 WIB

Lampung

DPRD Lampung Pastikan Tak Ada Irigasi Baru Tahun 2026

Selasa, 27 Jan 2026 - 15:03 WIB

Lampung

Inflasi Lampung Terkendali, Pemprov Waspadai Harga Pangan

Selasa, 27 Jan 2026 - 14:19 WIB