Umar Ahmad dan Harry Potter

Redaksi

Kamis, 24 Agustus 2023 - 00:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sulit ditampik perubahan wajah Tulangbawang Barat (Tubaba) tanpa menyebut peran besar Umar Ahmad.

Tak pelak perubahan signifikan kabupaten muda di bawah kepemimpinan sosok muda itu, mengundang decak kagum. Tak sedikit pula yang menganggap seperti sedang menyaksikan sulap. Dalam sekejap Tubaba bersalin rupa. Ibarat besi muda mengejawantah magnet. Mendadak punya daya tarik.

Benarkah ini sulap? Entah ‘elmu’ abrakadabra apa yang dipakai Umar Ahmad. Yang bagi sebagian orang mungkin masih menganggapnya ‘anak ingusan’, tapi kok sudah mampu membuat lompatan besar. Permainan ‘silap mata’ macam apa pula ini. Mungkinkah ada kesamaan dengan kisah Harry Potter cerita besutan penulis Inggris J. K. Rowling?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ternyata benar adanya. Umar Ahmad memang menggenggam sebait rapalan. Selarik mantra yang menjadi modal awalnya mengarsiteki Tubaba. Jampi-jampi itu berjuluk “sadar diri”.

Ya, kesadaran diri. Umar Ahmad sangat sadar potensi terbatas yang melingkupi Tubaba. Sejak awal memimpin dia sudah tanamkan prinsip itu. Dia malah menyebut Tubaba sebagai kabupaten yang “bukan-bukan”.

Baca Juga  ASN Lampung Barat di Persimpangan 2026

Bukan sebagai daerah perlintasan. Bukan daerah tujuan, lantaran tidak punya potensi wisata berupa gunung maupun pantai yang digandrungi pelancong.

Bukan pula daerah yang menyimpan kawasan tambang yang mampu menerbitkan naluri bisnis para investor. Jadi lengkaplah sudah ketiadaan itu. Tak berlebihan pula bila disematkan predikat “kabupaten bukan-bukan”.

Berbekal kesadaran mantra sadar diri tadi, terpantik niatan untuk merombak yang bukan-bukan itu menjadikan Tubaba yang “bukan main”. “Kesadaran ini yang mendorong kami untuk berpikir kami harus punya apa-apa,” kata Umar pada beberapa kesempatan.

Caranya? Tidak lantas serta merta mengerahkan alat berat buat menggarap proyek ini-itu. Umar Ahmad malah mengawalinya dengan ‘berkontemplasi’. Merenung.

Sampai menemukan formulasi jawaban. Pembangunan yang akan dilakukan mesti memiliki nilai. Nilai itu yang nantinya melandasi semua upaya pembangunan orang dan ruang di Tubaba. “Kami juga percaya bahwa pendidikan adalah jawaban dari proses perjalanan menuju ‘pulang ke masa depan’,” ungkapnya hakul yakin.

Baca Juga  Lampung Barat: Ketika Amanah Dijadikan Pekerjaan Paruh Waktu

Prinsip ini kembali dikemukakannya saat menjadi pemateri pada seminar yang dihelat himpunan mahasiswa Fisip Unila bertajuk Menatap Pembangunan Lampung ke Depan (Selasa, 22 Agustus 2023).

Umar bilang, dia mengawali gerak pembangunan di Tubaba dengan melakukan injeksi nilai lokal yang diadopsi berdasarkan kehidupan dan perjuangan para petani. Nilai yang bisa dipetik adalah nilai Nemen (kerja keras), Nedes (Tahan banting, sabar) dan Nerimo (tawakal, Ikhlas menerima ketentuan yang diberikan Allah SWT). Untaian nilai-nilai itu lalu diikat menjadi Nenemo.

Umar juga mengakui berguru dari masa lalu. Berbagai nilai bermuatan filosofis di waktu lampau dijadikannya rujukan. Semacam mercusuar. Pemandu arah langkah. Bahkan filosofi-filosofi di masa lampau itu dijadikan sebagai narasi dalam membangun Tubaba. Sebab Umar meyakini nilai filosofi masyarakat akan mampu menggugah sumberdaya manusia.

Baca Juga  "GoodB(a)y" Bibi, Lupakan Mimpi Jadi Raja Bayangan

Prinsip itu benar-benar diimplementasikan di setiap denyut pembangunan di Tubaba. Hingga ke ranah pembangunan infrastruktur sekalipun, senantiasa diselaraskan dengan nilai menjaga kelestarian alam. Tak perlu heran kalau melihat wajah Tubaba hari ini tetap harmonis bersanding dengan alam. Tanpa merudapaksa martabat lingkungan.

Beranjak dari pengalaman itu Umar berkeyakinan, formulasi serupa kiranya bisa diterapkan pada pembangunan Lampung ke depan. Sudah barang tentu perlu penyesuaian di sana-sini. Tapi kelangsungan pembangunan itu, mesti tetap menapak pada nilai sosial budaya setempat. Agar tetap mengakar. Tidak tercerabut dari nilai asal.

Umar Ahmad memang bukan Harry Potter yang sedang merapalkan ajimat, kalau pun ada mantra yang digumamkan bunyinya bukan abrakadabra tapi suara kesadaran diri! (Hendri Std)

Berita Terkait

Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?
“GoodB(a)y” Bibi, Lupakan Mimpi Jadi Raja Bayangan
Labuhan Jukung Ditinggal Wisatawan, Ada Apa dengan Tata Kelolanya?
ASN Lampung Barat di Persimpangan 2026
Lampung Barat: Ketika Amanah Dijadikan Pekerjaan Paruh Waktu
Tujuh Pejabat Baru, Ujian Sesungguhnya Baru Dimulai
Amanah di Singgasana, Bukan Sekadar Pencitraan
Kunker ke Lampung Barat, Gubernur Bawa Dua Janji Manis

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 00:02 WIB

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Senin, 2 Februari 2026 - 21:18 WIB

Triga Lampung Temui Kemenhan, Bahas Keberlanjutan Lahan Tebu Eks SGC

Senin, 2 Februari 2026 - 17:28 WIB

Kempeskan Ban Mobil Mahasiswa, Anggota DPRD Lampung Terancam Sidang Etik

Senin, 2 Februari 2026 - 13:53 WIB

KONI Lampung Intensif Pantau Atlet Berprestasi Jelang PON 2028 dan Persiapan Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Februari 2026 - 13:38 WIB

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:51 WIB

Yusnadi, Sesalkan Kebijakan RSUD Sukadana yang Wajibkan Pasien Gunakan Ambulans Rumah Sakit Saat Rujukan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:18 WIB

TRIGA Lampung Kepung Kejaksaan Agung–KPK, Bongkar Dugaan Oligarki Gula, Pajak, dan Politik Uang

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:13 WIB

Bapenda Lampung dan GGPC Perkuat Sinergi Optimalisasi PAD

Berita Terbaru

Lampung

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:02 WIB

Lampung

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Feb 2026 - 13:38 WIB