Tradisi Seharga Nyawa

Leni Marlina

Jumat, 12 Juli 2024 - 15:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penulis Leni Marlina (ist/NK)

Penulis Leni Marlina (ist/NK)

Kekayaan adat budaya Lampung tak bisa dipungkiri keberagamannya, salah satunya adalah begawi atau pesta pernikahan yang berlangsung hingga sepekan, dengan bermacam rangkaian di dalamnya.

Namun demikian keberagaman dan tradisi yang sudah berlangsung sejak lama ini tak selamanya berjalan mulus, kali ini nasib apes menerpa MSM, alam sedang tak berpihak padanya.

Pesta pernikahan yang semestinya penuh suka cita kebahagiaan berubah menjadi duka. Ya, MSM lalai, niat hati ingin menyambut kedatangan pihak besan dengan melepas peluru ke udara, nyatanya malah mengenai kepala keponakannya sendiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Terkapar begitulah Salam (35) saat tiba-tiba terkena peluru nyasar MSM, di Kampung Mataram Ilir, Kecamatan Seputih Surabaya, Lampung Tengah, provinsi Lampung pada Sabtu (6/7/2024) pagi.

Kalau sudah begini siapa yang tak merugi, keluarga korban yang tak bisa dihitung hari menghilangkan rasa dukanya.

Namun cukupkah hanya penyesalan? Tentu tidak, para penyimbang adat mestinya mengaji ulang urgensi menembakkan senjata api ke udara, apakah benar sepenting itu, atau sebatas gengsi?

Apakah tidak ada alternatif lain yang dapat menimbulkan suara, seperti alat musik cetik yang identik dengan budaya Lampung misalnya.

Bukankah akan jauh lebih berirama jika dimainkan, dibanding suara senjata api yang dilepas ke udara. Tak ada budaya seharga nyawa.

Lagi pula kepemilikan senjata api tentunya tak semudah itu. Mesti berijin, dan profesional. Kalau sudah begini kejadiannya tentulah meluas perkaranya, bukan hanya lalai, kepemilikan senjata api illegal, juga siap menanti siempunya.

Proses hukum terus berjalan, kita tunggu saja kelanjutannya. Namun menyoal hilangnya nyawa karena tradisi ini, petinggi adat benar-benar perlu mengaji, agar tak ada lagi korban lainnya. Sekali lagi tak ada ada tradisi seharga nyawa. Tabik.

Berita Terkait

Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain
Tahun Baru di Bawah Bayang Siklon: Lampung Diminta Waras di Tengah Euforia
Ekonomi Lampung dan Ilusi Stabilitas (Bagian 3in3)
Kadalistik Kebijakan dan Produksi Citra di Lampung (Bagian 2 in 3)
Penghargaan dan Anomali Fiskal Lampung (Bagian 1 in 3)

Berita Terkait

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:29 WIB

DPRD Lampung Minta Pengawasan Ketat Hewan Kurban

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:45 WIB

Jalan Mulus hingga Perbatasan, Gubernur Lampung Resmikan Groundbreaking Ruas Brabasan-Wiralaga

Rabu, 6 Mei 2026 - 15:44 WIB

Inovasi RMDku, Cara Lampung Dongkrak Akurasi IPM

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:47 WIB

Sekber Konstituen Dewan Pers Segera Gelar Sarasehan “Lampung Mau Dibawa Ke Mana?”

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:22 WIB

Pupuk Subsidi Mandek di Lampung Tengah, Miswan Rody Endus Permainan Kotor Oknum

Rabu, 6 Mei 2026 - 12:14 WIB

Almira Nabila Fauzi Sidak Proyek Koperasi di Pringsewu

Selasa, 5 Mei 2026 - 17:02 WIB

Wamenkop Tinjau Tes Manajer KDKMP di Lampung

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:58 WIB

Pemprov Lampung Canangkan Zona Integritas di BKD

Berita Terbaru

Pringsewu

Aipda Triyoto Tutup Usia, Ribuan Pelayat Hadiri Pemakaman

Kamis, 7 Mei 2026 - 18:36 WIB

Lampung

DPRD Lampung Minta Pengawasan Ketat Hewan Kurban

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:29 WIB

Deklarasi Sekretariat Bersama tiga konstituen Dewan Pers Provinsi Lampung. (Foto: Netizenku)

Celoteh

Sekber Pantau MBG Lampung, “Nggak Ada Gunanya?”

Kamis, 7 Mei 2026 - 08:55 WIB