oleh

Persidangan Pembunuhan Bos Dede Kembali Digelar

Tanggamus (Netizenku.com): Pengadilan Negeri (PN) Kotaagung kembali menggelar persidangan pembunuhan Bos Dede Cell Gisting, Kamis (21/4).

Dalam sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ari Qurniawan dan Hakim Anggota I Zaky Ikhsan Samad, Hakim Anggota II Murdian dan Panitera Muda Perdata Bambang Setiawan tersebut, agendanya mendengarkan keterangan dua terdakwa yaitu Syahrial Aswad dan Bakas Maulana.

Dalam persidangan, penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Kotaagung Imam Yudha M, mencecar sejumlah pertanyaan kepada kedua terdakwa mulai dari kapan kali pertama mengenal korban Dede, hingga hubungan spesial antara terdakwa dan korban.

Dalam sidang yang masih digelar secara virtual tersebut, kedua terdakwa Syahrial Aswad dan Bakas Maulana kompak membantah semua tuduhan sebagai pelaku pembunuhan Dede.

Syahrial Aswad mengatakan bahwa sudah lama tidak berkomunikasi dengan korban Dede, ia terakhir komunikasi saat hendak mengundang Dede di pernikahannya yang rencana digelar di Juli 2021. Ia juga menegaskan bahwa hubungan antara dirinya dan Dede baik-baik saja.

“Saya awal kenal di Pringsewu, saat itu lagi kumpul dengan kawan-kawan ngopi, setelah itu saya sempat bekerja di-counter milik Dede sekira April 2020, dengan upah seminggu Rp350 ribu, alasan saya minta kerjaan karena ingin belajar bisnis, namun saya hanya bekerja tiga Minggu, sebab omset saat itu kata Dede sedang menurun,” kata Syahrial.

Baca Juga  Jelang Pemilu, Polres Tanggamus Gelar Apel Ops Mantap Brata

Dilanjutkan Syahrial bahwa setelah dari counter Dede, dirinya bekerja di PTUN Bandarlampung, sejak saat itu, pertemuan dengan Dede sudah mulai jarang.

“Saya ga ada permasalahan apa-apa sama Dede, bahkan saya hadir saat pernikahan Dede,” ucapnya.

Dilanjutkan Syahrial bahwa saat peristiwa pembunuhan Dede, dirinya sedang berada di kostan di Bandarlampung.

“Saya dari Kedondong Pesawaran sama teman menuju kostan, keperluannya untuk mengambil bingkai hantaran pernikahan dan undangan pernikahan saya, jadi apa yang dituduhkan itu tidak benar,” kata dia.

Syahrial juga mengaku bahwa menerima kabar mengenai kematian Dede dari salah satu rekan bernama Gunawan.

“Hari Senin sekitar pukul 15.00 WIB, saya ditelepon sama Gunawan mengabarkan kalau Dede menjadi korban pembunuhan. Gunawan juga mengirimkan screen shot berita online, saya kaget mendengar kabar tersebut. Setelah mendapat kabar saya masih komunikasi dengan adik korban keesokan harinya,” ucap Syahrial.

Masih kata Syahrial, saat dirinya sedang berada di rumah Kedondong, polisi memintanya bertemu dan menanyakan apa mengenal Dede.

“Setelah saya keluar dan bertemu malah saya langsung dituduh membunuh Dede dan dibawa ke dalam mobil, saya bersikukuh mengatakan tidak, tapi saya terus dipaksa mengaku, saya tidak tahu apa-apa, bahkan saat dipertemukan dengan Bakas Maulana, saya juga tidak mengenal Bakas Maulana,” ujarnya.

Baca Juga  Polres Pesawaran Ungkap Kasus Sepanjang September 2021

Selain dipaksa mengaku, lanjut Syahrial, dirinya juga dipaksa mengikuti pra rekonstruksi.

“Jadi saya malem itu dibawa muter-muter pakai mobil, mata saya ditutup, paginya dibawa ke TKP saya ga tau itu ada dimana dan dipaksa ikut pra rekontruksi,” ucapnya.

Senada dengan Syahrial, Bakas Maulana juga membantah tuduhan pembunuhan terhadap Dede. Menurutnya saat peristiwa dirinya sedang berada dikontrakan kakak iparnya di Talangpadang.

“Saya dikontrakkan nggak kemana mana, saya diberi tahu kakak ipar kalau saya dicari (Polisi) anggota Buser, kata polisi saya tidak perlu takut sebab hanya dimintai keterangan saja. Pas malemnya sekitar jam 2 pintu didobrak saya diminta ikut polisi, ditemukan sama Syahrial , dipaksa ngaku, padahal saya juga tidak kenal Syahrial, lalu saya dipukul,” ucap Bakas Maulana alias Alan.

Diakui Alan bahwa dirinya memang memiliki hubungan sejenis dengan korban Dede. Menurut Bakas hubungan seksual dilakukan pertama kali saat dirinya hendak tukar tambah handphone, saya dijanjikan dapat handphone baru asal mau berhubungan seksual.

“Setelah itu, Dede kerap merayu agar saya mau berhubungan, diiming-imingi uang karena saya butuh uang maka saya mau. Saya juga pernah dapat SMS dari istri korban agar menjauhi Dede, saya sendiri sudah menjauh dari Dede sebelum istrinya kirim SMS. Total saya berhubungan dengan Dede lima kali, tiga kali di counter dan dua kali di rumah Dede,” ucap Bakas.

Baca Juga  Rayakan HUT ke-1 Tahun, AWPI Tanggamus Harap Lebih Bersinergi dengan Pemerintah

Sementara Hakim Ketua Ari Qurniawan mengatakan bahwa agenda sidang selanjutnya mendengarkan saksi yang meringankan dari masing-masing terdakwa.

“Karena saksinya banyak ada 14 saksi maka sidangnya dua hari Rabu (27/4) dan Kamis (28/4) pukul 09.30 WIB,” kata Ari.

Terpisah, seusai persidangan, tim penasehat hukum kedua terdakwa, Wahyu Widiyatmoko menyebut jika berdasarkan keterangan dari kedua terdakwa bahwa tuduhkan kepada kedua terdakwa terkesan dipaksakan.

“Kalau kita dengar tadi bahwa berdasarkan keterangan dari kedua terdakwa bahwa mereka disiksa, dipukul dan ditembak, serta dipaksa mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan, bayangkan dalam hitungan jam setelah penyiksaan langsung digelar pra rekontruksi yang diduga sudah digiring sedemikian rupa,” ujarnya.

Ditambahkan Endy Mardeni bahwa dalam sidang juga terungkap fakta bahwa, terdakwa Syahrial mendapat penangguhan penahanan.

“Untuk kasus pembunuhan dengan ancaman 20 tahun penjara saya rasa baru ini ada yang diberi penangguhan, ini ada apa, setelah bebas berbulan bulan eh dijemput lagi dan berkas sudah dinyatakan lengkap,” kata dia.(Rapik)