Ketika Modal Menyala, Ekonomi Lampung Bernyawa

Ilwadi Perkasa

Sabtu, 8 November 2025 - 08:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pertumbuhan ekonomi - Ilustrasi - Freepik

Pertumbuhan ekonomi - Ilustrasi - Freepik

Dari proyek panas bumi di Tanggamus hingga pabrik logistik di Lampung Selatan, Rp12,9 triliun investasi yang masuk sepanjang 2025 bukan sekadar angka. Ia adalah tanda bahwa Lampung mulai menulis babak baru, dari gerbang Sumatera menjadi panggung pertumbuhan yang hidup.

Ada waktu ketika Lampung hanya dikenal sebagai pintu gerbang Pulau Sumatera. Tempat orang singgah sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke utara. Tapi kini, peta ekonomi sedang bergeser. Dari jalan-jalan industri di Lampung Selatan hingga kawasan panas bumi di Tanggamus, suara mesin, logistik, dan proyek pembangunan menjadi simfoni baru yang menandai kebangkitan. Tahun 2025 ditutup dengan catatan mengesankan. Realisasi investasi menembus Rp12,95 triliun atau 120,3 persen dari target Rp10,76 triliun.

Angka itu bukan sekadar laporan kering dari Dinas Penanaman Modal. Di baliknya, ada ribuan pekerja baru yang pulang membawa harapan, ada gudang logistik yang mulai berdenyut, ada pabrik pengolahan singkong yang kembali beroperasi penuh, dan ada proyek energi bersih yang perlahan menyalakan kehidupan di perbukitan Tanggamus. Dari total investasi itu, Rp10,83 triliun bersumber dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), sementara Rp2,12 triliun datang dari Penanaman Modal Asing (PMA). Sebanyak 16.457 proyek tercipta, menyerap 18.645 tenaga kerja. Sebuah lompatan yang menunjukkan bahwa Lampung tak lagi sekadar menunggu investor, melainkan mulai memikat dunia usaha dengan caranya sendiri.

Baca Juga  Lima Presidium KAI Lampung Periode 2026-2031 Resmi Dilantik

Bandar Lampung menjadi jantung dari geliat itu. Hotel dan restoran tumbuh di tepian kota, gudang dan pusat transportasi menggeliat di jalur pelabuhan. Di Lampung Selatan, modal bekerja dalam diam, membangun industri makanan, logistik, dan rantai pasok yang memperkuat posisi Lampung di sektor pangan nasional. Sementara di Tanggamus, bumi yang tenang kini mengalirkan energi. Pertamina Geothermal Energy menanamkan Rp1,6 triliun, PLN Rp1,29 triliun, mengubah uap bumi menjadi listrik, dan listrik menjadi kehidupan.

Baca Juga  Disdik Lampung Perkuat Pengawasan Siswa Cegah Keterlibatan Narkoba

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lampung kini menjadi magnet bagi modal dari 46 negara. Dari Singapura hingga Korea Selatan, dari Malaysia hingga Australia dan Tiongkok, investor datang dengan mata tertuju pada potensi besar di sektor makanan, pertanian, kayu, logistik, dan energi. Ada kepercayaan yang tumbuh pelan tapi pasti, bahwa Lampung bukan lagi sekadar titik transit ekonomi, melainkan simpul penting rantai pasok nasional.

Namun setiap keberhasilan juga membawa tantangan baru. Pertumbuhan ekonomi Lampung yang mencapai 5,04 persen (y-on-y) menjadi bukti nyata bahwa investasi memberi daya dorong kuat. Tapi pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana pertumbuhan ini menetes ke masyarakat? Sebab modal yang besar tak berarti apa-apa jika tak menumbuhkan kualitas hidup. Itulah mengapa ke depan, arah pembangunan harus lebih menajam pada pelatihan vokasi untuk tenaga kerja muda, kemitraan antara industri dan UMKM, serta hilirisasi pertanian agar nilai tambah tak lari keluar daerah.

Baca Juga  PTPN I Kirim 17 Ton Bantuan untuk Korban Bencana di NTT

Keberhasilan Lampung tahun ini seolah menegaskan satu pelajaran penting bahwa investasi dan pertumbuhan adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Modal menumbuhkan ekonomi, dan ekonomi yang tumbuh mengundang modal baru. Siklus itu kini mulai hidup di Lampung, berputar dalam lingkaran kepercayaan dan kerja nyata.

Jika pemerintah daerah mampu menjaga momentum ini, dengan birokrasi yang bersih, perizinan yang cepat, dan arah pembangunan yang berpihak pada manusia, maka Lampung akan menempuh jalan baru dalam sejarahnya. Dari sekadar gerbang, menjadi panggung besar. Dari tempat singgah, menjadi tujuan. Dan dari tanah yang dulu menunggu modal, menjadi tanah yang menghidupi ekonomi bangsa.***

Berita Terkait

Pendaftaran Ditutup, Wirahadikusumah dan Adi Kurniawan Jadi Pendaftar Tunggal Ketua PWI Lampung
Karhutla TNWK Mulai Mereda, Asap Masih Tersisa di Lahan Gambut
Mantan Ketua KI Lampung Juniardi Daftar Calon Komisioner Periode 2026–2029
Andika Wibawa Dukung Larangan Vape di Sekolah, Waspadai Penyalahgunaan Narkoba
Mikdar Ilyas Sebut Harga Singkong Rp3.150 per Kg Hasil Perjuangan Pansus
Wamenaker Ajak JARNAS.INDO Perkuat Sinergi Pembangunan Ketenagakerjaan
Demokrat Lampung Siapkan Muscab, Edy Irawan Bidik Kursi Pimpinan DPRD
Gubernur Lampung Fokus Tangani Karhutla TNWK, Lima Hektare Dipadamkan per Hari

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:36 WIB

Pendaftaran Ditutup, Wirahadikusumah dan Adi Kurniawan Jadi Pendaftar Tunggal Ketua PWI Lampung

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:24 WIB

Karhutla TNWK Mulai Mereda, Asap Masih Tersisa di Lahan Gambut

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:20 WIB

Mantan Ketua KI Lampung Juniardi Daftar Calon Komisioner Periode 2026–2029

Senin, 26 Oktober 2026 - 13:02 WIB

Mikdar Ilyas Sebut Harga Singkong Rp3.150 per Kg Hasil Perjuangan Pansus

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Wamenaker Ajak JARNAS.INDO Perkuat Sinergi Pembangunan Ketenagakerjaan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Demokrat Lampung Siapkan Muscab, Edy Irawan Bidik Kursi Pimpinan DPRD

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Gubernur Lampung Fokus Tangani Karhutla TNWK, Lima Hektare Dipadamkan per Hari

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Tim Mini Soccer PWI Lampung Menang 7-1 dalam Tiga Laga Trofeo

Berita Terbaru