El Nino Ancam Lampung, BPBD Lampung Siaga Penuh

Tauriq Attala Gibran

Selasa, 4 Agustus 2026 - 11:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Lampung meningkatkan status kewaspadaan menghadapi dampak fenomena El Nino yang diprediksi mencapai puncaknya pada September 2026. Ancaman yang diantisipasi tidak hanya kekeringan, tetapi juga potensi gagal panen, krisis air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Lampung (Netizenku.com): Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung, Rudy Syawal, mengatakan berdasarkan analisis hidrometeorologi, fase awal El Nino telah mulai dirasakan sejak Juni 2026. Intensitas musim kemarau diperkirakan terus meningkat seiring menurunnya curah hujan di berbagai wilayah.

“Penurunan curah hujan membuat sebagian besar wilayah Lampung berpotensi mengalami kondisi sangat kering. Ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan,” ujar Rudy, Selasa (4/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Baca Juga  BPK Periksa Pemprov Lampung, Lima Aspek Jadi Fokus Semester II 2026

Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Lampung dinilai rentan terhadap dampak El Nino. BPBD mengingatkan ancaman terbesar adalah terganggunya produktivitas pertanian akibat berkurangnya ketersediaan air.

Kondisi tersebut mulai tercermin dari meningkatnya jumlah titik panas (hotspot). Berdasarkan data NASA FIRMS per 3 Agustus 2026 pukul 12.22 WIB, hotspot kategori anomali sedang terdeteksi di Kabupaten Tulang Bawang dan Lampung Tengah masing-masing tiga titik, Way Kanan satu titik, serta Mesuji satu titik.

Sementara itu, hotspot kategori anomali rendah tersebar di Way Kanan delapan titik, Tulang Bawang tujuh titik, Lampung Timur empat titik, Mesuji dua titik, Pesisir Barat dua titik, Tanggamus dua titik, Lampung Tengah dua titik, Tulang Bawang Barat dua titik, Pesawaran dua titik, Lampung Utara dua titik, dan Pringsewu satu titik.

Meski belum ditemukan hotspot berkategori tinggi maupun sangat tinggi, Rudy menegaskan kondisi tersebut harus menjadi peringatan dini agar tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan berskala besar.

Baca Juga  Elly Wahyuni Nilai Kebijakan Pendidikan Ringankan Beban Masyarakat Lampung

Hingga Juli 2026, BPBD juga telah menerima sejumlah laporan kebakaran lahan. Berdasarkan identifikasi awal, sebagian besar kejadian dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembakaran sampah dan puntung rokok yang dibuang di area terbuka. Vegetasi yang mengering akibat kemarau panjang membuat api lebih cepat membesar dan menyebar.

Dampak kekeringan juga mulai dirasakan masyarakat. Penurunan debit air sumur dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah, bahkan beberapa daerah mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Salah satunya di Kecamatan Pidada, Kota Bandarlampung, yang mengalami penurunan pasokan air bagi warga.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD Provinsi Lampung menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk mengusulkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah terdampak.

Baca Juga  Pemprov Lampung dan Kejati Perkuat Sinergi Kawal Program Pemerintah dan Pelayanan Publik

“OMC menjadi salah satu opsi strategis karena cakupan manfaatnya luas. Harapannya dapat menjaga ketersediaan air selama musim kemarau, mengurangi risiko gagal panen, sekaligus menekan potensi konflik akibat keterbatasan sumber daya air,” kata Rudy.

Selain itu, BPBD bersama pemerintah kabupaten/kota terus mendistribusikan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan. Koordinasi juga dilakukan dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung dan instansi terkait guna memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi.

BPBD mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah di ruang terbuka serta menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.

“Kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk meminimalkan dampak El Nino. Kesiapsiagaan sejak dini adalah langkah terbaik agar ancaman kekeringan, gagal panen, dan karhutla tidak berkembang menjadi bencana yang lebih besar,” tegasnya. (*)

Berita Terkait

Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas
RSUDAM Pastikan Pembayaran Remunerasi Pegawai Sesuai Verifikasi
Pemprov Lampung Perkuat SDM Desa Lewat Program Satu Desa Satu Sarjana dan Hafiz Quran
Putra Jaya Umar Dorong Penindakan Tegas Jaringan Narkoba yang Libatkan Anak
Gubernur Mirza Buka Road to Give 2026 di Pesawaran, Dorong Semangat Berbagi
Cegah Rabies, Petugas Jemput Bola Vaksinasi Hewan Peliharaan di Lampung Selatan
Sampah Organik Lampung Dibidik Jadi Pupuk, Dorong Ekonomi Pertanian
Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol MTI Resmi Dikukuhkan di Lampung

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Manajer Minisocer PWI Lampung Dorong Tim Perkuat Fisik dan Mental Jelang Porwanas

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:55 WIB

RSUDAM Pastikan Pembayaran Remunerasi Pegawai Sesuai Verifikasi

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:53 WIB

Pemprov Lampung Perkuat SDM Desa Lewat Program Satu Desa Satu Sarjana dan Hafiz Quran

Senin, 5 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Putra Jaya Umar Dorong Penindakan Tegas Jaringan Narkoba yang Libatkan Anak

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:53 WIB

Cegah Rabies, Petugas Jemput Bola Vaksinasi Hewan Peliharaan di Lampung Selatan

Minggu, 4 Oktober 2026 - 11:51 WIB

Sampah Organik Lampung Dibidik Jadi Pupuk, Dorong Ekonomi Pertanian

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 22:40 WIB

Forum Ekosistem Jaringan Jalan Tol MTI Resmi Dikukuhkan di Lampung

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 21:21 WIB

RSUDAM Siapkan Fertility Center, Perkuat Layanan Kesehatan Reproduksi

Berita Terbaru

Pringsewu

Bupati Pringsewu Ajukan R-APBD 2027 Senilai Rp1,138 Triliun

Senin, 5 Okt 2026 - 18:09 WIB