Indonesia tengah diguncang badai tanpa peluru, namun daya rusaknya setara perang terbuka. Fondasi ekonomi rapuh, pangan dan energi tak seimbang, produksi kalah oleh konsumsi, sementara beban impor terus menguras devisa. Rupiah pun terancam jatuh, memicu krisis moneter kapan saja.
Harga beras melesat di atas HET, krisis BBM menghantam distribusi dan logistik, sementara kurs rupiah terus tertekan akibat beban impor yang kian berat. Tiga gejala ini tidak bisa dibaca sebatas masalah teknis ekonomi, melainkan cermin nyata bahwa fondasi nasional sedang menghadapi ancaman proxy war, perang wajah baru di sisi pangan, energi, dan moneter.
Beras, sebagai simbol kedaulatan pangan, kini berubah menjadi barang mewah. Harga yang menembus batas HET bukan hanya menekan daya beli, tetapi juga menyalakan keresahan sosial. Permainan distribusi dan ketergantungan impor semakin memperlebar celah bagi spekulan untuk mengacaukan pasar. Begitu pangan goyah, stabilitas rakyat ikut terguncang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Energi pun tak kalah genting. Kelangkaan solar dan BBM bersubsidi melumpuhkan transportasi, memicu antrian panjang, dan menghambat roda produksi. Sektor logistik terpukul, harga-harga barang pokok ikut merangkak naik. Indonesia yang masih bergantung pada impor energi dipaksa menanggung risiko rapuh. Sekali pasokan global terguncang, ekonomi domestik ikut tercekik.
Di sisi lain, rupiah yang terus melemah akibat tekanan impor menjadi ancaman laten. Setiap penurunan kurs bukan hanya soal angka, tetapi berarti ongkos pangan, energi, dan barang strategis semakin berat ditanggung negara dan rakyat. Efek domino melemahnya rupiah berujung pada inflasi, pengangguran, hingga potensi krisis sosial yang bisa menggerus kepercayaan publik terhadap negara.
Inilah wajah baru proxy war. Tidak ada tembakan, tetapi ada guncangan harga. Tidak ada serangan militer, tetapi ada kelangkaan pangan dan energi yang membuat rakyat resah. Tidak ada invasi terbuka, tetapi ada tekanan kurs yang menggerus cadangan devisa. Tujuannya jelas melemahkan fondasi bangsa, membuat negara sibuk memadamkan krisis, dan perlahan meruntuhkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahnya.
Indonesia sedang diuji di medan perang yang tak terlihat, namun taruhannya adalah kedaulatan nasional. Pangan, energi, dan rupiah bukan sekadar instrumen ekonomi, melainkan benteng pertahanan negara. Jika benteng ini runtuh, maka perang tanpa senjata pun bisa memenangkan tujuan yang lebih berbahaya: menjadikan bangsa ini rapuh dari dalam.








