Inflasi Hulu Mengendap, APBD Lampung 2026 Diuji di Tengah Agenda Infrastruktur

Ilwadi Perkasa

Senin, 5 Januari 2026 - 14:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional Desember 2025 naik 2,83 persen (y-on-y).

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nasional Desember 2025 naik 2,83 persen (y-on-y).

Bandar Lampung – Kenaikan Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) nasional pada Desember 2025 tercatat sebesar 2,83 persen secara tahunan (year-on-year). Secara agregat, angka ini masih terlihat moderat dan terkendali. Namun, struktur kenaikannya menunjukkan sinyal yang jauh lebih penting untuk dicermati, terutama oleh daerah seperti Lampung yang pada 2026 mengandalkan APBD untuk mendorong pembangunan infrastruktur sebagai motor pertumbuhan ekonomi.

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) adalah indikator yang mengukur perubahan harga barang di tingkat produsen dan pedagang besar sebelum barang tersebut sampai ke konsumen. IHPB mencerminkan tekanan inflasi di sisi hulu atau biaya produksi, sehingga sering menjadi sinyal awal pergerakan inflasi konsumen dan kenaikan biaya pembangunan, terutama pada sektor pangan dan konstruksi yang berdampak langsung pada belanja APBD dan daya beli masyarakat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan lonjakan tertinggi IHPB terjadi pada sektor hasil pertanian, kehutanan, dan perikanan yang naik 7,66 persen secara tahunan. Kenaikan ini dipicu oleh harga komoditas strategis seperti beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan jagung. Tekanan harga pangan tersebut bukan sekadar fluktuasi musiman, melainkan mencerminkan persoalan struktural di sisi pasokan dan biaya produksi.

Baca Juga  Peduli TB Lampung Diluncurkan, Percepat Penemuan Kasus Menuju Eliminasi TB 2030

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi Lampung yang selama ini diposisikan sebagai daerah agraris dan penyangga pangan, kondisi ini menghadirkan paradoks. Kenaikan harga di tingkat perdagangan besar tidak otomatis meningkatkan kesejahteraan petani, sementara pada saat yang sama berpotensi menekan daya beli masyarakat sebagai konsumen. Jika tekanan harga ini berlanjut, risiko inflasi pangan daerah pada 2026 akan semakin nyata dan dapat membatasi ruang pemulihan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, sektor bijih besi dan mineral serta listrik, gas, dan air justru mengalami penurunan harga sebesar 0,26 persen secara tahunan. Hal ini menunjukkan tekanan harga energi relatif terkendali dan bukan menjadi sumber utama inflasi biaya. Namun, kontribusi sektor ini terhadap struktur IHPB relatif kecil, sehingga tidak cukup kuat untuk menahan kenaikan harga pada sektor pangan dan konstruksi.

Baca Juga  Kadin Lampung Dorong Gubernur BI Baru Perkuat Sektor Riil dan Pembiayaan UMKM

Sinyal paling relevan bagi arah kebijakan daerah muncul dari kelompok bangunan dan konstruksi yang mencatat kenaikan IHPB sebesar 2,06 persen secara tahunan. Kenaikan ini terutama didorong oleh lonjakan harga material berbasis sumber daya lokal seperti kerikil, pasir, sirtu, batu bata, serta kerangka atau kusen aluminium. Sebaliknya, harga sejumlah bahan industri seperti baja tulangan, aspal, dan seng justru mengalami penurunan.

Pola ini mengindikasikan bahwa tekanan biaya konstruksi tidak berasal dari gejolak global, melainkan dari persoalan rantai pasok lokal, distribusi material, dan tata kelola sumber daya. Bagi Lampung, kondisi ini menjadi tantangan serius karena APBD 2026 diarahkan kuat pada pembangunan jalan, peningkatan konektivitas wilayah, dan infrastruktur dasar lainnya.

Kenaikan harga material konstruksi berisiko menggerus nilai riil belanja modal daerah. Dengan ruang fiskal yang terbatas dan ketergantungan APBD pada transfer pusat, inflasi biaya dapat memicu pembengkakan anggaran proyek, pengurangan volume pekerjaan, atau bahkan penurunan kualitas infrastruktur. Tanpa perencanaan yang presisi dan pengendalian biaya yang ketat, percepatan pembangunan justru berpotensi menghasilkan proyek yang mahal namun kurang berdampak ekonomi.

Baca Juga  PERABOI Gelar Bakti Sosial Deteksi Dini Kanker Payudara di RSUDAM

Tekanan di sektor pangan dan konstruksi juga membawa implikasi lebih luas terhadap pembangunan manusia. Kenaikan harga pangan menekan daya beli rumah tangga, sementara kenaikan biaya proyek infrastruktur menyempitkan ruang fiskal untuk belanja pendidikan dan kesehatan. Dalam jangka menengah, kombinasi ini dapat memperlambat perbaikan kualitas hidup masyarakat jika tidak dikelola secara hati-hati.

Secara keseluruhan, data IHPB Desember 2025 memang belum menunjukkan lonjakan inflasi yang mengkhawatirkan secara headline. Namun, akumulasi tekanan harga di sektor pangan dan konstruksi menjadi peringatan dini bagi Lampung menjelang pelaksanaan APBD 2026. Tantangan utama ke depan bukan hanya menjaga stabilitas harga, tetapi memastikan bahwa belanja infrastruktur tetap efisien, tepat sasaran, dan mampu memberi daya ungkit nyata bagi perekonomian daerah tanpa mengorbankan daya beli masyarakat.***

Berita Terkait

Wamenaker Ajak JARNAS.INDO Perkuat Sinergi Pembangunan Ketenagakerjaan
Demokrat Lampung Siapkan Muscab, Edy Irawan Bidik Kursi Pimpinan DPRD
Gubernur Lampung Fokus Tangani Karhutla TNWK, Lima Hektare Dipadamkan per Hari
Tim Mini Soccer PWI Lampung Menang 7-1 dalam Tiga Laga Trofeo
RSUDAM Lampung Pertama Kali Lakukan Tindakan Neurointervensi DSA
Yusnadi Minta KNKT Investigasi Menyeluruh Insiden KMP Batumandi
Hadiri Wisuda ke-76 UBL, Gubernur Mirza Titip Pesan Kepada 539 Lulusan untuk Bangun Lampung
Jihan Nurlela Hadiri Rakornas TPAKD 2026, Presiden Prabowo Salurkan Kredit Produktif Rp53,15 Triliun

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Wamenaker Ajak JARNAS.INDO Perkuat Sinergi Pembangunan Ketenagakerjaan

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Demokrat Lampung Siapkan Muscab, Edy Irawan Bidik Kursi Pimpinan DPRD

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Gubernur Lampung Fokus Tangani Karhutla TNWK, Lima Hektare Dipadamkan per Hari

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 15:12 WIB

Tim Mini Soccer PWI Lampung Menang 7-1 dalam Tiga Laga Trofeo

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:47 WIB

Yusnadi Minta KNKT Investigasi Menyeluruh Insiden KMP Batumandi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:22 WIB

Hadiri Wisuda ke-76 UBL, Gubernur Mirza Titip Pesan Kepada 539 Lulusan untuk Bangun Lampung

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Jihan Nurlela Hadiri Rakornas TPAKD 2026, Presiden Prabowo Salurkan Kredit Produktif Rp53,15 Triliun

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Pemprov Lampung Arahkan APBD 2027 untuk Hilirisasi dan Pemerataan Pembangunan

Berita Terbaru