Alih Tanam Singkong ke Padi dan Jagung Bisa Dongkrak Ekonomi Lampung Hingga 2%

Ilwadi Perkasa

Senin, 15 September 2025 - 16:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alih Tanam Singkong ke Padi dan Jagung Bisa Dongkrak Ekonomi Lampung 2%

Alih Tanam Singkong ke Padi dan Jagung Bisa Dongkrak Ekonomi Lampung 2%

Ekonomi Lampung menyimpan peluang besar. Data (diolah) menunjukkan, jika lahan singkong seluas 254 ribu hektare dialihkan ke padi dan jagung, nilainya bisa meningkat hampir tiga kali lipat dari Rp6,75 triliun menjadi Rp18,03 triliun dengan dua kali panen setahun.  Dari sisi ekonomi, dengan rasio nilai tambah sekitar 70 persen, potensi tambahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung bisa mencapai Rp9,42 triliun. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang pada 2024 tercatat 4,57 persen berpeluang terdongkrak ke kisaran 6,5 persen. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani mestinya senang dengan analisis ini.

***

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, PDRB Lampung atas dasar harga berlaku 2024 mencapai Rp483,88 triliun, naik Rp35,03 triliun dibanding tahun sebelumnya. Secara riil (Atas Dasar Harga Berlaku/DHK 2010), pertumbuhan ekonomi Lampung 4,57 persen, dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai penyumbang terbesar (26,21 persen).

Namun kenyataannya, dominasi singkong yang menjadi ikon Lampung ternyata memberi nilai tambah terbatas. Produksi singkong 2024 mencapai 7,5 juta ton dari 254 ribu hektare lahan dengan harga rata-rata Rp900/kg, sehingga total nilainya hanya Rp6,75 triliun. Jika dibagi ke ratusan ribu petani, hasilnya sering tak cukup menutup biaya.

Baca Juga  Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebaliknya, jika lahan itu ditanami padi dan jagung secara merata (50:50) dengan dua kali panen setahun, hasilnya melonjak. Dengan produktivitas rata-rata 5 ton/ha untuk padi dan 6 ton/ha untuk jagung, nilai produksi padi mencapai Rp8,25 triliun, dan jagung Rp9,78 triliun, totalnya Rp18,03 triliun, hampir tiga kali lipat dibanding singkong.

Sebagai catatan, analisis tersebut mendasarkan pada data-data:

  • PDRB Lampung 2024 ADHB: Rp483,88 triliun.
  • Pertumbuhan ekonomi ADHK: 4,57%.
  • Kontribusi pertanian: 26,21%.
  • Produksi singkong, asumsi 7,5 juta ton (254 ribu ha). Data BPS  7,9 juta ton, Data pemerintah lebih dari itu.
  • Harga singkong rata-rata Rp900/kg.
  • Harga padi: Rp6.500/kg (HPP)
  • Harga jagung: Rp5.500/kg (HPP)
  • Nilai tambah pertanian: ±70% dari output bruto.

Perlu dicatat pula, yang masuk PDRB adalah nilai tambah, bukan total produksi. Dari setiap Rp10 triliun output, sekitar Rp7 triliun menjadi pendapatan bersih setelah dikurangi biaya pupuk, benih, dan solar. Dengan asumsi konversi penuh, Lampung bisa menambah Rp9,42 triliun ke PDRB, dan pertumbuhan ekonomi berpotensi naik dari 4,57% menjadi sekitar 6,5%. Namun  dengan catatan pertumbuhan lapangan usaha lain, seperti industri pengolahan tidak terdampak tertekan.

Baca Juga  Refleksi Lampung 2025: Infrastruktur Melaju, Keuangan Daerah Jadi Penentu

Bagi petani, alih tanam bukan sekadar statistik. Padi dan jagung yang dipanen dua kali setahun berarti arus kas lebih teratur, dengan harga lebih stabil karena permintaan nasional selalu tinggi. Lampung pun bisa keluar dari bayang-bayang sebagai provinsi singkong, menegaskan posisinya sebagai motor ketahanan pangan nasional.

Konversi singkong ke padi dan jagung bukan sekadar strategi pertanian, tetapi langkah keberanian mengubah arah ekonomi Lampung. Ini tentang bagaimana petani kecil merasakan manfaat langsung dari kebijakan besar, menjadikan Lampung bukan hanya gudang singkong, tetapi penopang pangan nasional. Diversifikasi ini juga melindungi petani dari fluktuasi harga singkong dan memberi jaminan pasar yang lebih luas dan stabil untuk beras dan jagung.

Tantangan yang Menanti

Alih tanam membutuhkan perencanaan matang. Padi memerlukan pasokan air melimpah, jagung menuntut pemupukan tepat. Infrastruktur irigasi, distribusi pupuk, dan akses pasar harus disiapkan. Tanpa itu, konversi hanya menjadi mimpi di atas kertas.
Pemerintah daerah perlu memastikan petani mendapatkan dukungan penuh agar perubahan ini berhasil.

Baca Juga  Ekonomi Lampung dan Ilusi Stabilitas (Bagian 3in3)

Pertanyaannya, mampukah pemerintah membiayai?

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni mengatakan tidak sepenuhnya lahan singkong akan beralih ke jagung atau padi.  Alih tanam, jelas dia akan menyesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur, modal, dan mempertimbangkan kondisi sosial budaya.

Untuk benih, beber dia, pemerintah daerah akan bersinergi dengan pemerintah pusat. “Pak Gubernur sudah meminta Bank Lampung untuk memberikan kemudahan pinjaman KUR Mikro kepada petani yang akan beralih dari singkong ke jagung atau padi gogo.  Terhadap petani yang tidak dapat beralih ke tanaman lain, Gubernur mendorong terbentuknya kemitraan antara petani singkong dengan ndustri tapioka, serta mengupayakan adanya perbaikan harga tapioka melalui usulan lartas impor tapioka ke Pemerintah Pusat,” ungkapnya.***

 

 

 

 

Berita Terkait

Bukan Padi dan Jagung, Hortikultura Jadi Penopang Daya Tawar Petani Lampung 2025
Inflasi Lampung 2025 Terkendali, Ditahan Deflasi Pendidikan dan Didorong Pangan
Inflasi Hulu Mengendap, APBD Lampung 2026 Diuji di Tengah Agenda Infrastruktur
Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
PAD Lampung Tersendat, Perencanaan APBD Dipertanyakan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain

Berita Terkait

Kamis, 8 Januari 2026 - 20:23 WIB

Dari Dapur MBG ke Meja Anak: Siapa yang Kenyang Sebenarnya?

Rabu, 7 Januari 2026 - 11:42 WIB

Kolaborasi dengan PTN, Jalan Cerdas Parosil Mabsus Membangun Daerah

Selasa, 6 Januari 2026 - 12:05 WIB

Bus DAMRI Akhirnya Masuk Lumbok Seminung, Wisata dan Aktivitas Warga Jadi Makin Gampang

Selasa, 6 Januari 2026 - 07:37 WIB

Sat Intelkam Polres Lampung Barat Gelar Doa Bersama Peringati HUT Intelijen Polri ke-80

Rabu, 31 Desember 2025 - 11:04 WIB

Tak Sekadar Imbauan, Arahan Parosil Mabsus Tumbuh di Polibag ASN

Senin, 29 Desember 2025 - 13:05 WIB

Fraksi ADEM DPRD Lambar Setujui Ranperda Cadangan Pangan Jadi Perda

Sabtu, 27 Desember 2025 - 12:27 WIB

ASN Lampung Barat di Persimpangan 2026

Jumat, 26 Desember 2025 - 21:30 WIB

Ketua DPRD Lambar Salurkan Bantuan PMI ke Pos Pelayanan Nataru Sumberjaya

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

ADD Tubaba 2026 Menyusut, Siltap Kepala Tiyuh dan Aparatur Ikut Terpangkas

Kamis, 8 Jan 2026 - 17:03 WIB

Tulang Bawang Barat

Kementerian PUPR Survei Lahan Usulan Sekolah Rakyat di Tubaba

Kamis, 8 Jan 2026 - 16:07 WIB