Ekonomi Lampung menyimpan peluang besar. Data (diolah) menunjukkan, jika lahan singkong seluas 254 ribu hektare dialihkan ke padi dan jagung, nilainya bisa meningkat hampir tiga kali lipat dari Rp6,75 triliun menjadi Rp18,03 triliun dengan dua kali panen setahun. Dari sisi ekonomi, dengan rasio nilai tambah sekitar 70 persen, potensi tambahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung bisa mencapai Rp9,42 triliun. Artinya, pertumbuhan ekonomi yang pada 2024 tercatat 4,57 persen berpeluang terdongkrak ke kisaran 6,5 persen. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani mestinya senang dengan analisis ini.
***
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, PDRB Lampung atas dasar harga berlaku 2024 mencapai Rp483,88 triliun, naik Rp35,03 triliun dibanding tahun sebelumnya. Secara riil (Atas Dasar Harga Berlaku/DHK 2010), pertumbuhan ekonomi Lampung 4,57 persen, dengan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai penyumbang terbesar (26,21 persen).
Namun kenyataannya, dominasi singkong yang menjadi ikon Lampung ternyata memberi nilai tambah terbatas. Produksi singkong 2024 mencapai 7,5 juta ton dari 254 ribu hektare lahan dengan harga rata-rata Rp900/kg, sehingga total nilainya hanya Rp6,75 triliun. Jika dibagi ke ratusan ribu petani, hasilnya sering tak cukup menutup biaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebaliknya, jika lahan itu ditanami padi dan jagung secara merata (50:50) dengan dua kali panen setahun, hasilnya melonjak. Dengan produktivitas rata-rata 5 ton/ha untuk padi dan 6 ton/ha untuk jagung, nilai produksi padi mencapai Rp8,25 triliun, dan jagung Rp9,78 triliun, totalnya Rp18,03 triliun, hampir tiga kali lipat dibanding singkong.
Sebagai catatan, analisis tersebut mendasarkan pada data-data:
- PDRB Lampung 2024 ADHB: Rp483,88 triliun.
- Pertumbuhan ekonomi ADHK: 4,57%.
- Kontribusi pertanian: 26,21%.
- Produksi singkong, asumsi 7,5 juta ton (254 ribu ha). Data BPS 7,9 juta ton, Data pemerintah lebih dari itu.
- Harga singkong rata-rata Rp900/kg.
- Harga padi: Rp6.500/kg (HPP)
- Harga jagung: Rp5.500/kg (HPP)
- Nilai tambah pertanian: ±70% dari output bruto.
Perlu dicatat pula, yang masuk PDRB adalah nilai tambah, bukan total produksi. Dari setiap Rp10 triliun output, sekitar Rp7 triliun menjadi pendapatan bersih setelah dikurangi biaya pupuk, benih, dan solar. Dengan asumsi konversi penuh, Lampung bisa menambah Rp9,42 triliun ke PDRB, dan pertumbuhan ekonomi berpotensi naik dari 4,57% menjadi sekitar 6,5%. Namun dengan catatan pertumbuhan lapangan usaha lain, seperti industri pengolahan tidak terdampak tertekan.
Bagi petani, alih tanam bukan sekadar statistik. Padi dan jagung yang dipanen dua kali setahun berarti arus kas lebih teratur, dengan harga lebih stabil karena permintaan nasional selalu tinggi. Lampung pun bisa keluar dari bayang-bayang sebagai provinsi singkong, menegaskan posisinya sebagai motor ketahanan pangan nasional.
Konversi singkong ke padi dan jagung bukan sekadar strategi pertanian, tetapi langkah keberanian mengubah arah ekonomi Lampung. Ini tentang bagaimana petani kecil merasakan manfaat langsung dari kebijakan besar, menjadikan Lampung bukan hanya gudang singkong, tetapi penopang pangan nasional. Diversifikasi ini juga melindungi petani dari fluktuasi harga singkong dan memberi jaminan pasar yang lebih luas dan stabil untuk beras dan jagung.
Tantangan yang Menanti
Alih tanam membutuhkan perencanaan matang. Padi memerlukan pasokan air melimpah, jagung menuntut pemupukan tepat. Infrastruktur irigasi, distribusi pupuk, dan akses pasar harus disiapkan. Tanpa itu, konversi hanya menjadi mimpi di atas kertas.
Pemerintah daerah perlu memastikan petani mendapatkan dukungan penuh agar perubahan ini berhasil.
Pertanyaannya, mampukah pemerintah membiayai?
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni mengatakan tidak sepenuhnya lahan singkong akan beralih ke jagung atau padi. Alih tanam, jelas dia akan menyesuaikan dengan ketersediaan infrastruktur, modal, dan mempertimbangkan kondisi sosial budaya.
Untuk benih, beber dia, pemerintah daerah akan bersinergi dengan pemerintah pusat. “Pak Gubernur sudah meminta Bank Lampung untuk memberikan kemudahan pinjaman KUR Mikro kepada petani yang akan beralih dari singkong ke jagung atau padi gogo. Terhadap petani yang tidak dapat beralih ke tanaman lain, Gubernur mendorong terbentuknya kemitraan antara petani singkong dengan ndustri tapioka, serta mengupayakan adanya perbaikan harga tapioka melalui usulan lartas impor tapioka ke Pemerintah Pusat,” ungkapnya.***








