Tongkol Jagung Amoniasi, Pakan Murah Produktivitas Tinggi

Suryani

Kamis, 25 September 2025 - 12:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Peternak KPT Maju Sejahtera memanfaatkan amoniasi tongkol jagung untuk pakan ternak ruminansia. Foto: Ist.

Peternak KPT Maju Sejahtera memanfaatkan amoniasi tongkol jagung untuk pakan ternak ruminansia. Foto: Ist.

Limbah pertanian sering kali dianggap tidak bernilai, hanya dibuang atau dibakar. Salah satunya adalah tongkol jagung, bagian tanaman yang tertinggal setelah biji dipipil. Padahal, bahan yang kerap dianggap sampah ini dapat diolah menjadi pakan bernutrisi tinggi bagi ternak ruminansia.

Lampung Selatan (Netizenku.com): Melalui penerapan teknologi amoniasi, peternak di Koperasi Produksi Ternak (KPT) Maju Sejahtera, Kecamatan Tanjung Sari, Lampung Selatan, kini merasakan manfaat nyata: pakan lebih murah, ternak lebih sehat, dan produktivitas meningkat.

Tongkol Jagung: Dari Limbah Jadi Sumber Nutrisi

Indonesia merupakan salah satu produsen jagung terbesar di Asia Tenggara dengan produksi lebih dari 19 juta ton per tahun. Sebagian besar dimanfaatkan untuk konsumsi manusia dan pakan unggas, sementara bagian lain seperti tongkol, kulit, dan batang sering terbuang begitu saja.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tongkol jagung, yang merupakan bagian keras setelah biji dipipil, biasanya dibakar atau dibiarkan menumpuk. Praktik ini menimbulkan polusi udara sekaligus merusak kesuburan tanah. Padahal, jika dikelola dengan baik, tongkol jagung bisa menjadi sumber energi dan serat berharga bagi ternak ruminansia.

Secara alami, tongkol jagung mengandung serat kasar dengan lignin yang sulit dicerna, serta kadar protein rendah hanya 3–4%. Karena itu, jarang digunakan sebagai pakan utama. Namun, potensi ketersediaannya sangat besar. Setiap hektare tanaman jagung dapat menghasilkan 1–1,5 ton tongkol. Dengan luas panen nasional mencapai jutaan hektare, jumlahnya bisa mencapai puluhan juta ton per tahun.

Baca Juga  Lampung Selatan Raih Penghargaan Pengelolaan Sampah dan Lingkungan dari Kemendagri

Sayangnya, tanpa teknologi pengolahan, limbah ini tidak optimal dimanfaatkan. Di sinilah amoniasi hadir sebagai solusi praktis. Dengan perlakuan sederhana menggunakan urea, kualitas nutrisi tongkol meningkat, bahkan kandungan protein kasarnya bisa naik menjadi 6–9%. Tekstur yang keras pun berubah lebih lunak sehingga mudah dikonsumsi ternak.

Selain meningkatkan nilai gizi, pemanfaatan tongkol jagung melalui amoniasi sejalan dengan prinsip circular economy. Limbah pertanian yang semula terbuang dapat kembali dimanfaatkan dalam rantai produksi, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus menambah nilai ekonomi bagi petani dan peternak.

Apa Itu Teknologi Amoniasi?

Amoniasi merupakan perlakuan terhadap bahan pakan berserat dengan menggunakan urea dan sedikit air, lalu ditutup rapat dalam kondisi anaerob selama 2–3 minggu.

Proses ini menghasilkan perubahan kimia yang membuat serat kasar lebih lunak dan mudah dicerna. Penelitian menunjukkan, kecernaan bahan kering tongkol jagung meningkat dari 45% menjadi lebih dari 60% setelah melalui proses amoniasi.

Manfaat Nyata bagi Peternak

Peternak KPT Maju Sejahtera merasakan langsung manfaat amoniasi tongkol jagung. Dari sisi ekonomi, biaya pakan dapat ditekan hingga 20–25% dibandingkan pakan konvensional berbasis konsentrat.

Baca Juga  Karang Pucung Bidik Prestasi Nasional di Lomba Desa 2026
Peternak KPT Maju Sejahtera merasakan langsung manfaat amoniasi tongkol jagung.

Selain itu, teknologi ini juga ramah lingkungan. Setiap 1 ton tongkol jagung yang diamoniasi setara dengan mengurangi 1 ton limbah pertanian yang berpotensi mencemari lingkungan jika dibakar atau ditimbun.

Seorang anggota KPT Maju Sejahtera mengungkapkan, “Sapi-sapi kami jadi lebih lahap makan pakan amoniasi. Dalam tiga bulan, bobotnya bisa naik lebih dari 70 kilogram. Itu jauh lebih cepat dibandingkan dulu.”

Dukungan Perguruan Tinggi dan Pemerintah

Penerapan teknologi ini merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Kemitraan Masyarakat 2025.

Tim dosen perguruan tinggi yang dipimpin Prof. Dr. Kusuma Adhianto, S.Pt., M.P., memberikan pelatihan, mendampingi pembuatan pakan amoniasi, hingga mengevaluasi performa ternak di lapangan.

Prof. Kusuma menegaskan, teknologi sederhana ini memberi dampak besar bagi peternak rakyat.

“Tongkol jagung yang selama ini dianggap limbah ternyata bisa menjadi sumber nutrisi bernilai tinggi bila diolah dengan tepat. Dengan amoniasi, peternak tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga mempercepat pertumbuhan ternak mereka,” ujarnya.

Ia berharap teknologi amoniasi dapat menjadi inspirasi bagi peternak lain untuk memanfaatkan limbah pertanian. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak lepas dari semangat peternak yang terbuka menerima pengetahuan baru serta kolaborasi dengan akademisi dan pemerintah daerah.

Baca Juga  Pemkab Lampung Selatan Gandeng BPJS Ketenagakerjaan, 1.938 Pekerja Dapat Perlindungan Jaminan Sosial

Pemerintah daerah pun memberikan apresiasi atas langkah ini, karena mendukung kemandirian pakan, ketahanan pangan, sekaligus kesejahteraan peternak lokal.

Harapan ke Depan

Keberhasilan KPT Maju Sejahtera diharapkan dapat menjadi model bagi kelompok ternak lain di berbagai daerah. Dengan potensi limbah jagung yang mencapai lebih dari 20 juta ton tongkol per tahun, peluang untuk memperluas praktik ini sangat besar.

Selain tongkol jagung, teknologi amoniasi juga bisa diterapkan pada jerami padi atau limbah perkebunan lain, sehingga menjadi solusi berkelanjutan untuk masalah pakan.

Tongkol jagung yang dulu dianggap limbah kini menjadi berkah bagi peternak. Melalui teknologi amoniasi, mereka tidak hanya menghemat biaya hingga seperempat dari total pengeluaran, tetapi juga meningkatkan produktivitas ternak hingga dua kali lipat.

Keberhasilan ini membuktikan inovasi sederhana, dengan dukungan berbagai pihak, mampu membawa perubahan nyata. Seperti pesan Prof. Kusuma, kemandirian pakan dan kesejahteraan peternak rakyat adalah cita-cita bersama yang bisa diwujudkan dengan semangat kolaborasi dan keberanian mencoba hal baru. (*)

Berita Terkait

32.415 Warga Lampung Selatan Terdampak Erupsi Anak Krakatau
Mendes PDT Soroti Kebun Anggur BUMDes Merak Berseri di Lampung Selatan
Komisi X DPR RI Dorong Revitalisasi Sekolah dan Penyelesaian Status Guru PPPK
Komisi X DPR RI Dorong Pemerataan Sarana Pendidikan melalui Program Revitalisasi Sekolah
Erupsi Gunung Anak Krakatau Meningkat, Pemkab Lampung Selatan Siapkan Langkah Antisipasi
Gunung Anak Krakatau Level III, Pemkab Lampung Selatan Imbau Warga Tetap Tenang dan Waspada
Seminar Al-Aqsha di Lampung Dorong Generasi Muda Temukan Peran Nyata untuk Palestina
PWI Lampung Selatan Audiensi dengan DPRD, Bahas HPN dan Porwanas 2027

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 14:54 WIB

Pemkot Bandar Lampung Salurkan Bantuan Beras untuk Warga Terdampak Kemarau

Jumat, 28 Agustus 2026 - 17:20 WIB

PPM Bandarlampung Gandeng Kodim 0410/KBL Gelar LKBB Tingkat SMP

Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:57 WIB

Bunda Eva Siapkan 5 Sumur Bor untuk Atasi Kekeringan, Tahun Depan Tambah 50 Titik

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:05 WIB

LVRI, PIVERI, dan PPM Bandar Lampung Gelar Gathering, Rawat Semangat Perjuangan Antargenerasi

Selasa, 18 Agustus 2026 - 00:19 WIB

HUT Ke-81 RI, Pemkot Bandar Lampung Gelar Upacara dan Lomba Bersama Forkopimda

Rabu, 12 Agustus 2026 - 21:32 WIB

Bandar Lampung Peroleh Bantuan 300 Bedah Rumah BSPS

Rabu, 12 Agustus 2026 - 20:30 WIB

Pemkot Ajak Warga Jaga Kerukunan, Rawat Perbedaan

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:51 WIB

Pemkot Perkuat Tata Kelola Program

Berita Terbaru

E-Paper

Lentera Swara Lampung | 167 | Rabu, 9 September 2026

Rabu, 9 Sep 2026 - 02:29 WIB

Lampung

Fraksi PKB DPRD Lampung Rotasi Penugasan Anggota di AKD

Selasa, 8 Sep 2026 - 19:27 WIB