Pemprov Lampung berhasil membalikan keadaan perjagungan, dari muram di tahun lalu menjadi cerah di tahun ini. Pembalikkan keadaan ini didorong oleh kebijakan stimulus pengadaan dryer yang dinilai berhasil memberikan nilai tambah kepada petani.
Memang, saat ini harga jagung pipilan kering di Lampung rata-rata Rp5.350/kg atau masih di bawah harga pembelian pemerintah Rp5.500/kg. Namun harga jagung pipilan kering yang masih dimiliki petani diprediksi akan terus membaik.
Selain itu, dibanding provinsi lain harga jagung di Lampung jauh lebih baik. Bahkan, Badan Pangan Nasional (BAPANAS) melaporkan bahwa harga jagung pipilan di Lampung lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata nasional, yakni Rp4.800/kg.
Dengan keadaan ini dapat dikatakan pejagungan di Lampung tahun ini cerah, setelah sempat suram 2024 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Harga rata-rata jagung pipilan di Lampung pada panen raya Juni ini mencapai Rp5.350/kg, meningkat signifikan dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp3.367/kg.
Untuk menjaga tren harga jagung terus membaik, Pemprov Lampung berupaya memperbanyak pengadaan alat pengering (dryer) untuk disalurkan kepada Gapoktan, koperasi, dan Bumdes.
Saat ini, dryer yang tersalurkan baru puluhan unit. Dan sesuai kebijakan Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, program bantuan dryer akan terus dilanjutkan agar semakin banyak petani jagung yg memperoleh nilai tambah dari hilirisasi jagung.
“Hilirisasi pada komoditi jagung terus kita lanjutkan. Dengan penguatan hlirisasi ini Lampung siap menghadapi tantangan di semester II tahun ini,” kata Kepala Bappeda Elvira dalam sebuah diskusi dengan media ini, Senin (30/06/2025).
Elvira membeberkan bahwa Lampung membutuhkan sekitar 500 dryer. Sekitar 100 dryer akan diupayakan melalui APBD 2025 dan 400 diharapkan investasi dari swasta dan pembiayaan dari perbankan.
“Itu sudah jadi komitmen Pak Gub. Dengan hirilisasi berupa pengadaan alat pengering kita berharap dapat menikmati harga yang lebih baik,” katanya saat dihubungi lewat sambungan telepon, Senin (30/06/2025) malam.
Inpres No. 10 2025 Untungkan Petani
Dengan terbitnya Inpres No. 10 Tahun 2025 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Jagung Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Jagung Pemerintah (CJP) ikut memberi peluang bagi petani untuk memperoleh harga yang lebih baik.
Inpres ini lebih longgar, dan memberi angin segar, kepada petani yang selama ini terhalang oleh standar kadar air yang ketat, yakni 14 persen.
Dengan Inpres terbaru ini, Perum Bulog sebagai pelaksana pengadaan dari BAPANAS diperintahkan membeli jagung petani dengan standar kadar air 18-20%.
Sementara ini, Kanwil Perum Bulog Lampung masih memberlakukan standar kadar air maksimal 14% dan Aflatoksin maksimal 50 ppb di gudang Bulog dengan harga Rp5.500/kg.
Aflatoksin adalah mikotoksin yang dapat mencemari bahan pangan dan pakan ternak, dan batas maksimal yang diizinkan adalah 50 ppb sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Pemprov Lampung perlu mencermati perkembangan ini yakni dengan menggencarkan program hilirisasi dengan memaksimalkan kapasitas produksi alat pengering (dryer) yang sudah diserahterimakan.
Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Tanaman Hortikultura Lampung, Bani Ispriyanto, pihaknya terus berkoordinasi dengan Perum Bulog Lampung dan berkolaborasi dengan Dinas Perindag, Disnak serta mengembangkan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan pakan ternak seperti Charoen Phokpan, Japfa Confeed, Chilecedang dll untuk ikut menyerap jagung petani.
Menjawab tantangan terkait standar mutu, Bani menjelaskan pihaknya menggencarkan imbauan supaya petani jagung memanen sesuai umur terbaik panen jagung.
“Kita sudah edukasi petani melalui PPL2 di lapangan agar mereka panen sesuai umur jagung sehingga kualitasnya lebih terjaga dan baik,” katanya, Senin (30/06/2025).
Ia menjelaskan panen terbaik itu ketika usia jagung 3,5 bulan. Dengan umur segitu, bila cuaca cerah, kadar air jagung diharapkan bisa 20% sampai 25%.(*)








