Wartawan, Storyteller yang Bukan Pengarang Bebas

Hendri Setiadi

Minggu, 30 Maret 2025 - 17:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi buku jurnalisme sastrawi. (foto: dok pribadi)

Ilustrasi buku jurnalisme sastrawi. (foto: dok pribadi)

Wolfe, pemilik nama lengkap Thomas Kennerly Wolfe Jr, menerbitkan buku The New Journalism. Buku dipublikasikan tahun  1973. Sejak itulah berkembang gaya penulisan jurnalisme sastra ada juga yang menyebutnya jurnalisme sastrawi. Berita disajikan secara beda. Tidak melulu menyajikan informasi yang berdesakan. Tapi juga diberi sentuhan rasa. Ada rasa dalam kata.

(Netizenku.com): Publik sudah lazim membaca berita straight news. Biasa juga disebut berita lempang. Straight to the point. Isi beritanya langsung ke pokok persoalan. Tulisannya singkat dan padat. Dibaca sebentar lekas kelar.

Model tulisan berita semacam ini cenderung disukai audiens yang tidak punya banyak waktu untuk membaca. Mereka mau sekejap saja sudah bisa mengetahui berbagai berita terkini. Berita singkat, dibaca sekelebatan. Klop sudah. Ibarat botol bertemu tutupnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tapi tidak dengan Wolfe. Doktor American Studies dari Yale University, justru menghendaki sesuatu yang berbeda dalam penyajian berita. Ia menyelipkan nilai estetika pada penulisan berita. Para pengamat menilai gaya penulisan tersebut sebagai sebuah terobosan. Mereka menyebutnya; New Journalism.

Sementara Ignatius Haryanto dalam kata pengantar di buku Kisah Menulis Storytelling Secara Kesastraan (Perspektif Literasi Journalism) yang ditulis Septiawan Santana, menggambarkan gaya penulisan Wolfe sebagai tulisan dengan kalimat pendek-pendek. Di dalamnya memuat dialog. Mengingatkan kita pada basis penulisan cerpen atau novel. Kendati demikian, semua yang tertuang di dalam tulisan itu adalah fakta jurnalistik. Isinya bukan imajinasi. Fakta yang tersaji bisa dipertanggungjawabkan.

Baca Juga  Saat Struktur Lebih Gemuk dari Kinerja: Lampung Barat Butuh Perombakan

Sesuatu yang menarik. Khususnya bagi jurnalis profesional yang kepingin terus mengembangkan kemampuan penulisannya. Dan memang terbukti. Sebentar saja sudah banyak jurnalis media besar di Amerika yang mengikuti genre Wolfe.

Dalam perjalanannya, sebutan bagi gaya penulisan serupa itu berkembang secara beragam. Ada yang menyebutnya literary journalism. Ada juga yang menjulukinya sebagai narrative reporting. Tapi secara nuansa, tulisan-tulisan dari semua sebutan aliran itu kental dengan sentuhan sastra. Kiranya sebentuk persenggamaan antara jurnalistik dan kesusastraan yang melahirkan jurnalisme sastrawi.

Menyimak berita yang diracik secara jurnalisme sastrawi mendatangkan kesan tersendiri. Meski memang membutuhkan pengorbanan waktu yang tidak sebentar untuk membacanya. Sebab, umumnya, tulisannya panjang. Sangat berbeda dengan penulisan berita singkat yang biasa dikunyah pembaca kebanyakan.

Baca Juga  MBG Lampung Gamang Wujudkan Asta Cita Prabowo

Untuk dapat menyajikan tulisan dalam balutan jurnalisme sastrawi, penulisnya dalam hal ini jurnalis, dituntut piawai “memainkan” kata-kata. Bahkan ada yang bilang jurnalisnya harus menjadi “perajin kata-kata” lewat ungkapan-ungkapannya. Sebab di tangan mereka fakta tak lagi hadir secara telanjang. Tapi sudah dikemas. Dibungkus secara indah, elegan dan menginspirasi.

Lantas mengapa sastra yang dipilih untuk dikawinkan dengan jurnalistik, sehingga membuahkan aliran jurnalisme sastrawi? penulis menduga, selain keduanya memiliki kesamaan yang menitikberatkan pada teknik penulisan, sastra punya keunikan tersendiri. Teknik penulisannya mampu melibatkan rasa. Membetot emosi. Tak heran bila para pembaca karya sastra mudah larut dalam alur ceritanya.

Saking dekatnya “hubungan” jurnalistik dan sastra, Seno Gumira Ajidarma yang dikenal sebagai cerpenis, esais, wartawan, sekaligus pekerja teater, pernah menulis buku bertajuk “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Di dalamnya dibahas, bagaimana sastra sesungguhnya bisa berperan besar ketika jurnalisme mengalami tekanan dan penindasan.

Tak sekadar berteori, Seno juga memberikan contoh konkrit. Pada saat rezim orde baru masih mencengkeram, tepatnya tahun 1991, ada peristiwa pembantaian di Dili. Tentu peristiwa ini sulit untuk dituliskan sebagai pemberitaan. Timor-Timur (sekarang menjadi Negara Timor Leste) ketika itu masih menjadi bagian Indonesia. Sejalan dengan gagasan dalam bukunya, Seno menuangkan insiden tersebut menjadi cerpen yang kemudian dirangkum dalam buku kumpulan cerpen berjudul: Saksi Mata.

Baca Juga  MBG Lampung Beruntung “Dikawal” Duet Kakak Beradik

Semakin jelas sudah, mengapa sastra yang dipilih sebagai pasangan cocok jurnalistik. Namun, dalam konteks penulisan jurnalisme sastrawi yang mulai banyak pengikutnya, tak jarang ditemui pemahaman yang salah kaprah. Tersebab terlampau berasyik masyuk dengan narasi, sampai teledor membiarkan imajinasi menguasai pikiran. Hingga fiksi menerobos pagar fakta. Fiksi dibiarkan bercampur baur dengan realitas (data dan fakta). Campur aduk. Alhasil, nalar berita terpeleset dalam lembah mengarang bebas.

Kendati menggunakan gaya penulisan fiksi di dalamnya dan dituntut menjadi storyteller (pencerita/penutur) jurnalisme sastrawi bukanlah fiksi. Isi laporannya tetap berdasarkan fakta. Dengan kata lain, jurnalisme sastrawi bukanlah penulisan berita yang berdasarkan fiksi. Melainkan penulisan berita yang menggunakan teknik kesastraan. Karena sejatinya, biarpun bisa berkisah, wartawan bukanlah pengarang bebas. (*)

Berita Terkait

Porsi Menu MBG Lampung Jauh Panggang dari Api
Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Minta MBG Berlanjut Puluhan Tahun, Gurih ya?
Saat Keputusan Gubernur Tentang MBG Lampung Diteken, Ratusan Siswa Keracunan
MBG Lampung Beruntung “Dikawal” Duet Kakak Beradik
MBG Lampung Gamang Wujudkan Asta Cita Prabowo
Birokrasi Gemuk, Kinerja Kurus: Lampung Barat Terjebak Ilusi Efisiensi
Lampung Dapat Apa dari MBG?
Saat Struktur Lebih Gemuk dari Kinerja: Lampung Barat Butuh Perombakan

Berita Terkait

Kamis, 30 April 2026 - 12:21 WIB

Pemkab Lampung Selatan Gelar Salat Gaib untuk Korban Tabrakan Kereta Bekasi

Rabu, 29 April 2026 - 11:01 WIB

TPID Lamsel Perkuat Pengendalian Inflasi

Rabu, 29 April 2026 - 10:57 WIB

Rakor Mingguan, Pemkab Lamsel Perkuat Sinergi Program

Rabu, 29 April 2026 - 10:51 WIB

Bupati Lamsel Hadiri Rakornas Mitigasi Kekeringan

Rabu, 29 April 2026 - 10:48 WIB

Pemkab Lampung Selatan Matangkan Penerapan LLTT

Rabu, 29 April 2026 - 01:12 WIB

13 “Wanita Helau” Warnai Peringatan Hari Kartini di Lamsel

Rabu, 29 April 2026 - 01:08 WIB

Jalan Bumi Daya–Trimomukti Diresmikan, Akses Ekonomi Meningkat

Rabu, 29 April 2026 - 01:05 WIB

Jalan Lubuk Dalam–Way Urang Dorong Wisata dan Ekonomi

Berita Terbaru

Pringsewu

Kabupaten Pringsewu Raih Penghargaan dari Bank Indonesia

Kamis, 30 Apr 2026 - 19:45 WIB