Soal Sampah Siapa yang Salah?

Redaksi

Minggu, 18 Agustus 2019 - 20:42 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Senja dibalut Sampah di Pesisir Sukaraja, Bandarlampung, Minggu (18/8).

Foto: Senja dibalut Sampah di Pesisir Sukaraja, Bandarlampung, Minggu (18/8).

Bandarlampung (Netizenku.com): Permasalahan sampah tentunya menjadi momok yang begitu besar bagi kalangan Internasional. Di Indonesia tercinta yang telah menginjak usia 74 tahun sendiri, saat ini masih dalam kategori sebagai penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua di dunia.

Beralih ke Provinsi Lampung, marine debrish (sampah laut) menjadi isu sexy yang tak kunjung usai. Meski berkali-kali dilakukan operasi pembersihan oleh berbagai kalangan, mulai dari pemerintahan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) hingga komunitas peduli sampah, permasalahan sampah yang berasal dari daratan ke lautan tersebut tak kunjung dapat terselesaikan.

Paling terbaru, peluncuran kapal pembersih sampah di lautan bernama ‘Telok Betong’ menjadi sorotan lantaran Sebanyak 30% sampah di laut termasuk sampah plastik telah dikembalikan ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di darat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kapal motor Telok Betong milik PT Pelindo itu dikabarkan menjadi andalan untuk membersihkan kawasan laut di pesisir Lampung, khususnya Teluk Lampung. Sebab, kapal tersebut hanyalah satu-satunya kapal yang beroprasi khusus selama 24 jam di kawasan Teluk Lampung untuk membersihkan sampah di Teluk Lampung.

General Manager Pelindo II Panjang Drajat Sulistyo mengatakan KM Telok Betong sudah bergerak meningkatkan kualitas kawasan laut Lampung. \”Setiap hari Telok Betong berkeliling menarik sampah di laut dengan daya tampung hingga 5 ton untuk dipindahkan ke tempat pembuangan akhir di darat. Awalnya, Lampung terkenal dengan lautnya yang bersih dan kami ingin status itu kembali lagi,\” kata Drajat, Rabu (14/8).

Terkait sampah di Teluk Lampung, kondisi tersebut ternyata jadi perhatian Wakil Gubernur Lampung Chusnunia Chalim. Nunik, sapaan akrab wagub wanita pertama di Lampung itu pun mendatangi pesisir pantai yang menjadi lahan mata pencaharian nelayan pukat payang tersebut, Selasa (18/6).

Tiba di lokasi pesisir pantai Sukaraja, Nunik langsung berinisiatif menjadikan lokasi itu sebagai tempat wisata. Namun, Nunik juga dengan polosnya mengaku belum dapat ide kreatif tata kelolanya. “Ini kan lagi viral. Inginnya sih dijadikan tempat wisata. Tapi gimana ya caranya? Aku belum dapet ide sih,” jelas Nunik.

Baca Juga  Jalan Sehat HUT Bandar Lampung Siapkan Hadiah Rumah dan Mobil

Pantauan di lokasi, hingga saat ini Minggu (18/8) sampah di wilayah pesisir Kota Bandarlampung tidak mengalami perubahan. Salah satunya di garis pantai yang menjadi sorotan yakni Pesisir Pantai Sukaraja.

Berdasarkan keterangan beberapa warga di wilayah pesisir Kota Bandarlampung mengungkapkan bahwa Kapal Telok Betong hanya beroprasi di perairan.”Sampai saat ini sih belum (aktivitas penggerusan sampah di garis pantai), tapi mungkin bisa dipantau di jam kerja aja, Mas.” tutur Supardi, Minggu (18/8).

Di sisi lain, berdasarkan penelusuran Netizenku.com, berbagai garis sungai wilayah perkotaan terdapat pengendapan sampah. Salah satunya di aliran sungai kebun jeruk. Sampah di sungai tersebut mengendap lantaran musim kemarau yang membuat debit aliran sungai sedikit tersendat.

Salah satu warga sekitar, Doni Saputra mengatakan, penampakan tersebut memang tidak mengeluarkan aroma bau busuk yang terlalu, hanya saja menurutnya penampakan sampah itu tidak mengenakan untuk dilihat.

“Ya ngak busuk sih,  kan sampah plastic. Tapi mungkin biasa saja sih warga sekitar karena tak menimbul kan bau, ya menurut saya nggak enak aja dipandangan.” ungkapnya.

Dalam hal ini, kesadaran masyarakat menyikapi sampah yang menjadi pokok utama, pasalnya sampah tersebut tentunya merupakan produksi masyarakat sekitar yang kemudian akan mengalir ke muara besar dan berakhir di laut atau pesisir Kota Bandarlampung.

“Ya kalau warga masih buang sampah ke kali, ya mungkin bisa terjadi penumpukan di mana-mana. lihat saja nanti kalau satu bulan ini nggak turun hujan, pasti makin numpuk. Karena cuma pemulung saja yang mungutin sampahnya.” kata Doni.

Sementara, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bandarlampung mengungkapkan jumlah sampah di Kota Tapis Berseri mencapai 840 ton per hari. Meski dinas setempat telah menyiapkan sejumlah program terkait pengelolaan sampah.

Baca Juga  Sidang Paripurna HUT Bandar Lampung Diwarnai Aksi Molor Anggota Dewan

Akan tetapi, belum ada penanganan insentif mendalam terhadap permasalahan sampah yang terus berdatangan, terkhususnya di wilayah pesisir Kota Bandarlampung. Dalam hal ini kesadaran masyarakat dinilai paling penting guna mengatasi permasalahan tersebut.

Terkait persoalan sampah ini, Walikota Bandarlampung, Herman HN mengungkapkan, pihaknya hingga kini terus berupaya mengatasi sampah tersebut. Namun, sampah tak kunjung dapat teratasi. Sebab menurutnya sampah tidak hanya berasal dari penduduk setempat, melainkan sampah juga berasal dari wilayah lain.

“Bukan kurang bersih. Saya bersihinnya nggak ngerti lagi. Ya kalian lihat sendirilah saya bersihinnya gimana, laut sungai. Nah ini saya enggak ngerti lagi cara bersihinnya gimana, tapi kan ini sampah dari luar Kota Bandarlampung. Dari Kalianda dari tanggamus Dari pesawaran.” jelasnya.

Sempat disinggung terkait perda guna menegaskan masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan namun Herman HN mengungkapkan bentuk keprihatinannya kepada rakyat, “Kita buat perda juga percuma juga, kita mau menghukum ya nggak bisa juga, mau denda juga kasian rakyat kecil. Serba salah kita ini.” ungkapnya.

Dalam hal ini, orang nomor satu di Kota Tapis Berseri itu menyatakan bahwa pengatasan sampah ini dapat diselesaikan jika adanya bantuan dari masyarakat, yakni kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan.

“Kita sadarkan kepada masyarakat. Supaya nggak buang dikali. Ya kota sudah banyak yang tertib. Namun yang di kali masih. Yang rumah dipinggir kali lempar-lempar aja. Nah ini.” kata Herman HN usai menghadiri rapat paripurna DPR Kota Bandarlampung dalam rangka mempringati HUT ke-337 Bandarlampung, Senin (17/6).

Berpusat ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Bakung, saat ini berbagai pihak menilai TPA Bakung sudah hampir tidak layak dijadikan pusat pembuangan sampah. Peristiwa terjadinya longsor pun menguatkan argument berbagai pihak.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung, Irfan Tri Musri menilai atas peristiwa longsor yang terjadi pada tumpukan sampah di tempat pembuangan akhir (TPA) Bakung dikarenakan pengelolaan sampah yang belum maksimal. Pengelolaan yang kurang baik penyebabnya banyak hal salah satunya bencana.

Baca Juga  Disdikbud Bandar Lampung Fasilitasi Siswa Tak Lolos PPDB

“Longsor itu tidak terjadi, kalau pengolahan sampahnya berjalan dengan baik dan benar,” kata dia, saat dikonfirmasi melalui telepon selular, Rabu, (10/7).

Menurutnya, isu lingkungan tekait pengolahan sampah di TPA Bakung sendiri bukan merupakan hal baru. Ditambah lagi terdapat Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) yang pengolahan limbahnya tidak jelas.

“Seharusnya pemerintah kota setempat melakukan eksekusi dengan kegiatan untuk memperbaki dan memaksimalkan kinerja TPA itu sendiri. Karena isu TPA Bakung ini bukan baru berjalan 2 bulan saja tapi sejak lama. Kalau Pemkot tegas seharusnya sudah ada langkah kongrit dong,” jelasnya.

Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Lampung terus mempercepat proses realisasi pembangunan tempat pembuangan akhir ( TPA ) sampah regional. Pemprov telah mengajukan usulan untuk membangun TPA regional di daerah gedungwani  Jati Agung  Lampung Selatan.

Diketahui  TPA regional yang akan dibangun akan menampung sampah-sampah dari empat kabupaten kota  yakni Bandar Lampung, Metro,  Lampung Selatan, Dan Pesawaran.

Wacana pembangunan TPA regional ini guna menyelesaikan persoalan sampah di provinsi Lampung yang kian hari kian menumpuk. Kepala badan perencanaan dan pembangunan daerah pemprov Lampung  Herlina Warganegara mengatakan usulan tersebut saat ini masih menunggu keputusan dari berbagai pihak.

Menurut Herlina  lahan di gedungwani dinilai strategis karena luas apalagi pemerintah pusat menyatakan untuk membangun TPA regional minimal harus menyiapkan lahan 20 hektare. Dalam perencanaan  pemprov tak hanya membangun TPA regional saja namun juga menyiapkan pabrik pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Herlina menambahkan bahwa untuk membangun TPA regional menggunakan anggaran dari pemerintah pusat. Hanya saja realisasi pembangunan TPA regional ini ditargetkan tahun 2020 mendatang. Namun, jika tidak ada keseimbangan atar pemerintah dan masyarakat, persoalan sampah ini tentunya akan lebih cepat berkembang biak. (Adi)

Berita Terkait

Disdikbud Bandar Lampung Fasilitasi Siswa Tak Lolos PPDB
Eva Dwiana Pastikan Semua Anak Tetap Bersekolah di SMP Negeri
Ratusan Ribu Warga Padati Jalan Sehat HUT Kota Bandar Lampung ke-344
Jalan Sehat HUT Bandar Lampung Siapkan Hadiah Rumah dan Mobil
Rayakan HUT ke-344, Warga Bandar Lampung Sukses Bikin Kota Jadi ‘Pelangi’ Pagi-Pagi
Bandar Lampung Color Run 2026 Targetkan 2.000 Peserta
HUT ke-344 Kota Bandar Lampung, Pemuda Panca Marga Raih Penghargaan di Momen Menuju Indonesia Emas
Sidang Paripurna HUT Bandar Lampung Diwarnai Aksi Molor Anggota Dewan

Berita Terkait

Sabtu, 11 Juli 2026 - 22:14 WIB

Resital Sekolah Seni Tubaba Jadi Refleksi 10 Tahun Pengembangan Kebudayaan

Sabtu, 11 Juli 2026 - 22:09 WIB

Ratusan Peserta Meriahkan Color Run Remind Festival 2026 di Tubaba

Jumat, 10 Juli 2026 - 20:30 WIB

Dekatkan Diri dengan Warga, NasDem Tubaba Gelar Program Cukur Gratis

Jumat, 10 Juli 2026 - 13:46 WIB

830 Mahasiswa UM Metro Jalani KKN dan PLP di Tubaba

Jumat, 10 Juli 2026 - 13:42 WIB

Pangdam XXI/Radin Inten Tinjau Koperasi Merah Putih di Tubaba

Jumat, 10 Juli 2026 - 13:38 WIB

Tubaba Resmi Terapkan Sinergi Pelaksanaan Pidana Kerja Sosial

Selasa, 7 Juli 2026 - 12:32 WIB

DPRD Tubaba Desak Pemkab Tuntaskan Siltap Aparatur Tiyuh dan Gaji ke-13 ASN

Kamis, 2 Juli 2026 - 00:00 WIB

DPRD Tubaba Minta Pemkab Segera Cairkan Siltap Aparatur Tiyuh

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Resital Sekolah Seni Tubaba Jadi Refleksi 10 Tahun Pengembangan Kebudayaan

Sabtu, 11 Jul 2026 - 22:14 WIB

Tulang Bawang Barat

Ratusan Peserta Meriahkan Color Run Remind Festival 2026 di Tubaba

Sabtu, 11 Jul 2026 - 22:09 WIB

Lampung

PPM Bandar Lampung Turut Sukseskan Gerakan Radin Inten Asri

Sabtu, 11 Jul 2026 - 13:01 WIB

Tulang Bawang Barat

Dekatkan Diri dengan Warga, NasDem Tubaba Gelar Program Cukur Gratis

Jumat, 10 Jul 2026 - 20:30 WIB