Nilai Tukar Petani Lampung Naik, NTP Singkong Jeblok

Ilwadi Perkasa

Kamis, 2 Oktober 2025 - 02:28 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Grafik tren NTP Lampung Januari–September 2025.

Terlihat bahwa NTP sempat turun tajam di Agustus (125,40), lalu kembali naik ke 127,62 pada September. Pola ini menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi, menandakan kesejahteraan petani masih sangat dipengaruhi musim dan harga komoditas tertentu.

Grafik tren NTP Lampung Januari–September 2025. Terlihat bahwa NTP sempat turun tajam di Agustus (125,40), lalu kembali naik ke 127,62 pada September. Pola ini menunjukkan fluktuasi yang cukup tinggi, menandakan kesejahteraan petani masih sangat dipengaruhi musim dan harga komoditas tertentu.

Kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) Lampung pada September 2025 seharusnya menjadi kabar gembira. Namun, di balik angka 127,62 yang dirilis BPS, tersimpan ironi: kesejahteraan petani ternyata masih bertumpu pada keberuntungan harga cabai dan kopi, sementara petani pangan dan nelayan terpaksa menelan pahitnya biaya produksi yang tak kunjung turun. Kenaikan ini lebih mirip “bonus musiman” ketimbang fondasi kokoh bagi perbaikan nasib petani.

Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Lampung pada September 2025 mencatat angka 127,62, meningkat 1,76 persen dibanding Agustus 2025. Kenaikan ini terjadi berkat naiknya Indeks Harga yang Diterima Petani (It) sebesar 1,70 persen, sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru turun tipis 0,06 persen. Secara sederhana, petani Lampung mendapatkan posisi tawar yang lebih baik atas hasil produksinya bulan ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung merinci, peningkatan tersebut dipengaruhi lonjakan harga di beberapa subsektor strategis. Tanaman hortikultura tumbuh impresif dengan kenaikan NTP 5,30 persen, terutama didorong oleh meroketnya harga cabai merah akibat pasokan menipis pascapanen. Tanaman perkebunan rakyat juga melonjak 4,31 persen berkat harga kopi yang terdorong kelangkaan pasokan di musim paceklik. Di sisi lain, perikanan budidaya naik 1,54 persen berkat komoditas udang payau yang harganya terangkat.

Baca Juga  Abu Vulkanik Krakatau Ancam Siswa, Syukron Desak Sekolah Libur Sementara

Namun tidak semua subsektor bernasib serupa. Tanaman pangan justru tertekan dengan penurunan NTP sebesar 1,52 persen, terutama akibat anjloknya harga singkong di musim panen raya. Peternakan juga terkoreksi 0,22 persen, sementara perikanan tangkap turun tipis 0,12 persen, tertekan kenaikan biaya produksi, terutama bahan bakar solar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi ini menunjukkan adanya ketimpangan antar subsektor. Bagi petani hortikultura dan perkebunan, September adalah bulan “panen rejeki” karena harga jual menguat. Sebaliknya, petani pangan dan nelayan justru menghadapi tekanan akibat rendahnya harga jual dan biaya operasional yang tetap tinggi.

Sementara itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) Lampung ikut naik 1,41 persen dari 129,47 menjadi 131,29. Indikator ini menandakan usaha pertanian secara keseluruhan masih mengalami surplus setelah memperhitungkan biaya produksi. Namun, tidak merata: subsektor hortikultura dan perikanan budidaya tercatat mengalami penurunan NTUP, menandakan margin usaha mereka tergerus meski harga jual meningkat.

Baca Juga  Seminar Al-Aqsha di Lampung Dorong Generasi Muda Temukan Peran Nyata untuk Palestina

Di balik capaian ini, BPS juga mencatat penurunan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) Lampung sebesar 0,21 persen, didorong turunnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Penurunan konsumsi justru menjadi anomali, karena secara nasional IKRT naik 0,04 persen. Lampung bahkan berada di peringkat ke-27 dari 38 provinsi dalam hal pertumbuhan konsumsi rumah tangga petani.

Jika ditarik ke belakang, posisi NTP Lampung pada September 2025 sebenarnya masih lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu, turun 1,51 persen. Peternakan menjadi subsektor dengan penurunan terdalam, yakni 2,87 persen. Artinya, kenaikan NTP bulan ini lebih bersifat koreksi jangka pendek, belum menjadi tren yang kokoh.

Baca Juga  Marindo Buka Evaluasi Pembinaan Bahasa Indonesia, Enam Lembaga Raih Apresiasi

Kenaikan NTP September hanya memberi napas segar bagi sebagian petani Lampung, namun ketidakstabilan antar subsektor menjadi alarm penting. Ketergantungan pada komoditas tertentu seperti cabai dan kopi menimbulkan volatilitas tajam. Ketika harga bagus, NTP melonjak, tapi begitu panen raya atau pasokan melimpah, nilai tukar langsung tertekan. Sangat automatik, menyengsarakan petani.

Pemerintah daerah perlu mengantisipasi fluktuasi harga dengan memperkuat sistem resi gudang, akses pasar yang lebih luas, serta menjaga stabilitas biaya produksi seperti pupuk dan energi. Antisipasi seperti itu sering disampaikan hingga kita bosan karena terasa tidak dilakukan dengan mengambil langkah-langkah struktural dan perencanaan serius dan matang. Bahkan, laporan naik turun dan ketimpangan NTP yang dilaporkan BPS setiap bulan seperti laporan tidak penting dan jarang dibahas seperti inflasi yang mendapat atensi besar.

Perkembangan NTP hanya akan jadi “kejutan bulanan” yang cepat hilang, bukan perbaikan berkelanjutan bagi kesejahteraan petani.***

Berita Terkait

Marindo Buka Evaluasi Pembinaan Bahasa Indonesia, Enam Lembaga Raih Apresiasi
Abu Vulkanik Krakatau Ancam Siswa, Syukron Desak Sekolah Libur Sementara
Seminar Al-Aqsha di Lampung Dorong Generasi Muda Temukan Peran Nyata untuk Palestina
Perubahan KUA-PPAS 2026 Pringsewu Disepakati, Belanja Daerah Naik Jadi Rp1,195 Triliun
Gubernur Lampung Perkuat Operasi Terpadu Tangani Karhutla
Tubaba Nihil PHK Semester I 2026, Disnakertrans Siapkan Tim Monitoring ke Perusahaan
BPBD Padamkan Kebakaran TPA Bakung Teluk Betung Barat
32 Pramuka Tubaba Siap Bawa Nama Daerah ke Jambore Nasional XII 2026

Berita Terkait

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:15 WIB

Bupati Tanggamus Pastikan Relokasi Pasar Talang Padang Berlanjut, Pedagang Digratiskan Sewa Selama 12 Bulan

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:55 WIB

Delapan Siswa SMPN 1 Talangpadang Alami Keluhan, Sampel Makanan Diuji Laboratorium

Jumat, 24 Juli 2026 - 14:52 WIB

Tanggamus Jajaki Beasiswa dan Investasi dengan Turki

Senin, 20 Juli 2026 - 20:35 WIB

RSUD Batin Mangunang Akui Minim Sosialisasi SOP Pelayanan

Kamis, 16 Juli 2026 - 18:32 WIB

DPRD Tanggamus Setujui LKPj Bupati 2025, Rekomendasikan Perbaikan Kinerja Pemerintahan

Kamis, 16 Juli 2026 - 17:37 WIB

Sekda Tanggamus Minta Pekon Prioritaskan Layanan Kesehatan Primer

Rabu, 1 Juli 2026 - 11:59 WIB

PBI BPJS Kesehatan Dinonaktifkan, Dinsos Tanggamus Sarankan Warga Beralih Sementara ke Peserta Mandiri

Senin, 22 Juni 2026 - 20:19 WIB

Tanggamus Raih WTP Kedua Berturut-turut, Bupati Dorong Transparansi APBD

Berita Terbaru

Pringsewu

Wabup Pringsewu Imbau Orangtua Hargai Proses Tumbuh Kembang Anak

Selasa, 20 Okt 2026 - 19:13 WIB

Lampung Selatan

HUT ke-62 Golkar, DPD Lampung Selatan Santuni 20 Anak Yatim-Piatu

Selasa, 20 Okt 2026 - 12:49 WIB

Tulang Bawang Barat

Pemkab Tubaba Siapkan Anggaran Pelaksanaan Putusan MA Terkait SDN Pagar Dewa

Senin, 19 Okt 2026 - 19:11 WIB