Mirzani, Petani Harus Nikmati Hasil, Bukan Hanya Menanggung Risiko

Tauriq Attala Gibran

Selasa, 7 Juli 2026 - 16:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan sudah saatnya petani tidak hanya menjadi pihak yang menanggung risiko dalam sektor pertanian, tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari hasil produksinya.

Lampung (Netizenku.com): Hal itu disampaikan Mirzani saat membuka Bimbingan Teknis Penyuluh Pertanian Pendamping Kegiatan Pupuk Hayati Cair Program Desaku Maju yang diselenggarakan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Lampung, Selasa (7/7/2026).

Menurutnya, selama ini petani menghadapi hampir seluruh risiko produksi, mulai dari cuaca yang tidak menentu, serangan hama, hingga fluktuasi harga. Namun, keuntungan yang lebih besar justru dinikmati pelaku usaha di tingkat atas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pihak yang paling besar menanggung risiko adalah petani, sedangkan keuntungan lebih banyak dinikmati di tingkat atas. Kondisi seperti ini sudah berlangsung cukup lama,” ujar Mirzani.

Baca Juga  Gubernur Lampung Siapkan Sistem Manajemen Talenta ASN Berbasis Kompetensi

Ia menjelaskan, perusahaan besar memiliki akses terhadap permodalan yang lebih murah, sumber daya manusia yang kuat, serta kemampuan bertahan ketika mengalami kerugian. Sementara itu, petani masih harus berjuang sendiri menghadapi berbagai persoalan di lapangan.

Karena itu, Pemerintah Provinsi Lampung mendorong kebijakan yang lebih berpihak kepada petani agar nilai tambah hasil pertanian dapat kembali meningkatkan kesejahteraan para produsen pangan.

Mirzani mengungkapkan, konsep tersebut telah mulai diuji sejak 2019 melalui pengembangan pertanian di lahan sekitar 600 hektare dengan hasil produktivitas padi mencapai sekitar 11 ton per hektare.

Ia juga menilai arah pembangunan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto semakin memberikan perhatian kepada sektor primer, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan.

Menurutnya Mirzani,  sektor pertanian merupakan tulang punggung perekonomian Lampung. Sekitar 30 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Lampung berasal dari sektor primer, sementara hampir 70 persen masyarakat menggantungkan hidup pada sektor tersebut.

Baca Juga  Harlah Ke-28, PKB Lampung Gelar Pasar Murah di 100 Titik

Mirzani mengatakan, keberpihakan kepada petani harus diwujudkan melalui kebijakan harga yang memberikan keuntungan layak. Kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah, menurutnya, telah meningkatkan pendapatan petani tanpa memicu lonjakan harga beras yang signifikan di tingkat konsumen.

Peningkatan pendapatan petani tersebut, lanjutnya, turut berkontribusi terhadap percepatan penurunan angka kemiskinan di Lampung sepanjang 2025.

Namun, Mirzani menegaskan keberhasilan pembangunan pertanian tidak hanya diukur dari tingginya produksi, melainkan dari meningkatnya kesejahteraan keluarga petani.

“Kalau petani sejahtera, bukan hanya sawah yang tumbuh subur. Kesempatan belajar anak-anak di desa juga ikut berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian Kementerian Pertanian RI, Eko Nugroho Dharmo Putro, mengatakan penyuluh pertanian merupakan ujung tombak pembangunan pertanian nasional sekaligus motor penggerak terwujudnya swasembada pangan.

Baca Juga  Lampung Jadi Pilot Project Bioetanol Nasional, Siap Pasok 10 Persen Kebutuhan E10 Indonesia

Menurut Eko, penyuluh tidak lagi sekadar menyampaikan teknologi kepada petani, tetapi juga berperan sebagai pendamping, motivator, fasilitator, sekaligus agen perubahan di lapangan.

“Keberhasilan program pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh peran aktif penyuluh dalam mendampingi petani. Penyuluh harus mampu menghadirkan inovasi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat kelembagaan petani,” katanya.

Ia menambahkan, tantangan pertanian modern menuntut penyuluh terus meningkatkan kompetensi, menguasai teknologi digital, serta mempercepat penerapan inovasi di kalangan petani.

Selain mengawal program prioritas Kementerian Pertanian, penyuluh juga diharapkan membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan media agar inovasi pertanian lebih cepat diterapkan.

“Dengan penyuluh yang kompeten dan inovatif, cita-cita mewujudkan pertanian modern, maju, mandiri, dan swasembada pangan bukanlah hal yang mustahil,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB
Gubernur Lampung Dorong POC dan Hilirisasi Demi Tingkatkan Kesejahteraan Petani
Imelda Minta Publik Bijak Sikapi Informasi Gunung Anak Krakatau
Elly Wahyuni Minta Disdik Tegas terhadap Sekolah yang Paksa Siswa Beli Seragam
Wahrul Fauzi Siap Maju Pimpin Karang Taruna Lampung, Usung Pemberdayaan Pemuda dan 1.000 UMKM
Komisi IV DPRD Lampung Minta Tarif Tol BTB Dievaluasi
DPRD Lampung Panggil Pengelola Bahas Kenaikan Tarif Tol
PFI Lampung Kecam Intimidasi Jurnalis Tribun di PN Tanjung Karang

Berita Terkait

Kamis, 2 Juli 2026 - 00:00 WIB

DPRD Tubaba Minta Pemkab Segera Cairkan Siltap Aparatur Tiyuh

Jumat, 19 Juni 2026 - 12:42 WIB

DPRD Tubaba Soroti Proyek Irigasi Rp48,35 Miliar

Jumat, 12 Juni 2026 - 10:38 WIB

Kwarcab Pramuka Tubaba Lantik Pengurus PAW, Fokus Kejar Program Strategis

Kamis, 11 Juni 2026 - 15:53 WIB

SDN 14 Tulang Bawang Barat Terbakar, Ruang Kelas Hangus Dilalap Api

Rabu, 10 Juni 2026 - 14:46 WIB

DPRD Tubaba Sidak Proyek Irigasi Rp48,35 Miliar yang Diduga Bermasalah

Rabu, 10 Juni 2026 - 08:43 WIB

Proyek Irigasi Rp48 Miliar di Tubaba Diduga Mangkrak

Minggu, 31 Mei 2026 - 21:02 WIB

Pemkab Tubaba Raih Opini WTP ke-15 Kali Berturut-turut

Kamis, 21 Mei 2026 - 12:33 WIB

Tubaba Usulkan Sekolah Nasional Terintegrasi, Siapkan Kawasan Pendidikan Bertaraf Internasional

Berita Terbaru

Lampung

Akademisi Unila Soroti Dampak Kenaikan Tarif Tol BTB

Selasa, 7 Jul 2026 - 18:07 WIB