Mengapa Beras di Gudang Bulog Bisa Berkutu, dan Bagaimana Cara Menanganinya

Ilwadi Perkasa

Kamis, 11 September 2025 - 20:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pekerja memeriksa stok beras Bulog di Gudang Perum Bulog Campang Raya, Bandar Lampung, Lampung, Rabu (15/1/2025). Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung mendapatkan target pengadaan sebanyak 100 ribu ton setara beras pada tahun 2025. ANTARA FOTO/Ardiansyah/foc.

Pekerja memeriksa stok beras Bulog di Gudang Perum Bulog Campang Raya, Bandar Lampung, Lampung, Rabu (15/1/2025). Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Lampung mendapatkan target pengadaan sebanyak 100 ribu ton setara beras pada tahun 2025. ANTARA FOTO/Ardiansyah/foc.

Kunjungan anggota Komisi IV DPR RI ke gudang Bulog Campang Raya, Bandar Lampung, Kamis (11/9), memunculkan temuan mengejutkan. Ribuan ton beras impor yang menumpuk di gudang ternyata sudah diserang kutu.

Irham Jafar Lan Putra (PAN) dan Dwita Ria Gunadi (Gerindra) dibuat heran ketika melihat langsung kondisi beras impor asal Pakistan, Thailand, dan Myanmar. “Ini ada kutunya, kok bisa begini?” ujar Dwita Ria.

Fenomena beras berkutu memang kerap terjadi. Pertanyaanya, mengapa bisa terjadi, dan apakah beras itu masih aman dikonsumsi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut ahli pangan, kutu pada beras bukan berarti beras itu rusak atau beracun. Kutu beras (sitophilus oryzae) adalah hama gudang yang biasa menyerang biji-bijian.

Baca Juga  Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: "Cemomot" dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka

Ada beberapa faktor penyebabnya, seperti terlalu lamanya beras itu disimpan. Beras impor atau cadangan pemerintah biasanya disimpan dalam jangka panjang. Semakin lama disimpan, semakin tinggi kemungkinan munculnya hama.

Penyebab beras berkutu juga dikarenakan masih ada telur kutu yang menempel. Setelah beberapa bulan, telur itu menetas.

Kelembaban dan suhu Gudang yang tinggi dan sirkulasi udara kurang baik memicu berkembangnya kutu. Dan jika kemasan karung beras kurang rapat, serangga dari luar bisa masuk.

Cara Bulog Mengatasinya

Bulog memiliki standar operasional untuk menjaga mutu beras agar tetap layak konsumsi meski disimpan lama. Beberapa langkah yang dilakukan antara lain dengan melakukan pemeriksaan rutin. Stok beras diperiksa secara berkala untuk memastikan kualitas dan mendeteksi adanya hama.

Baca Juga  Inflasi Hulu Mengendap, APBD Lampung 2026 Diuji di Tengah Agenda Infrastruktur

Jika ditemukan kutu, beras dibersihkan dengan blower (mesin penyedot/penyaring) agar butir beras kembali bersih sebelum dikemas ulang.

Bolog juga secara rutin melalukan pengendalian suhu dan kelembaban dengan merancang gudang dengan kelengkapan sistem ventilasi agar sirkulasi udara terjaga dan kelembaban stabil.

Selain itu Bulog menerapkan prinsip first in, first out, yaitu beras yang masuk lebih dulu akan didistribusikan lebih dulu agar tidak terlalu lama mengendap.

Dalam kondisi tertentu, gudang dilakukan pengasapan dengan bahan yang aman sesuai standar pangan untuk membasmi serangga.

Baca Juga  Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun

Layak Konsumsi atau Tidak?

Secara umum, beras berkutu masih aman dikonsumsi setelah dibersihkan, dicuci, dan dimasak dengan baik. Kehadiran kutu lebih kepada masalah estetika dan persepsi mutu, bukan soal keamanan.

Namun, jika beras sudah berubah warna, berbau apek, atau teksturnya hancur, barulah dianggap menurun kualitasnya.

Temuan beras berkutu di gudang Bulog seharusnya tidak serta-merta menimbulkan kepanikan. Justru ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan stok beras harus terus ditingkatkan, terutama dalam menjaga kualitas beras impor yang lama tersimpan. Pada saat yang sama, penguatan serapan gabah lokal penting dilakukan agar beras yang beredar lebih segar, berkualitas, dan sesuai selera masyarakat.

Berita Terkait

Bukan Padi dan Jagung, Hortikultura Jadi Penopang Daya Tawar Petani Lampung 2025
Inflasi Lampung 2025 Terkendali, Ditahan Deflasi Pendidikan dan Didorong Pangan
Inflasi Hulu Mengendap, APBD Lampung 2026 Diuji di Tengah Agenda Infrastruktur
Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
PAD Lampung Tersendat, Perencanaan APBD Dipertanyakan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 21:57 WIB

Siswa Kelas 2 SD Muhammadiyah Pringsewu Berbagi Takjil, Tanamkan Kepedulian Sejak Dini

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:30 WIB

Pemkab Pringsewu Awali Safari Ramadan 2026 di Kecamatan Ambarawa

Senin, 23 Februari 2026 - 19:27 WIB

Polres Pringsewu Raih Penghargaan Perlindungan Anak

Sabtu, 21 Februari 2026 - 08:03 WIB

Bupati Pringsewu Paparkan Capaian Satu Tahun Kepemimpinan pada Buka Bersama Insan Pers

Jumat, 20 Februari 2026 - 06:46 WIB

Dikira Boneka, Jasad Remaja Ditemukan di Sungai Way Tebu

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:55 WIB

Berkas Lengkap, Tersangka Jambret Di pringsewu Dilimpahkan Polisi ke JPU

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:54 WIB

Pemkab Pringsewu dan BAPANAS Gelar Rakor Satgas Saber Harga

Senin, 2 Februari 2026 - 19:49 WIB

Polres Pringsewu Hadirkan Layanan SKCK di MPP

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Wabup Tubaba Ajak Warga Perkuat Sedekah dan Kepedulian Lingkungan

Rabu, 25 Feb 2026 - 22:31 WIB

Lampung Selatan

Realisasi Infrastruktur Lamsel 2025 Capai 100 Persen

Rabu, 25 Feb 2026 - 21:24 WIB