“Lucunya” Inflasi Lampung: Stabil di Angka, Guncang di Dapur

Ilwadi Perkasa

Rabu, 1 Oktober 2025 - 20:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potret Emak-Emak Masak Sambil Duduk. (Sumber: Instagram/ngumpulreceh/wkwkland_real)

Potret Emak-Emak Masak Sambil Duduk. (Sumber: Instagram/ngumpulreceh/wkwkland_real)

Inflasi tahunan Lampung pada September 2025 tercatat hanya 1,17 persen, sebuah angka yang di atas kertas tampak stabil dan terkendali. Namun di balik tenangnya statistik, ada “kelucuan” yang bikin susah tertawa.

Sebab, di balik kata stabil itu rakyat justru menghadapi gejolak harga pangan yang melonjak hingga 5,02 persen. Dipicu oleh bawang merah, beras, dan komoditas dapur lain. Sementara itu, sektor pendidikan kembali mencatat deflasi ekstrem -18,20 persen akibat kebijakan penghapusan uang komite.

Begitulah bentuk kelucuan alias paradoks yang timbul jika mengulik perkembangan Indeks Harga Konsumen Provinsi Lampung September 2025.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Inflasi makro terlihat jinak, tetapi beban hidup masyarakat terasa semakin berat. Inilah dilema khas Lampung, yakni bertahan menjaga angka sekaligus membenahi akar persoalan distribusi pangan dan keberlanjutan pendidikan.

Baca Juga  Dukung Nobar Piala Dunia 2026, Ketua Komisi II DPRD Lampung Dorong Kebangkitan UMKM

Angka inflasi Lampung pada September 2025 sebesar 1,17 persen (yoy) jelas terlihat aman, terkendali, dan layak mendapat pujian.

Namun harus diketahui, bahwa di balik ketenangan statistik itu, banyak dapur rumah tangga dan pasar rakyat justru bergolak.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan indeks harga konsumen (IHK) Lampung naik ke 108,51, dengan sumbangan terbesar datang dari kebutuhan paling mendasar yaitu makanan.

Yang mengejutkan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau melesat hingga 5,02 persen. Itu artinya Harga-harga di kelompok ini naik dan mahal. Dalam bahasa emak-emak, “Bingung mau masak apa, semua harga bahan makanan mahal. Jangan banyak pinta, makan saja yang tersedia di meja makan.”

Untuk soal ini emak-emak tidak pernah salah. Jangan coba-coba membantah, sebab harga cabai merah, bawang merah, beras, daging ayam, hingga minyak goreng memang sedang bergejolak.

Baca Juga  HUT Bandar Lampung ke-344, Budiman As Minta Drainase dan Wisata Jadi Prioritas

Si paling biang kerok adalah bawang merah, menyumbang 0,65 persen inflasi, padahal Lampung kerap mem-branding komoditas ini sebagai penopang ketahanan pangan.

Untung saja, kelompok pendidikan terkontraksi hingga deflasi paling dalam sejarah sebesar 18,20 persen.

Inflasi kumulatif yang rendah dari 4 daerah cakupan di sebetulnya juga semu dan tak berlaku umum. Tingkat inflasi di Lampung tidak pernah stabil merata, selalu saja diwarnai ketimpangan antarwilayah

Lampung Timur mencatat inflasi tertinggi 2,44 persen, sementara Kota Bandar Lampung hanya 0,37 persen. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa beban inflasi lebih berat justru berada di kantong-kantong produksi pangan pedesaan dibanding kota besar.

Dengan bahasa povokatif dapat dinyatakan bahwa inflasi pangan di desa menciptakan lingkaran setan. Harga naik, petani tidak otomatis sejahtera, dan konsumen pun menjerit.

Baca Juga  Aliansi Jurnalis Independen Kecam Penahanan Jurnalis Indonesia oleh Militer Israel

Lalu bagaimana dengan inflasi secara bulanan (mtm) yang tertahan di 0,16 persen. Tampak kecil, tapi komoditas yang menyulutnya tetap sama, yaitu cabai, ayam, dan emas perhiasan.

Yang lebih rendah lagi dari sisi year to date (ytd). Inflasi Lampung bahkan hanya 0,07 persen. Angka ini nyaris nol, memberi kesan ekonomi terkendali. Namun sekali lagi, angka tidak selalu bercerita tentang kenyataan di pasar.

Dari semua data ini memperlihatkan tiga paradoks sekaligus. Pertama, inflasi resmi rendah, tetapi biaya hidup masyarakat tetap menanjak, terutama untuk pangan. Kedua, deflasi pendidikan, tetapi dibayang-bayangi penurunan kualitas dan akses. Ketiga, kota relatif aman, tapi desa menanggung beban lebih besar.

Dengan kata lain, inflasi Lampung September 2025 adalah potret ekonomi dua wajah. Di kertas terlihat jinak, tapi di dapur rakyat terasa mencekik.

Berita Terkait

Pangdam XXI/RI Tinjau Pembangunan KDKMP di Lampung Barat
Pangdam XXI/RI Tekankan Sinergi Sukseskan KDKMP
RSUD Abdul Moeloek dan KAI Perluas Layanan Kesehatan Lewat Rail Clinic
Jihan Pimpin Rakor Percepatan Eliminasi TBC di Lampung Selatan
Genjot Roda Ekonomi, DPRD Lampung Desak OPD Percepat Serapan Anggaran 2026
Setahun Kepengurusan IJP Lampung, Dari Solidaritas Menuju Kontribusi
Mardiana Tuding Dewan Pendidikan Lampung Mirip LSM
Budhi Condrowati Minta Pemprov Lampung Cicil Utang BPJS Rp105 Miliar

Berita Terkait

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:44 WIB

Rayakan HUT ke-344, Warga Bandar Lampung Sukses Bikin Kota Jadi ‘Pelangi’ Pagi-Pagi

Sabtu, 20 Juni 2026 - 15:04 WIB

Bandar Lampung Color Run 2026 Targetkan 2.000 Peserta

Rabu, 17 Juni 2026 - 16:39 WIB

HUT ke-344 Kota Bandar Lampung, Pemuda Panca Marga Raih Penghargaan di Momen Menuju Indonesia Emas

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:53 WIB

Sidang Paripurna HUT Bandar Lampung Diwarnai Aksi Molor Anggota Dewan

Rabu, 17 Juni 2026 - 12:32 WIB

HUT ke-344 Bandar Lampung, Eva Dwiana Fokus Atasi Banjir dan Benahi Infrastruktur

Rabu, 17 Juni 2026 - 11:12 WIB

HUT Bandar Lampung ke-344, Wali Kota Eva Dwiana Minta Pemuda Lanjutkan Perjuangan Pahlawan

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:04 WIB

Solusi Banjir Kota Bandar Lampung, Forum DAS Siapkan 1.500 Titik Prioritas

Selasa, 28 April 2026 - 18:08 WIB

Smart BRT Itera, Model Transportasi Masa Depan Lampung

Berita Terbaru

Pringsewu

Polres Pringsewu Siagakan 285 Personel Amankan Kunjungan Jokowi

Jumat, 26 Jun 2026 - 10:45 WIB

Lampung

Pangdam XXI/RI Tinjau Pembangunan KDKMP di Lampung Barat

Jumat, 26 Jun 2026 - 10:40 WIB

Lampung

Pangdam XXI/RI Tekankan Sinergi Sukseskan KDKMP

Jumat, 26 Jun 2026 - 10:37 WIB