JPPR Nilai Bawaslu Terkesan Lepas Tangan di Gakkumdu

Redaksi

Selasa, 10 November 2020 - 21:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Provinsi Lampung, Erfan Zain. Foto: Ist

Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Provinsi Lampung, Erfan Zain. Foto: Ist

Bandarlampung (Netizenku.com): Koordinator Jaringan Pendidikan Pemilih untuk Rakyat (JPPR) Provinsi Lampung, Erfan Zain, menilai Bawaslu Kota Bandarlampung terkesan lepas tangan dalam menangani kasus dugaan pelanggaran pidana pemilihan di Sentra Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) setempat.

Hingga saat ini, tercatat 11 pelanggaran pemilihan, dimana 4 laporan dan 7 temuan, yang dibahas oleh Sentra Gakkumdu harus terhenti di pembahasan kedua karena unsur pidana tidak terpenuhi, bahkan ada yang berakhir dengan sanksi administrasi.

\”Itu sebenarnya yang membuat kami bertanya, ada apa. Kasus money politics juga enggak pernah bisa gol, kemudian netralitas ASN juga tidak pernah gol, atau memang ada permainan kita kan enggak tahu,\” kata Erfan di Bandarlampung, Selasa (10/11).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun dia berharap, kajian yang dilakukan Bawaslu bersama dua unsur lainnya dalam Sentra Gakkumdu, Kepolisian dan Kejaksaan, tidak mendapatkan intervensi dari manapun.

\”Dalam beberapa kali kita melakukan konfirmasi ke Bawaslu, terkait hal itu memang Bawaslu selalu melemparkan urusan pidana pemilihan kepada kepolisian untuk menginvestigasi lebih dalam,\” ujar dia.

\”Dalam hal ini seolah-olah Bawaslu seperti lepas tangan. Menurut kami ketika itu sudah terbukti ada dugaan pidana pemilihan dan Bawaslu sudah mengkaji itu harusnya diperkuat oleh Bawaslu di Gakkumdu,\” lanjutnya.

Dia menilai Bawaslu dalam melakukan kajian terhadap suatu dugaan pelanggaran pemilihan pasti berdasarkan undang-undang, sehingga Bawaslu diharapkan bisa meyakinkan dua unsur lainnya, Kepolisian dan Kejaksaan, bahwa unsur pidananya terpenuhi.

\”Menurut kami, untuk urusan pidana pemilihan seolah-olah Bawaslu lepas tangan, entah ini cari aman atau tidak, kita enggak tahu,\” tegas Erfan.

Sementara Koordinator Gakkumdu Bawaslu Bandarlampung, Yahnu Wiguno Sanyoto, mengatakan pihaknya selalu melakukan kajian awal, sebelum meregistrasi laporan atau temuan pelanggaran pemilihan. Apabila dinilai sudah mencukupi syarat formal dan materil akan dibahas bersama-sama di pembahasan kesatu.

Hal ini sesuai Peraturan Bersama Ketua Bawaslu RI, Kapolri, dan Jaksa Agung RI Nomor: 5 Tahun 2020, Nomor: 1 Tahun 2020, Nomor: 14 Tahun 2020 tentang Sentra Penegakan Hukum Terpadu Pada Pilkada.

\”Setiap kali kita mendapatkan temuan atau laporan, dalam 1×24 jam, kita selalu melakukan pembahasan di Gakkumdu dalam pembahasan pertama,\” ujar Yahnu.

Pembahasan pertama dilakukan untuk menemukan peristiwa pidananya, kemudian mencari dan mengumpulkan bukti-bukti serta selanjutnya menentukan pasal-pasal yang disangkakan termasuk melakukan hal yang harus dilakukan dalam beberapa hari ke depan dalam proses penanganan pelanggaran.

\”Kita dalam proses itu melakukan kajian pelanggaran pemilihan, dengan mengundang pelapor, terlapor, saksi atau ahli. Sementara penyidik maupun jaksa yang tergabung dalam Sentra Gakkumdu, berdasarkan peraturan bersama, wajib melakukan pendampingan dalam meminta keterangan dan/atau klarifikasi,\” kata dia.

Namun dalam beberapa kali permintaan klarifikasi, pihak Kepolisian dan Kejaksaan, tidak melakukan pendampingan.

\”Mestinya konfirmasinya jangan dengan Bawaslu, jangan hanya kepada satu lembaga. Silahkan mengonfirmasi juga pendapat dari unsur Gakkumdu yang lain. Jadi tidak subyektif dan tidak dalam satu perspektif sementara di Gakkumdu kan ada tiga unsur; Bawaslu, Kepolisian, dan Kejaksaan,\” ujarnya.

Hasil dari proses kajian dalam penanganan pelanggaran pemilihan dituangkan dalam dokumen kajian laporan atau temuan.

\”Jaksa melakukan pendampingan dan monitoring dalam proses kajian pelanggaran pemilihan dan penyelidikan. Sementara penyidiknya melakukan penyelidikan. Artinya ketika sudah melalui pembahasan kedua, ketika semuanya sudah menyampaikan pendapat masing-masing, salah satu unsur saja ada yang tidak sependapat, maka akan terhenti,\” pungkas Yahnu. (Josua)

Berita Terkait

Kekuasaan dalam Dunia Fiksi
Pesan untuk Jakarta, “Ukur Ulang atau Kami Duduki!”
Otonomi Tanpa Dompet: Lampung Harus Berani Mandiri Fiskal (Jawaban Pasca Pemangkasan TKD)
Nasib Petani Singkong Lampung di Tengah Oligarki dan Kebijakan Mentan yang “Menjengkelkan”
Fiskal Ketat, Lampung Tak Ingin Sekadar Bertahan, Tapi Bertumbuh
Badai Proxy War Mengintai Fondasi Ekonomi Nasional
Jeritan Petani Singkong Lampung Ubah Arah Kebijakan Nasional
Jarnas.Indo Kecam DPR dan Pemerintah: Rakyat Tercekik, Elit Politik Malah Menikmati Fasilitas

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 14:12 WIB

Pengurus Baru Pramuka Tulang Bawang Udik Resmi Dilantik, Ini Pesan Tegas Ketua Kwarcab Tubaba

Kamis, 10 September 2026 - 17:19 WIB

DPRD Tubaba Sahkan Raperda APBD-P 2026, Busroni Tegaskan Pengawasan Tak Berhenti di Paripurna

Selasa, 1 September 2026 - 20:09 WIB

Pramuka Tubaba Diminta Jadi Teladan, Bupati Novriwan Soroti Pangan, Disiplin, dan Penanganan Sampah Plastik

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:11 WIB

Kapolres Tubaba Ajak Pers Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

Rabu, 19 Agustus 2026 - 20:24 WIB

PAD Tubaba Digenjot, Aset Daerah dan Pajak Mulai Dioptimalkan

Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:24 WIB

HUT ke-25, Demokrat Tubaba Hadir Lewat Aksi Nyata di Tengah Masyarakat

Selasa, 18 Agustus 2026 - 11:36 WIB

Bupati Tubaba: Hilangkan Sekat, Satukan Komando untuk Percepat Pembangunan

Senin, 17 Agustus 2026 - 19:12 WIB

Bupati Tubaba: Disiplin Kunci Raih Cita-cita

Berita Terbaru