Provinsi Lampung menutup tahun 2025 dengan prestasi ekonomi yang mencerminkan optimisme dan kepercayaan tinggi dari dunia usaha. Hingga triwulan III, realisasi investasi telah menembus Rp12,95 triliun, atau 120,3 persen dari target Rp10,76 triliun. Capaian ini tidak hanya melampaui ekspektasi, tetapi juga menegaskan Lampung sebagai salah satu motor investasi paling dinamis di Sumatera.
Dari jumlah tersebut, Rp10,83 triliun berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Rp2,12 triliun dari Penanaman Modal Asing (PMA). Total investasi ini tersebar dalam 16.457 proyek dan berhasil menyerap 18.645 tenaga kerja, terdiri dari 18.622 tenaga kerja Indonesia dan 23 tenaga kerja asing.
Kinerja luar biasa ini menempatkan Lampung pada peringkat ke-5 se-Sumatera, pencapaian yang mempertegas daya tarik ekonomi daerah. Pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru bermunculan. Bandar Lampung, Lampung Selatan, dan Tanggamus menjadi tiga wilayah dengan serapan investasi terbesar.
Bandar Lampung, dengan potensi sektor perdagangan, transportasi, hotel dan restoran, menjadi etalase ekonomi perkotaan yang menggeliat. Lampung Selatan tumbuh sebagai basis industri makanan dan logistik, sementara Tanggamus menjadi pusat investasi energi dan pertambangan yang terus meningkat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Peran BUMN juga memberi warna penting dalam peta investasi Lampung. Total investasi BUMN mencapai Rp3,1 triliun, dengan kontribusi utama dari PT Pertamina Geothermal Energy (Rp1,6 triliun) dan PLN (Rp1,29 triliun) yang mengembangkan proyek-proyek energi berkelanjutan di Tanggamus dan sekitarnya.
Dari sisi global, Lampung kini menjadi tujuan bagi investor dari 46 negara, dengan lima negara terbesar yaitu Singapura, Korea Selatan, Malaysia, Australia, dan Tiongkok. Negara-negara sahabat itu telah menanamkan modal di sektor industri makanan, pertanian-perkebunan, kayu, logistik, dan energi.
Semua ini menunjukkan satu hal penting, yakni kepercayaan dunia usaha terhadap Lampung terus menguat. Provinsi ini tidak lagi hanya menjadi pintu gerbang Pulau Sumatera, tetapi telah menjelma sebagai titik pertumbuhan ekonomi baru yang berperan strategis dalam rantai pasok nasional.***








