Harga Stabil Inflasi Turun, Hati-Hati! Lampung Bisa Terjebak “Low Growth”

Ilwadi Perkasa

Selasa, 2 September 2025 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Harga Stabil, Ekonomi Mandek: Lampung Hadapi Jebakan Low Growth

Harga Stabil, Ekonomi Mandek: Lampung Hadapi Jebakan Low Growth

Inflasi Lampung turun ke 1,05 persen pada Agustus 2025, namun daya beli yang lesu menunjukkan ekonomi masih tertahan.

***

Provinsi Lampung pada Agustus 2025 mencatat inflasi year on year (yoy) sebesar 1,05 persen, jauh lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 2,33 persen. Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,34, angka ini menunjukkan bahwa tekanan harga relatif terkendali. Bahkan secara year to date (ydt), Lampung justru mengalami deflasi sebesar 0,08 persen, yang mengindikasikan daya beli masyarakat cenderung stagnan.

Inflasi tertinggi terjadi di Lampung Timur sebesar 2,48 persen yang banyak dipicu lonjakan harga bahan pokok seperti bawang merah, beras, dan tomat. Sebaliknya, inflasi terendah tercatat di Bandarlampung hanya 0,19 persen, meski IHK tetap bergerak naik karena pengaruh komoditas emas perhiasan, biaya kontrak rumah, dan makanan hewan peliharaan.

Baca Juga  Bukan Padi dan Jagung, Hortikultura Jadi Penopang Daya Tawar Petani Lampung 2025

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jika dibandingkan dengan rata-rata nasional, Lampung berada pada posisi inflasi rendah. Kondisi ini sejalan dengan target Bank Indonesia yang mengupayakan inflasi terkendali di kisaran 1,5–3,5 persen pada 2025.

Rendahnya inflasi tersebut juga mengindikasikan bahwa permintaan domestik masih lemah. Hal ini tercermin dari deflasi month to month (mtm) di seluruh kota IHK, dengan deflasi terdalam di Bandarlampung sebesar -1,81 persen akibat turunnya biaya pendidikan dan transportasi. Harga barang dan jasa cenderung menurun bukan semata karena efisiensi pasar, melainkan lebih karena melemahnya permintaan masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa Lampung berpotensi terjebak dalam kondisi “low inflation but low growth”, yakni inflasi rendah namun pertumbuhan ekonomi juga lemah.

Inflasi rendah memang lazimnya dianggap sehat, tetapi bila terlalu rendah bahkan cenderung deflasi, hal itu justru menandakan lesunya permintaan. Dalam kondisi ini masyarakat cenderungmenahan konsumsi. Pelaku usaha enggan berinvestasi. Akibatnya pertumbuhan ekonomi bisa stagnan.

Baca Juga  Tahun Baru di Bawah Bayang Siklon: Lampung Diminta Waras di Tengah Euforia

Stabilitas harga dalam situasi ini tidak berbanding lurus dengan kemajuan ekonomi karena daya beli tertahan, perusahaan tidak menambah produksi maupun tenaga kerja, dan pendapatan pemerintah tertekan akibat berkurangnya penerimaan pajak.

Penting Menjaga Stabilitas Pangan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi Lampung 2025 masih sangat bergantung pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mencatat inflasi 4,12 persen. Sektor pangan terbukti rentan, dengan bawang merah, beras, dan tomat sebagai penyumbang utama inflasi.

Di sisi lain, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya justru mengalami inflasi tinggi hingga 6,76 persen, menandakan adanya pergeseran konsumsi ke sektor hiburan pasca pandemi.

Sementara itu, kelompok pendidikan mencatat deflasi tajam hingga -15,10 persen, kemungkinan besar akibat restrukturisasi biaya sekolah atau subsidi pendidikan (penghapusan uang Komite dll), tetapi juga bisa mencerminkan menurunnya kemampuan masyarakat mengakses layanan pendidikan swasta.

Baca Juga  Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan

Untuk menghindari jebakan low inflation but low growth, diperlukan strategi bersama dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Pemerintah daerah perlu fokus menjaga stabilitas pangan melalui penguatan distribusi dan dukungan terhadap produksi petani lokal, sekaligus mendorong program subsidi transportasi dan energi yang tepat sasaran agar biaya distribusi tidak menjadi pemicu inflasi di masa mendatang.

Anggaran daerah Lampung 2026 sebaiknya diarahkan tidak hanya pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga pada upaya memperkuat sisi permintaan masyarakat agar daya beli tetap terjaga.

Sedangkan pelaku usaha Lampung sebaiknya segera menyusun strategi efisiensi produksi, mencari peluang pada sektor rekreasi dan jasa yang tumbuh, serta menjalin kemitraan dengan petani lokal untuk menjamin ketersediaan bahan baku dengan harga stabil.***

Berita Terkait

Bukan Padi dan Jagung, Hortikultura Jadi Penopang Daya Tawar Petani Lampung 2025
Inflasi Lampung 2025 Terkendali, Ditahan Deflasi Pendidikan dan Didorong Pangan
Inflasi Hulu Mengendap, APBD Lampung 2026 Diuji di Tengah Agenda Infrastruktur
Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
PAD Lampung Tersendat, Perencanaan APBD Dipertanyakan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain

Berita Terkait

Rabu, 25 Februari 2026 - 21:57 WIB

Siswa Kelas 2 SD Muhammadiyah Pringsewu Berbagi Takjil, Tanamkan Kepedulian Sejak Dini

Selasa, 24 Februari 2026 - 19:30 WIB

Pemkab Pringsewu Awali Safari Ramadan 2026 di Kecamatan Ambarawa

Senin, 23 Februari 2026 - 19:27 WIB

Polres Pringsewu Raih Penghargaan Perlindungan Anak

Sabtu, 21 Februari 2026 - 08:03 WIB

Bupati Pringsewu Paparkan Capaian Satu Tahun Kepemimpinan pada Buka Bersama Insan Pers

Jumat, 20 Februari 2026 - 06:46 WIB

Dikira Boneka, Jasad Remaja Ditemukan di Sungai Way Tebu

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:55 WIB

Berkas Lengkap, Tersangka Jambret Di pringsewu Dilimpahkan Polisi ke JPU

Selasa, 3 Februari 2026 - 19:54 WIB

Pemkab Pringsewu dan BAPANAS Gelar Rakor Satgas Saber Harga

Senin, 2 Februari 2026 - 19:49 WIB

Polres Pringsewu Hadirkan Layanan SKCK di MPP

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Wabup Tubaba Ajak Warga Perkuat Sedekah dan Kepedulian Lingkungan

Rabu, 25 Feb 2026 - 22:31 WIB

Lampung Selatan

Realisasi Infrastruktur Lamsel 2025 Capai 100 Persen

Rabu, 25 Feb 2026 - 21:24 WIB