oleh

Dianggap tak Jujur, 10 Hotel dan Restoran Dipasangi Alat Canggih Typing Box

Bandarlampung (Netizenku): Pemkot Bandarlampung agaknya sudah kehabisan stok kesabaran menghadapi para pengusaha yang disinyalir curang.

Kecurangan itu teridentifikasi dari ketidaksesuaian antara jumlah transaksi kasat mata yang terjadi, dengan jumlah setoran retribusi dari pengusaha tersebut kepada kontribusi pendapatan asli daerah (PAD).

Capek kerap dikibuli, akhirnya pemkot mengambil sikap. Melalui Badan Pengelolaan Pajak dan Retribusi Daerah (BPPRD) \’perlawanan\’ itu dilancarkan. Tidak tanggung-tanggung, agar sanksi \’menjewer\’ pengusaha curang bisa efektif, pemerintah rela rogoh kocek dalam-dalam untuk mendatangkan alat deteksi bernama typing box.

Bukan satu, tapi langsung beli 10 typing box sekaligus. Padahal harga satu alat canggih itu tak kurang dari setengah miliar rupiah. Itu berarti buat membidik pengusaha curang pemkot tak segan-segan menyiapkan amunisi seharga Rp5 miliar.

Lantas mau diapakan alat mahal sebanyak itu? Pasti ada gunanya, karena tak mungkin duit besar dibiarkan mubazir. \”Kita akan pasang di sepuluh restoran dan hotel yang terindikasi tak jujur,\” tukas Kepala BPPRD, Yanwardi, Selasa (3/4).

Baca Juga  Sambut Ramadan, Masjid Miftahul Jannah Gelar Bimbel Bahasa Arab

Rencana mulai memukul genderang perang terhadap pengusaha mbalelo itu, terungkap saat pihaknya mengikuti dengar pendapat di Komisi II DPRD Bandarlampung. \”Tapi sebelum dipasang kita bakal lakukan kajian terlebih dahulu untuk memastikan di tempat-tempat mana saja typing box akan dipasang,\” timpal Yanwardi.

Lebih lanjut dia menjelaskan, selama ini pihaknya masih kerap mendapati banyak pengusaha yang masih suka patgulipat. \”Pas setor retribusi nilainya kecil, padahal kalau kita lihat secara kasat mata saja, baik restoran atau hotel itu ramai pengunjung. Ini kan nggak bener namanya. Ada indikasi kecurangan,\” sergah Yanwardi.

Nah nanti, sambung dia, setelah typing box dipasang di tempat-tempat yang sudah \’ditandai\’, kecurangan itu akan segera disudahi.
\”Kalau Restoran Jumbo Kakap tidak perlu dipasangi typing box. Selama ini mereka teridentifikasi jujur. Jumlah setoran retribusinya sepadan. Tapi kalau restoran yang lain, seperti Begadang, menurut kami tidak sesuai. Bagaimana mau dibilang sesuai kalau faktanya ramaiĀ  konsumen tapi retribusi yang disetor minim,\” kata Yanwardi langsung tunjuk hidung pada restoran yang disinyalir kurang transparan.

Baca Juga  Tegaskan Siaga Berakhir, BMKG: Berita Tsunami Itu Hoax

Mengapa pihak BPPRD begitu yakin khasiat typing box dapat menjadi obat penawar mujarab untuk mengatasi kecurangan? \”Sejauh ini kami meyakini upaya yang satu ini bakal ampuh. Kita bisa pantau dengan akurat pendapatan dari tiap rumah makan dan hotel itu,\” tandasnya.

Usai mendengar paparan yang dianggap meyakinkan itu, para wakil rakyat kompak mengangguk. Agaknya mereka sepakat untuk memberi pelajaran pada pengusaha curang yang mesti dihadapi dengan kewibawaan dan ketegasan pemerintah yang direpresentasikan lewat kinerja typing box tadi.

\”Setuju. Dari pada pasang Satpol PP, mending pasang typing box. Karena alat ini kan nggak mungkin diajak main mata sama pemilik restoran,\” seloroh Grefeldi Mamesa.

Baca Juga  Pemprov Laksanakan 82,27 Persen Rekomendasi BPK RI

Tapi anggota dewan yang satu ini tetap waspada. Dia tidak mau percaya begitu saja pada para pengusaha yang lokasi usahanya ditongkrongi alat canggih itu.

\”Siapa yang bisa jamin, para pengusaha itu tidak ngakalin balik alat itu. Misalnya dikerjai dibuat eror atau dengan cara lainnya. Yang begini-begini perlu juga diperhitungkan. Sebab kita kan sedang menghadapi pengusaha yang dianggap punya track record yang perlu diawasi,\” saran dia.

Bila perlu, imbuh Grefeldi, sekalian dibuatkan perda (peraturan daerah) yang kurang lebih isinya mewajibkan pemilik usaha yang dipasangi typing box untuk menjaga aset negara itu.
\”Bila perlu kita minta pertanggungjawabannya kalau kedapatan alat itu rusak. Dan mereka mesti memberi kompensasi sebagai bentuk ganti rugi,\” tandas politisi PKS ini. (Agis)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *