Pergeseran Budaya Pemuda Jadi Bahasan Klasika

Redaksi

Minggu, 4 November 2018 - 12:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandarlampung (Netizenku.com): Kelompok Studi Kader (Klasika) mengkritik kebiasaan pemuda dalam gelaran diskusi kebangsaan yang dihelat pada Sabtu (3/11) malam di Rumah Ideologi Klasika, Jalan Pembangunan E/A5 Sukarame, Bandarlampung.

Secara garis besar, Klasika membahas keadaan anak muda zaman sekarang yang sering lupa dalam memaknai nasionalisme.

Dr Rudi DH LLM, salah seorang narasumber menjelaskan, banyak Kajian ke-Islaman di tempat-tempat pendidikan yang tidak menunjukan identitas nasionalisme.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

\”Mulai dari cara berpakaian hingga cara berinteraksi kita menghilangkan nasionalisme. Efeknya dalam survey yang saya lakukan pada mahasiswa saya, banyak mahasiswa yang tidak tahu tentang sejarah pergerakan nasional,\” ujar ketua PW Lakpesdam NU Lampung itu.

Kemudian, Alexander GB juga menambahkan, ada pergeseran budaya yang dialami oleh anak muda dari era 1928 dulu, hingga memasuki era milenial sekarang. Anak muda sekarang terlalu disibukan dengan simbol-simbol hingga melunturkan rasa nasionalisme.

\”Kondisi sekarang ini terjadi karena kurangnya ruang-ruang untuk segmen nasionalisme, mulai dari media hingga kampus-kampus itu tidak ada ruang untuk berbicara hal tersebut dan menjaga kesehatan nalar,\” ujar pegiat teater itu dalam materinya.

Sementara itu, Founder Klasika, Chepry C Hutabarat, mengatakan bahwa anak muda sekarang sangat disibukan dengan dirinya sendiri yang bersifat lahiriah. Hal tersebutlah yang akhirnya melupakan nasionalisme yang berada dalam aspek batiniah.

\”Kita harus terus melakukan kritik pada diri kita masing-masing terhadap hal-hal yang sifatnya positivistik termasuk keributan sekarang di media sosial hingga lembaga pendidikan,\” tegas Bang Che sapaan akrabnya.

Ketiga pemateri tersebut mengajak para peserta diskusi untuk merefleksikan kembali nasionalisme. Selain kita sibuk dengan jargon-jargon dan simbol-simbol, kita harus tetap merawat dan mempertajam nalar kritis.

Berdasarkan pantauan, acara tersebut diikuti oleh puluhan peserta yang berasal dari berbagai elemen masyarakat. Peserta didominasi oleh pemuda yang bergabung dalam organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan.(Agis)

Berita Terkait

Refleksi Pendidikan Lampung 2025: Akses Hampir Universal, Kualitas Guru di Hulu Jadi Penentu
TPT SMK Lampung Tertinggi, Kolaborasi Pemprov–CSR Jadi Jalan Baru
Thomas Amirico Raih IWO Award 2025
Gubernur Mirza dan Jembatan Pendidikan Tampang Muda:  Gotong Royong Pemerintah untuk Masa Depan Anak Pelosok
Peminat Sekolah Negeri Menurun, Ini Kata Akademisi ITBA DCC
Kemendikdasmen Berencana ‘Hidupkan’ Kembali Jurusan SMA dan Kurangi Muatan Pelajaran SD-SMA
Satker Mitra Kerja Dilarang Berikan Gratifikasi ke Pegawai Kanwil DJPb Provinsi Lampung
Presiden Prabowo Wanti-wanti Mendikti Agar Mahasiswa Tidak Terhasut

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 21:26 WIB

Kemah Bhakti Satya Linmas, Gubernur Mirza Dorong Penguatan Peran Satlinmas

Kamis, 24 September 2026 - 21:10 WIB

Gubernur Lampung: PKH Bukan untuk Ketergantungan, tapi Mendorong Keluarga Mandiri

Kamis, 24 September 2026 - 21:00 WIB

Gubernur Lampung Dorong Petani Lampung Kembangkan Pupuk Hayati Secara Mandiri

Kamis, 24 September 2026 - 20:52 WIB

Pemprov Lampung Tindaklanjuti Aspirasi PPRL soal Konflik Agraria

Kamis, 24 September 2026 - 20:30 WIB

Gubernur Mirza Launching Perlindungan Jamsostek bagi 98.809 Pekerja Rentan di Lampung

Kamis, 24 September 2026 - 17:21 WIB

Disdikbud Lampung Gulirkan Program Double Teaching

Rabu, 23 September 2026 - 19:35 WIB

Pemprov dan DPRD Lampung Sepakati Perubahan APBD 2026

Rabu, 23 September 2026 - 19:20 WIB

Gubernur Mirza Dorong Unila Jadi Motor Transformasi Ekonomi Lampung

Berita Terbaru