Longsor besar kembali menguji daya tahan sistem jalan Lampung. Pemerintah ditantang memastikan pembangunan yang lebih adaptif terhadap bencana.
Bandarlampung – Jalan Laksamana R.E. Martadinata yang menghubungkan Kota Bandar Lampung dan Kabupaten Pesawaran sempat lumpuh total akibat longsor, Sabtu (30/8/2025). Namun, respon cepat Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung memastikan arus transportasi kembali pulih hanya dalam hitungan jam.
Kepala Dinas BMBK Lampung, M. Taufiqullah, menyatakan timnya langsung turun ke lokasi begitu menerima laporan. “Pagi tadi kami langsung ke lapangan melakukan mitigasi. Prioritas kami adalah membuka jalur agar masyarakat bisa kembali melintas,” tegasnya.
Untuk mempercepat penanganan, Unit Reaksi Cepat UPTD 1 dikerahkan dengan dukungan alat berat. Excavator digunakan mengangkat material batu, sementara dump truck mengangkut lumpur dan tanah yang menutup badan jalan. Sinergi lintas sektor juga diaktifkan. Dinas BMBK bekerja bersama PUPR, BPBD Provinsi, Pemerintah Kabupaten Pesawaran, Pemerintah Kota Bandar Lampung, hingga Polres Bandar Lampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Semua bergerak cepat agar jalur ini segera normal,” kata Taufiqullah. Hasilnya, pada pukul 12.00 siang arus lalu lintas kembali terbuka setelah sempat terhenti total sejak pagi.
Lebih dari sekadar normalisasi jalan, langkah cepat ini menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Lampung menjaga ketahanan infrastruktur. Jalan Martadinata merupakan jalur vital penopang mobilitas masyarakat, konektivitas ekonomi, hingga akses wisata pesisir. Jika dibiarkan terputus berhari-hari, dampaknya tidak hanya pada lalu lintas, tetapi juga distribusi barang, jasa, dan aktivitas pariwisata di wilayah Lampung bagian selatan.
Meski jalur sudah bisa dilalui, BMBK tetap mengingatkan masyarakat untuk waspada. “Kami terus memantau lokasi ini. Pengendara ketika melintas harus hati-hati,” imbau Taufiqullah.
Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa pembangunan infrastruktur bukan hanya soal membangun jalan baru, tetapi juga memastikan daya tahannya terhadap bencana alam. Mitigasi, pemeliharaan rutin, dan respon darurat cepat adalah kunci agar pembangunan Lampung tidak terhenti. Karena di balik setiap ruas jalan yang terbuka, ada denyut perekonomian masyarakat yang harus terus dijaga.***








