Kejari Tubaba Naikkan Kasus Dugaan Penyimpangan Dana Revolving Sapi ke Pidsus

Arie

Rabu, 7 Januari 2026 - 19:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kejaksaan Negeri Tulangbawang Barat (Tubaba) mengintensifkan pengusutan dugaan penyimpangan dana program Revolving Sapi yang menelan anggaran miliaran rupiah ke Bidang Tindak Pidana Khusus.

Tulangbawang Barat (Netizenku.com): Program peternakan yang digulirkan Pemkab Tubaba sejak 2013-2014 dan menjadi temuan Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI Perwakilan Lampung tahun 2022 tersebut kini resmi ditangani Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) dan telah memasuki tahapan penegakan hukum dengan rencana pemanggilan pihak-pihak terkait.

Kepala Kejari Tubaba, Mochamad Iqbal, melalui Kepala Seksi Intelijen Ardi Herlian Syach, kepada media ini, Rabu (7/1/2026), menegaskan bahwa penanganan perkara Revolving Sapi menjadi salah satu fokus utama Kejari Tubaba pada awal tahun ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sejak awal tahun ini, perkara Revolving Sapi sudah on process di bidang Pidsus. Penanganannya tidak lagi bersifat administratif dan akan ditindaklanjuti dengan pemanggilan pihak-pihak terkait,” ujar Ardi.

Ia menjelaskan, sepanjang tahun 2025 penanganan perkara masih berada pada tahap telaah administrasi berdasarkan temuan awal Bidang Intelijen. Namun setelah ditemukan indikasi kuat adanya peristiwa pidana, perkara tersebut resmi dilimpahkan ke Bidang Pidsus untuk pendalaman lebih lanjut.

Baca Juga  Kapolres Tubaba Ajak Pers Perkuat Sinergi Jaga Kamtibmas

“Bidang Pidsus akan segera menerbitkan surat pemanggilan sebagai bagian dari proses penyelidikan dan penyidikan. Ini menjadi perhatian serius kami karena program peternakan merupakan program strategis pemerintah daerah,” tegasnya.

Menurut Ardi, langkah hukum tersebut dilakukan agar kasus serupa tidak terulang kembali serta menjadi bahan pembenahan tata kelola program pemerintah daerah, khususnya di sektor peternakan.

Upaya Kejari Tubaba ini mendapat dukungan dari masyarakat. Tokoh masyarakat sekaligus mantan anggota legislatif Tubaba, Paisol, mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak tegas dan transparan dalam mengusut dugaan penyimpangan tersebut.

“Program ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sapinya tidak jelas, kandangnya tidak jelas, anak sapi tidak ada. Kami mendukung Kejari Tubaba mengusut tuntas dan membuka semuanya ke publik,” ujar Paisol saat dikonfirmasi awak media.

Ia menilai, banyak pihak yang harus dimintai pertanggungjawaban karena dana yang digunakan merupakan uang negara yang bersumber dari APBD,“Ini uang rakyat. Jangan ada kompromi. Semua yang terlibat harus dipanggil dan diperiksa,” tegasnya.

Baca Juga  Sekolah Rakyat Tubaba Siap Dibangun, 2.520 Anak Keluarga Kurang Mampu Bakal Dapat Pendidikan Gratis

Senada, tokoh masyarakat Panaragan, Yusmar (64), dalam statemen pemberitaan sebelumnya, menjelaskan bahwa dana Revolving Sapi sejatinya dirancang sebagai stimulus pemerataan kepemilikan ternak melalui mekanisme dana bergulir yang diikat dengan perjanjian pengembalian.

“Penerima dana wajib mengembalikan pinjaman. Dalam Peraturan Bupati Nomor 37 Tahun 2017, dinas teknis memiliki kewajiban melakukan monitoring, pembinaan, dan pengawasan kesehatan hewan. Jika fungsi itu berjalan, persoalan ini tidak akan terjadi,” kata Yusmar.

Ia juga menyoroti lambannya tindak lanjut terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) BPK RI, yang seharusnya ditindaklanjuti maksimal 60 hari sejak diterima oleh pemerintah daerah,“Jika barangnya sudah tidak ada, berarti ada unsur kesengajaan. Itu masuk ranah pidana dan harus segera ditindak,” tegasnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, dana Revolving Sapi yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Tubaba sejak 2013 hingga 2014 mencapai Rp7 miliar dan disalurkan kepada 10 kelompok tani, masing-masing sebesar Rp700 juta tanpa bunga dengan masa pengembalian selama tiga tahun anggaran. Namun hingga tahun 2025, dana tersebut dilaporkan masih mengendap di 9 dari 10 kelompok tani, dengan tunggakan tertinggi mencapai Rp645 juta per kelompok.

Baca Juga  Ratusan Warga Buay Bulan Bersiap Sampaikan Aspirasi, Konflik HGU PTPN 1 Masuk Babak Baru

BPK RI Perwakilan Lampung sebelumnya juga menyatakan adanya pelanggaran dalam pengelolaan program tersebut, mulai dari lemahnya pengawasan hingga ketidaksesuaian pelaksanaan di lapangan.

Sejumlah kelompok tani penerima dana bahkan meminta Kejaksaan memanggil seluruh pihak terkait untuk mengungkap dugaan penyimpangan sejak awal program berjalan. Mereka mengaku kecewa dengan pelaksanaan program yang dinilai terburu-buru dan sarat rekayasa laporan.

Anggota Kelompok Tani Harapan, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Sujai, mengaku siap memberikan keterangan kepada penyidik,“Kalau dipanggil Kejaksaan, saya siap buka semuanya. Program ini sudah bermasalah sejak awal,” katanya.

Hal serupa disampaikan Ketua Kelompok Tani Gembala Makmur, Kecamatan Tumijajar, Aji Sukmayanto, yang mengaku pasrah dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat penegak hukum,“Kami ditagih terus, tetapi tidak dibina pemasaran. Agunan sudah ada, sertifikat kandang dan kebun. Saya pasrah, ini tanggung jawab saya sebagai ketua kelompok,” pungkasnya. (*)

Berita Terkait

Kwarcab Tubaba Buka KMD Angkatan X 2026, 75 Peserta Disiapkan Jadi Pembina Pramuka Berkualitas
Ribuan Warga Tubaba Salat Istisqa, Doakan Hujan Segera Turun
Pemkab Tubaba Cari Formula Pembiayaan Siltap Aparatur Tiyuh di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemkab Tubaba Diminta Perketat Penganggaran Belanja Hibah dalam APBD 2027
TP PKK Lampung Canangkan Desa TAPIS di Tubaba, Perkuat Pemberdayaan Keluarga
Pengurus Baru Pramuka Tulang Bawang Udik Resmi Dilantik, Ini Pesan Tegas Ketua Kwarcab Tubaba
Sekda Tubaba Tekankan Ketelitian Belanja Hibah dalam Penyusunan APBD 2027
DPRD Tubaba Sahkan Raperda APBD-P 2026, Busroni Tegaskan Pengawasan Tak Berhenti di Paripurna

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 17:59 WIB

RSUD Abdul Moeloek Hadirkan Teknologi DSA untuk Perkuat Layanan Stroke

Selasa, 29 September 2026 - 11:06 WIB

Kemenag Lampung Tegaskan Tanah 1,72 Hektare di Natar Berstatus Aset Negara

Senin, 28 September 2026 - 20:10 WIB

Pemprov Lampung Tangani Ruas Jalan Ketapang-Negara Ratu di Lampung Utara

Senin, 28 September 2026 - 18:26 WIB

Wagub Jihan Dorong Mahasiswa Jadi Versi Terbaik Diri di Era Digital

Senin, 28 September 2026 - 16:25 WIB

Komisi I DPRD Lampung Dorong Polisi Tingkatkan Pengusutan Kasus Narkoba

Sabtu, 26 September 2026 - 16:44 WIB

Pemprov Lampung Kantongi Rp12,3 Miliar dari Retribusi Pemanfaatan Rumija

Jumat, 25 September 2026 - 20:27 WIB

Pemprov Lampung dan PTA Bandar Lampung Perkuat Sinergi Tekan Angka Perceraian

Jumat, 25 September 2026 - 15:50 WIB

Hari Tani Nasional, Harga Singkong Lampung Mulai Menguat

Berita Terbaru

Pringsewu

Jambret Tas Berisi Rp1,6 Juta di Gadingrejo Terjatuh Saat Kabur

Senin, 28 Sep 2026 - 19:56 WIB