Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, masih berada dalam kondisi aman dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Hingga 10 Agustus 2026, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Tubaba belum menemukan adanya ternak yang terindikasi maupun menunjukkan gejala PMK.
Tulang Bawang Barat (Netizenku.com): Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat pemerintah daerah mengendurkan kewaspadaan. Vaksinasi terus dikebut untuk membangun kekebalan ternak sekaligus mencegah penyakit tersebut masuk dan menyebar di wilayah Tubaba.
Kepala Disnakeswan Tubaba melalui Kepala Bidang Keswan dan Kesmavet, Irwan Sutrisno, mengatakan vaksinasi menjadi langkah penting untuk menjaga populasi ternak sekaligus melindungi sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada sektor peternakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Alhamdulillah tidak ditemukan adanya gejala PMK. Adapun fokus vaksinasi kita tahun ini adalah sapi dan kambing,” kata Irwan saat dikonfirmasi, Senin (10/8/2026).
Populasi ternak di Tubaba terbilang besar. Data Disnakeswan mencatat terdapat sekitar 35 ribu ekor sapi dan 187 ribu ekor kambing. Besarnya populasi tersebut membuat pencegahan PMK menjadi penting, sebab jika penyakit menular tersebut masuk ke sentra peternakan, dampaknya tidak hanya terhadap kesehatan hewan tetapi juga dapat berimbas pada ekonomi peternak.
Hingga saat ini, vaksinasi telah diberikan kepada 9.375 ekor sapi dan 1.500 ekor kambing. Capaian tersebut baru sekitar 30 persen dari sasaran vaksinasi yang ditetapkan.
Pemerintah daerah menargetkan vaksinasi mencapai 100 persen dari populasi sasaran, dengan fokus vaksinasi sapi dan kambing ditargetkan mencapai 70 persen dari populasi.
Untuk mempercepat capaian tersebut, Tubaba telah menerima dukungan vaksin secara bertahap dari Kementerian Pertanian. Sebanyak 9.375 dosis pada tahap pertama telah selesai digunakan, sedangkan pada tahap kedua Tubaba memperoleh tambahan 12 ribu dosis.
Pelaksanaan vaksinasi menyasar sembilan kecamatan dengan melibatkan 22 petugas vaksinator yang ditempatkan di lima Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan), yakni Puskeswan Pulung Kencana, Margodadi, Marga Jaya, Setia Bumi, dan Mekar Sari Jaya.
Namun, upaya mempercepat vaksinasi masih menghadapi tantangan. Salah satunya adalah kesadaran sebagian peternak yang belum sepenuhnya memahami pentingnya vaksinasi sebagai bentuk pencegahan penyakit.
“Kendala utama adalah kurangnya kesadaran tentang manfaat vaksinasi. Cara mengatasinya dengan melakukan sosialisasi ke seluruh lapisan masyarakat peternak,” ujar Irwan.
Selain persoalan kesadaran, keterbatasan jumlah sumber daya manusia yang bertugas melakukan vaksinasi juga menjadi kendala dalam memperluas jangkauan pelayanan di lapangan.
Karena itu, Disnakeswan tidak hanya mengandalkan vaksinasi. Pengawasan lalu lintas ternak turut diperketat untuk mengantisipasi masuknya hewan dari daerah lain yang berpotensi membawa penyakit.
Peternak juga didorong menerapkan biosecurity secara rutin di lingkungan kandang. Langkah tersebut meliputi menjaga kebersihan kandang, memperhatikan kesehatan ternak, serta memastikan pakan yang diberikan berkualitas.
Irwan menegaskan vaksinasi PMK di Tubaba telah berjalan sejak awal 2026 dan akan terus dilakukan hingga akhir tahun. Dukungan vaksin dari pemerintah pusat juga masih diberikan sesuai kebutuhan dan populasi ternak.
“Vaksinasi tetap penting meskipun sampai saat ini belum ditemukan kasus PMK. Ini merupakan upaya meningkatkan kekebalan ternak sekaligus menekan risiko penyebaran penyakit dan potensi kerugian ekonomi peternak,” jelasnya.
Ia pun mengimbau peternak tidak menunggu munculnya kasus untuk mulai melakukan pencegahan.
“Kami mengimbau peternak menjaga kesehatan ternak, memberikan pakan yang bagus dan jangan lupa vaksinasi serta biosecurity yang teratur,” pungkasnya.(*)
Editor : Arie








