BERBAGI

Bandarlampung (Lentera SL): Tak terlintas sebelumnya di benak Liska Sari SPd, lulusan Universitas Lampung (Unila) dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) jurusan Bahasa Inggris. Yang mengusaikan kuliahnya di masa pandemi.

Sebagai mahasiswa yang berkesibukan dalam dunia organisasi atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK Remaja) yang merupakan suatu wadah kegiatan program PKBR yang dikelola dari, oleh dan untuk remaja guna memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang Perencanaan Kehidupan Berkeluarga Bagi Remaja serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya. Membuat waktunya tersita.

Seperti kebanyakan mahasiswa semester akhir lainnya, Liska yang ditemui usai mengikuti wisuda secara daring belum lama ini mengaku menyesal tak lekas menyelesaikan skripsinya sebelum masa pandemi masuk ke Indonesia, khususnya Lampung.

“Sebenarnya sejak 2019, jauh sebelum pandemi Covid-19 ada, sesuai jadwal saya bisa menyelesaikan skripsi, tetapi kesibukan di organisasi dan juga ada bumbu kemalasan mengerjakan skripsi membuat saya harus merana merasakan wisuda daring,” ujarnya.

Bagaimana tak merana, wanita berwajah tirus ini hanya menatap layar laptopnya kala itu. Tanpa orang tua yang biasanya mendampingi wisudawan di hari sakral paling ditunggu setelah menyelesaikan studi. Tanpa karangan atau buket bunga yang diterima, bahkan sekadar berswafoto bersama rekan-rekan seangkatan.

Usai mengikuti wisuda daring tersebut, ia hanya dapat melakukan panggilan telepon untuk orang tuanya yang tidak berada dalam satu kota. Jarak Bandarlampung-Lampung Barat tentu tidaklah dekat, ditambah lagi pandemi ini membuat semuanya terasa semakin jauh.

“Orang tua saya tidak berada di Bandarlampung, tetapi di Lampung Barat, hal ini membuat perasaan semakin teraduk-aduk, ingin marah, tapi juga tak mau merusak hari yang entah harus bahagia atau sebaliknya saat itu, ditambah lagi orang tua saya bukan pengguna android sehingga hanya suara saja yang terdengar, meski diujung sana mereka sepertinya bahagia dengan kelulusan saya, tetapi saya tidak bisa melihat raut wajahnya,” ujar bungsu dari lima bersaudara ini.

Tidak hanya sampai disitu, wanita berhijab ini juga terlihat berkaca-kaca saat menceritakan bagaimana ia sangat ingin mengikuti prosesi wisuda seperti kakak-kakaknya terdahulu. Didampingi orangtua dan penuh sukacita karena keramaian sahabat yang bercengkrama bersama mengenang masa-masa perkuliahan.

Liska akhirnya tak bisa menolak keputusan pihak kampus yang harus tetap mengadakan wisuda di tengah pandemi ini. Dengan segala prosesi protokol kesehatan yang harus ditaati selama acara berlangsung, meski tak bwrtatap muka secara langsung. Seperti wisudawan yang harus tetap mengenakan masker sepanjang acara, serta mendengarkan pidato rektor dan perwakilan mahasiswa dwngan hanya menatap layar laptopnya.

Namun demikian, wanita kelahiran 6 Januari 1997 ini mengaku bersyukur telah melewati masa-masanya sebagai mahasiswa, meski di puncak kesakralan prosesi menyelesaikan kewajiban sebagai mahasiswa justru harus di rumah saja.

“Ya sudah tidak apa-apa, akhirnya saya hanya bisa legowo, kalau tidak ada pandemi mungkin saya masih akan nongkrong kesana kemari tanpa ingat menyelesaikan skripsi, saat ini saya harus tetap fokus ke hal baru, yakni bagaimana tetap berpenghasilan di tengah pandemi ini,” katanya.

Banyak hikmah yang ia dapat selama pandemi Covid-19, lebih menjaga kebersihan diri, tidak sembarang menyentuh atau bersentuhan dengan orang lain, menjaga jarak setiap kegiatan, meski diakuinya mengenakan masker bukan hal baru baginya karena jauh sebelum pandemi ia selalu mengenakan lantaran tak bisa terlalu sering terkena debu.

Ia juga saat ini semakin menekuni usaha bidang niaga, karena menurutnya hal yang paling memungkinkan dilakukan adalah berkreasi, bagaimana tetap bertahan dan berpenghasilan saat pandemi. Berbagai pernik diakuinya ia jual untuk mengisi hari-harinya.

Meski saat ini sudah bekerja di sebuah tempat kursus, namun penghasilan di luar kerja harus tetap diperoleh karena pandemi menyebabkan semua lini berubah dan menyesuaikan.

“Karena saat ini pandemi menggerogoti semua lini, saya akhirnya memutuskan bekerja sembari berjualan berbagai pernik, mulai dari parfum, makanan ringan, frozen food, hingga masker tapis. Ini saya lakukan semua secara online, tidak harus bertatap muka dengan pembeli, semua bisa melalui jasa, baik kurir maupun jasa ojek online,” ujarnya.

Diakuinya meski omsetnya saat ini belum begitu signifikan, namun seiring waktu ia akan meningkatkan strategi marketingnya menjadi lebih baik lagi. (Leni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here