Tarif Tol Bakter Naik 120% Lebih, Mimpi Besar Negara yang Dibayar Publik

Ilwadi Perkasa

Selasa, 2 Desember 2025 - 20:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tarif Tol Bakter Naik 120% Lebih, Mimpi Besar Negara yang Dibayar Publik

Tarif Tol Bakter Naik 120% Lebih, Mimpi Besar Negara yang Dibayar Publik

Di Sumatera, jalan tol tidak hanya menjadi jalur beton yang menghubungkan kota-kota. Ia menjadi potret ambisi negara yang dibangun di atas keyakinan (tepatnya mimpi)  bahwa kemajuan dapat dikejar dengan kecepatan. Tol Sumatera identik dengan proyek politik yang mengekspresikan ambisi, sekaligus menuntut kesabaran pasar, dan membebankan konsekuensinya kepada publik. Kenaikan tarif Bakauheni–Terbanggi Besar yang melampaui 120 persen sejak 2019, dari sekitar Rp112.500 menjadi Rp254.000, tidak dapat dijelaskan oleh inflasi yang hanya sekitar 18–20 persen dalam periode yang sama.

Pasti, publik memandang kenaikan demi kenaikan itu dengan rasa heran, kesal dan letih. Sebab dalam perjalanan sehari-hari, kenaikan ini terasa seperti tagihan tak terlihat atas mimpi yang tak kunjung terwujud. Mimpi tentang logistik murah, industri bergerak, dan Sumatera (Lampung) yang menjadi poros baru ekonomi. Mimpi-mimpi itu sejauh ini lebih sering hadir dalam presentasi daripada pengalaman nyata.

Tol Trans Sumatera dibangun dengan kecepatan yang jarang terlihat dalam sejarah infrastruktur Indonesia. Ribuan kilometer panjangnya, miliaran rupiah biayanya, dan sebagian besar ditanggung oleh hutang. PT Hutama Karya, perusahaan milik negara yang ditugaskan membangunnya, seperti diminta menulis epik maritim dengan modal perahu kecil. Negara menjanjikan dukungan melalui penyertaan modal, tetapi modal negara tidak sama dengan pendapatan. Ia cuma menunda krisis, bukan menyembuhkan.

Di atas kertas, jalan tol dirancang untuk memicu pertumbuhan. Tetapi di lapangan, pertumbuhan tidak datang semudah membangun ruas jalan. Lalu Lintas Harian Rata-rata masih rendah, kendaraan berat belum mendominasi, dan lonjakan trafik hanya muncul pada musim libur. Ruas-ruas panjang yang paling mahal, justru yang paling sepi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Publik menikmati kemudahan, tidak banyak dan tidak memadai untuk menutup biaya pengelolaan. Maka tarif pun naik. Bukan karena keserakahan, tetapi karena matematika infrastruktur yang memerlukan arus uang yang stabil. Ketika trafik gagal memberikannya, tarif menjadi pintu keluar paling mudah. Naikan tarif lalu serahkan sebagian kepemilikan tol kepada investor, dalam hal ini kepada Indonesia Investment Authority.

Balut dengan bahasa resmi “restrukturisasi”, lalu buat pernyataan sederhana bahwa negara tidak lagi sanggup menanggung beban sendiri. Lalu, investor pun datang dengan kalkulasi.

Masuknya investor menandai bab baru. Tol tidak lagi sekadar proyek pembangunan, tetapi aset yang harus menghasilkan imbal balik. Tarif menjadi simbol keseimbangan antara ambisi politik dan disiplin keuangan. Saat tarif naik, yang terdengar bukan hanya suara mesin di gerbang tol, tetapi desahan ekonomi yang belum pulih. Kenaikan tarif dilabel dengan penyesuaian kondisi ekonomi.

Namun publik membaca tol dengan cara berbeda. Mereka tidak menghitung rasio hutang, tingkat pengembalian, atau penyertaan modal. Mereka membaca kenyamanan jalan, lampu jalan yang mati, marka yang pudar.  Mereka membaca banyaknya korban kecelakaan, juga buruknya pelayanan. Mereka membaca pengalaman, bukan neraca. Dalam diam, publik menilai apakah jalan tol ini layak disebut keberhasilan strategis, atau sekadar proyek yang terlalu besar untuk dikoreksi.

Memang, yang paling sulit dari infrastruktur bukan membangun fisiknya, tetapi memenuhi janji yang digadang-gadang, tentang efisiensi, mobilitas, dan harga yang adil. Ketika tarif naik tetapi kualitas terasa datar, publik merasa diminta membayar utang sebuah mimpi, bukan menikmati hasilnya.

Masa depan tol Sumatera barangkali bergantung pada tiga hal yang sederhana yaitu apakah aktivitas ekonomi akan tumbuh dan mengisi jalan, apakah beban keuangan dapat ditata ulang, dan apakah layanan bisa benar-benar membaik.

Jika tiga hal ini bergerak seirama, tol akan menemukan momentumnya. Jika tidak, ia akan menjadi monumen panjang dari ambisi yang terburu-buru. Untuk sekarang, tiap kali tarif naik, publik bertanya-tanya, apakah ini harga kemajuan, atau biaya dari rencana yang tak sampai?

Di sepanjang Sumatera, jalan tol berkilau, membelah sawah, hutan, dan kampung. Tetapi di balik setiap gerbang, ada tagihan yang seolah berkata, “mimpi besar selalu punya harga.” Pertanyaannya adalah: siapa yang membayar, dan untuk apa?

Berita Terkait

Bukan Padi dan Jagung, Hortikultura Jadi Penopang Daya Tawar Petani Lampung 2025
Inflasi Lampung 2025 Terkendali, Ditahan Deflasi Pendidikan dan Didorong Pangan
Inflasi Hulu Mengendap, APBD Lampung 2026 Diuji di Tengah Agenda Infrastruktur
Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
PAD Lampung Tersendat, Perencanaan APBD Dipertanyakan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain

Berita Terkait

Rabu, 29 Juli 2026 - 11:45 WIB

80 KK di Way Laga Terima Bantuan Air Bersih

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:42 WIB

Pemkot Bandar Lampung Rotasi Pejabat, Dua Camat Dilantik

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:35 WIB

Pemkot Bandar Lampung Siapkan Rp2,5 Miliar untuk Olok Gading

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:25 WIB

Eva Dwiana Siapkan Strategi Hadapi Banjir

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:20 WIB

Bandar Lampung Expo 2026 Jadi Inspirasi Peluang Usaha

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:15 WIB

Kebakaran Lahap Bengkel dan Toko Elektronik di Kedaton

Rabu, 29 Juli 2026 - 09:11 WIB

Pemkot Bandar Lampung Targetkan PAD 2027 Rp1,164 Triliun

Senin, 20 Juli 2026 - 17:27 WIB

Konvoi 30 Jeep PPM Jadi Magnet Festival Budaya HUT ke-344 Kota Bandar Lampung

Berita Terbaru

Tulang Bawang Barat

Tubaba Gandeng Telkom University Bangun Pertanian Cerdas Berbasis AI dan IoT

Rabu, 29 Jul 2026 - 13:10 WIB

Oplus_131072

Tulang Bawang Barat

Kadisdikbud Tubaba Dorong Sekolah Perkuat Refleksi Program

Rabu, 29 Jul 2026 - 12:03 WIB

Bandarlampung

80 KK di Way Laga Terima Bantuan Air Bersih

Rabu, 29 Jul 2026 - 11:45 WIB