Kadang pembangunan tidak perlu rapat berjam-jam, cukup segenggam tanah dan sebutir benih. Arahan Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus soal pemanfaatan pekarangan untuk ketahanan pangan rupanya tak berhenti di baliho atau sekadar jargon. Ia mulai tumbuh—secara harfiah—di halaman rumah ASN-nya sendiri.
Lampung Barat (Netizenku.com): Yati, salah satu ASN di Lampung Barat, membuktikan bahwa kebijakan bisa hidup bila dijalankan, bukan hanya dihafalkan. Ia tak menunggu proyek, tak menunggu anggaran turun, apalagi menunggu lomba. Cukup polibag, tanah, dan kemauan.
“Alhamdulillah, berkat arahan Pak Bupati dengan motivasinya juga, sekarang sudah menunjukkan hasilnya. Walaupun percontohan baru 20 polibag, tapi sudah cukup memenuhi kebutuhan rumah tangga sendiri,” ujar Yati sambil tersenyum, mungkin sambil membayangkan terong panjang hasil kebunnya masuk wajan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dua puluh polibag memang tak akan mengguncang statistik nasional. Tapi dari situlah ketahanan pangan menemukan maknanya: dapur tetap ngebul tanpa harus selalu ke pasar. Di tengah harga yang kadang ikut naik tanpa pamit, pekarangan jadi penyelamat sunyi.
Menanggapi hal itu, Bupati Parosil Mabsus pun angkat suara. Bukan dengan pidato panjang, tapi dengan apresiasi yang menohok kesadaran.
“Inilah yang saya maksud. Ketahanan pangan dimulai dari rumah sendiri. Kalau satu ASN menanam, satu keluarga mandiri. Kalau semua bergerak, Lampung Barat akan kuat dari bawah,” kata Parosil.
Barangkali, inilah contoh bahwa kebijakan terbaik bukan yang paling keras disuarakan, melainkan yang paling mudah ditanam. Dan Yati telah membuktikan, perubahan besar bisa berawal dari 20 polibag di halaman rumah.
Karena kadang, revolusi itu tidak berisik. Ia tumbuh pelan-pelan, berwarna hijau, dan siap dipanen. (*)








