Rakyat Vs Oligarki: Triga Lampung Kepung ATR/BPN dan Istana

Ilwadi Perkasa

Rabu, 27 Agustus 2025 - 21:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bentrokan kepentingan tanah kembali mengemuka. Triga Lampung menuding negara lebih berpihak pada oligarki tanah daripada melindungi rakyatnya sendiri.

***

Gelombang perlawanan dari bumi Lampung kembali mengguncang jantung ibu kota. Ratusan massa aktivis yang tergabung dalam Triga Lampung (gabungan AKAR, PEMATANK, dan KERAMAT) mengepung Kantor Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) serta Istana Negara. Teriakan lantang mereka menusuk telinga penguasa. “Segera ukur ulang HGU PT. SGC! Copot Nusron Wahid dari Menteri ATR/BPN!”

Tuntutan massa begitu terang. Nusron Wahid harus turun dari kursi menteri karena dinilai lebih berpihak pada kepentingan korporasi ketimbang rakyat. Mereka menegaskan, negara tidak boleh lagi menutup mata atas konflik panjang yang menjerat petani Lampung akibat hegemoni PT Sugar Group Companies (SGC) beserta anak perusahaannya, PT ILP, PT SIL, dan PT GPM. Putusan RDP/RDPU DPR RI pada 15 Juli 2025 sudah jelas, yakni ukur ulang seluruh HGU! Namun, hingga kini kementerian diam seribu bahasa.

Baca Juga  Refleksi Pendidikan Lampung 2025: Akses Hampir Universal, Kualitas Guru di Hulu Jadi Penentu

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Hingga hari ini ATR/BPN tidak melangkah, tak menunjukkan keberpihakan pada rakyat,” tegas Indra Musta’in, Ketua DPP AKAR Lampung, dalam orasinya, Rabu (27/08/2025).

Nada serupa meletup dari Ketua DPP PEMATANK, Suadi Romli, yang menuding ketidakjelasan penyelesaian konflik agraria ini hanya memperpanjang penderitaan. “Dari perampasan tanah, kriminalisasi petani, hingga intimidasi terhadap masyarakat yang mempertahankan haknya. Semua terjadi di depan mata negara, tapi pemerintah diam!”

Sementara itu, Ketua DPP KERAMAT, Sudirman Dewa, tanpa tedeng aling-aling menuding Nusron Wahid sebagai biang kelambanan. “Alih-alih melindungi rakyat, kementerian justru memperparah konflik agraria. Jika Nusron Wahid tidak sanggup, lebih baik mundur!” serunya, disambut gemuruh massa.

Baca Juga  Kadalistik Kebijakan dan Produksi Citra di Lampung (Bagian 2 in 3)

Setelah menggempur Kementerian ATR/BPN, ribuan massa bergerak dalam long march menuju Silang Tiga Monas, lalu mengalir ke Istana Negara. Aksi ini bukan sekadar demonstrasi, melainkan peringatan keras kepada Presiden Prabowo Subianto.

“Kami datang ke jantung negara bukan hanya berteriak. Ini tentang air mata rakyat akibat perampasan hak oleh oligarki. Ukur ulang sekarang! Kembalikan tanah rakyat agar bisa ditanami. Tegakkan keadilan, tegakkan kedaulatan!” teriak Koordinator Aksi, Rian Bima Sakti, dengan suara yang memecah riuh jalanan.

Di Patung Kuda, sebagian perwakilan massa dikawal ketat aparat keamanan kepresidenan untuk masuk ke Istana. Delegasi yang diwakili Suadi Romli, Zani, dan Sapriansyah menyerahkan dokumen resmi pengaduan rakyat berisi desakan agar Presiden segera memerintahkan pengukuran ulang HGU PT SGC, ILP, SIL, dan GPM.

Baca Juga  Penghargaan dan Anomali Fiskal Lampung (Bagian 1 in 3)

“Alhamdulillah, kami diterima dan seluruh persoalan sudah kami sampaikan. Harapan kami, Presiden segera ambil langkah tegas: ukur ulang HGU PT SGC sekarang juga!” tegas perwakilan massa usai audiensi.

Aksi Triga Lampung hari ini menjadi penegasan bahwa konflik agraria di Lampung bukan lagi sekadar persoalan lokal. Ini adalah pertarungan kedaulatan rakyat melawan oligarki tanah.

Pertanyaan besarnya kini adalah  akankah Presiden berani berpihak pada rakyat, atau tetap membiarkan Nusron Wahid berdiri di barisan korporasi? ***

Berita Terkait

Pabrik Etanol di Lampung: Antara Optimisme Hilirisasi dan Ujian Kenyataan
Di Bawah Larangan Kembang Api, Dini Menjajakan Harapan di Ujung Tahun
Refleksi Akhir Tahun Lampung 2025: “Cemomot” dari APBD ke BUMD, Jejak Korupsi Terbuka
Ekonomi Tumbuh, Upah Tertahan: Lampung Kalah Berani dari Sumatera Lain
Tahun Baru di Bawah Bayang Siklon: Lampung Diminta Waras di Tengah Euforia
Ekonomi Lampung dan Ilusi Stabilitas (Bagian 3in3)
Kadalistik Kebijakan dan Produksi Citra di Lampung (Bagian 2 in 3)
Penghargaan dan Anomali Fiskal Lampung (Bagian 1 in 3)

Berita Terkait

Selasa, 3 Februari 2026 - 00:02 WIB

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Senin, 2 Februari 2026 - 21:18 WIB

Triga Lampung Temui Kemenhan, Bahas Keberlanjutan Lahan Tebu Eks SGC

Senin, 2 Februari 2026 - 17:28 WIB

Kempeskan Ban Mobil Mahasiswa, Anggota DPRD Lampung Terancam Sidang Etik

Senin, 2 Februari 2026 - 13:53 WIB

KONI Lampung Intensif Pantau Atlet Berprestasi Jelang PON 2028 dan Persiapan Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Februari 2026 - 13:38 WIB

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Minggu, 1 Februari 2026 - 13:51 WIB

Yusnadi, Sesalkan Kebijakan RSUD Sukadana yang Wajibkan Pasien Gunakan Ambulans Rumah Sakit Saat Rujukan

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:18 WIB

TRIGA Lampung Kepung Kejaksaan Agung–KPK, Bongkar Dugaan Oligarki Gula, Pajak, dan Politik Uang

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:13 WIB

Bapenda Lampung dan GGPC Perkuat Sinergi Optimalisasi PAD

Berita Terbaru

Lampung

Pemprov Lampung Luruskan Isu Supply–Demand Daging Sapi

Selasa, 3 Feb 2026 - 00:02 WIB

Lampung

KONI Riau Dukung Lampung Jadi Tuan Rumah PON 2032

Senin, 2 Feb 2026 - 13:38 WIB