BERBAGI
Oleh Nizwar Affandi. (Pembaca dan pemerhati berita)

Lebih dari sepekan setelah OTT terhadap Bupati Lampung Selatan, pemberitaan media mulai mereda. Bisa jadi awak media memang belum mendapatkan bahan berita baru yang layak mereka muat atau diam-diam ada keengganan untuk memuatnya sebagaimana yang saya alami dengan tulisan pertama tentang kasus ini minggu lalu.

Beberapa hari setelah OTT, stasiun TV berita Metro TV menurunkan tim untuk membuat liputan khusus dalam program acara Metro Realitas. Ada beberapa cuplikan yang menarik dari tayangan itu, terutama tentu keterangan resmi dari Pimpinan KPK, Basaria Panjaitan. Ia menyampaikan pernyataan penting dan menarik: “Kami prediksi modus-modus ini hampir dilakukan di seluruh kabupaten”. Sebuah pernyataan resmi yang semestinya cukup membuat rakyat Lampung terjaga, khususnya aparatur penegak hukum di daerah, para anggota legislatif dan masyarakat sipil (NGO, media dan mahasiswa).

Bagi saya pernyataan itu jauh lebih menarik dari isu lainnya yang mengemuka di Lampung selama satu tahun terakhir bahkan mungkin selama Lampung berdiri menjadi provinsi.

Isu praktek korupsi yang diduga KPK terjadi di seluruh daerah ini, bisa jadi lebih terstruktur, massif dan sistematis daripada tuduhan politik uang yang sudah terbantah dalam persidangan Bawaslu Provinsi. Isu malpraktek tata kelola anggaran publik ini mestinya lebih layak untuk dibuatkan Pansus oleh teman-teman DPRD provinsi/kabupaten/kota ketimbang membuat Pansus Pilgub. Isu ini juga sangat layak untuk dijadikan bahan diskusi dan aksi oleh teman-teman mahasiswa dan NGO. Isu ini mestinya menggugah semua jurnalis dan media di Lampung untuk melakukan jurnalisme investigatif ke lingkungan pemprov maupun pemkab/pemkot se-Lampung. Khusus bagi jajaran kepolisian dan kejaksaan, peristiwa Lamteng dan Lamsel yang terjadi berdekatan waktunya ini menjadi tamparan keras, apakah memang aparat penegak hukum di Lampung tidak mengetahui, pura-pura tidak tahu atau memang secara sadar memilih untuk tidak berdaya? Wallahua’alam bishowab

Setelah menonton tayangan Metro Realitas, beberapa teman pelaku usaha kontruksi memberitahu saya sambil tertawa: “Salah itu Metro, GR itu bukan pemilik 9 Naga, dia itu cuma pegawai dan adik dari YS pemilik seluruh perusahaan group mereka”.

Dari penuturan beberapa teman itu saya juga mendapat informasi bahwa ada bau anyir keterlibatan orang-orang dekat sumbu kekuasaan di Lampung. Disinyalir YS memperoleh privilege (kekhususan) dari lingkaran kekuasaan selama empat tahun ini. Bahkan sampai ke bagian protokoler turut memberi dukungan jalur komunikasi kepada YS jika ingin bertemu dengan para kepala daerah di kabupaten/kota. Terkait Pilgub kemarin pun ada informasi sumir bahwa rumah YS dan kantor 9 Naga dijadikan pusat pengendalian saksi.

Semua informasi itu tentu tidak dapat begitu saja dipercaya, tetapi juga tidak boleh langsung diabaikan. Saya percaya KPK memiliki kemampuan lebih dari cukup jika ingin menelusuri dan menguji kebenaran dari berbagai spekulasi ini.

Saya mendapatkan kiriman beberapa gambar dan foto dari teman-teman. Ada gambar-gambar publikasi kegiatan pemangku kekuasaan yang diendorse oleh 9 naga (atau sebaliknya?). Ada juga foto-foto yang menunjukkan kedekatan YS dan 9 Naga dengan pemangku kekuasaan di daerah. Konon setelah OTT, YS dan keluarga 9 Naga lainnya dengan kompak bersama-sama menghapus foto-foto itu dari laman akun media sosial mereka. Saya juga menerima berbagai kiriman dari teman-teman beberapa screenshoot laman LPSE yang menunjukkan nama-nama perusahaan pemenang lelang pekerjaan di lingkungan pemprov dan pemkab, apakah benar semua perusahaan itu terafiliasi dengan 9 Naga? Pada waktunya saya yakin penyidikan KPK akan memberikan jawabannya kepada kita.

Pekerjaan besar membersihkan kanker koruptif di tubuh penyelenggara pemerintah daerah di Lampung sudah dimulai oleh KPK, pekerjaan besar itu tentu akan lebih cepat dan efektif dilakukan jika mendapatkan dukungan nyata dari masyarakat Lampung, khususnya aparatur penegak hukum, DPRD, NGO, kampus dan media. KPK seperti dokter yang datang dari Jakarta untuk menyembuhkan penyakit, kita yang di Lampung adalah pasien yang akan disembuhkan. Upaya dokter tidak akan berarti banyak jika pasiennya sendiri tidak memiliki tekad kuat untuk sembuh.

Tuhan YME, Allah SWT sudah memberitahu kita bahwa umat terbaik itu umat yang menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dalam satu nafas yang tidak terpisahkan. Jika perbuatan mengambil hak orang lain walaupun hanya seorang saja akan dipertanggungjawabkan sampai ke Padang Mahsyar, dan siapapun yang mengetahui perbuatan itu wajib hukumnya mengingatkan, bagaimana jika ada perbuatan yang mengambil hak jutaan orang? Rasulullah SAW sudah memberitahu kita opsi yang tersedia untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak berbuat baik dan mencegah perbuatan buruk) itu melalui pedang (kekuasaan) atau pena (intelektualitas). Diam yang disebut beliau sebagai selemah-lemahnya iman tentu bukan sebuah opsi. Karena peringatan surat Al Ashr (demi masa) dan konsepsi Fastabiqul Khairat (berlomba berbuat kebaikan) jelas bertentangan dengan sikap diam.

Semoga rentetan peristiwa OTT KPK ini memberikan kesadaran dan semangat baru kepada aparatur penegak hukum, DPRD, pegiat NGO, akademisi, mahasiswa, jurnalis dan media di Lampung, agar kita semua dapat terhindar dan tidak termasuk ke dalam golongan orang yang merugi. Aamiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here