Bumi Manusia dan Penawaran Pelajaran Hidupnya

Luki Pratama

Sabtu, 9 Maret 2024 - 21:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cover buku Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer.

Cover buku Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer.

Bandarlampung (Netizenku.com): “Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan.”

Siapa yang tidak pernah mendengar quote yang kerap Kita dengar itu. Betul, quote tersebut hasil rajutan kalimat Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia, yang telah melahirkan sebuah mahakarya berjudul Bumi Manusia. Novel itu tak ubahnya mesin waktu yang membawa kita ke realitas kelam kolonialisme Belanda di Hindia Belanda.

Melalui kisah Minke, seorang pribumi terpelajar, Bumi Manusia menjadi lensa untuk melihat penindasan dan diskriminasi yang merajalela pada masa itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Minke, dengan kecerdasan dan semangat mudanya, harus berhadapan dengan kenyataan pahit. Sebagai pribumi, ia tak ubahnya warga kelas dua di tanah kelahirannya sendiri. Ia dipaksa tunduk pada sistem yang menindas dan merampas harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Namun, di tengah tekanan dan ketidakadilan, Minke menemukan secercah harapan dalam diri Annelies, gadis Indo-Eropa yang baik hati dan penyayang. Cinta mereka, yang dibumbui perbedaan ras dan status sosial, menjadi simbol harapan dan kekuatan dalam menghadapi penindasan.

Baca Juga  “Seistimewa Apa Batik Garuda Lambar?

Bumi Manusia tak hanya berkutat pada kisah personal Minke. Novel ini seakan menjadi corong bagi rakyat Indonesia yang terjajah. Ia membangkitkan rasa nasionalisme dan semangat perlawanan terhadap belenggu kolonialisme.

Pramoedya dengan indah merangkai kata-kata, menghadirkan karakter yang kompleks dan cerita yang sarat dengan momen-momen mengharukan. Bumi Manusia tak sekadar karya fiksi yang menghibur, tetapi juga pemantik kesadaran. Ia mengajak kita untuk merenungkan kembali arti kemerdekaan dan kemanusiaan.

Penulis sangking kecanduannya sampai 3 kali membaca ulang karya sang maestro itu. Lebih dari sekadar kisah cinta, Bumi Manusia menawarkan beberapa pelajaran hidup yang berharga.

Menolak Penindasan dan Diskriminasi

Novel ini secara gamblang memaparkan pengalaman pahit rakyat Indonesia yang tertindas oleh penjajah. Ia menjadi pengingat bahwa penindasan dan diskriminasi adalah hal yang harus dilawan. Dalam sebuah dialog Nyai Ontosoroh menekankan “Lebih baik dipenjara daripada hidup tanpa harga diri.” menjadi salah satu poin buku tersebut mengajarkan untuk melawan penindasan dan diskriminasi.

Kekuatan Cinta dan Kasih Sayang

Di tengah kegelapan penindasan, cinta Minke dan Annelies menjadi titik terang. Kisah mereka menunjukkan bahwa cinta dan kasih sayang adalah kekuatan yang mampu melewati masa-masa sulit. Dalam penggalan dialog tertulis “Cinta tidak mengenal batas ras dan kelas sosial.” begitulah ungkapan yang menggambarkan cinta mereka yang melampaui sekat-sekat perbedaan.

Baca Juga  Maaf Kakak, Sudah 20 Menit!

Agak “melow” sedikit berikut dialog saling menguatkan percintaan berbeda ras dan strata sosial pada buku Bumi Manusia.

Minke: “Annelies, aku mencintaimu. Aku tidak peduli dengan perbedaan ras dan kelas sosial kita.”

Annelies: “Aku juga mencintaimu, Minke. Cinta kita akan mengalahkan semua rintangan.” dialog tersebut sarat akan makna, jangan ragu ketika sudah jatuh cinta.

Mencari dan Mempertahankan Identitas

Sebagai pribumi yang dididik dengan nilai-nilai Barat, Minke harus berjuang untuk menemukan jati dirinya di tengah masyarakat yang terbelah oleh kolonialisme.

Ini menjadi pengingat pentingnya kita untuk memahami dan menghargai identitas serta budaya sendiri. Dalam penggalan dialog dalam buku Bumi Manusia, minke ragu dengan dirinya lantaran ia belajar di Negeri Barat namun Nyai Ontosoroh meyakinkan bahwa dirinya merupakan seorang pribumi.

Minke: “Siapakah aku? Aku terlahir sebagai pribumi, tapi dididik dengan nilai-nilai Barat.”

Baca Juga  Sandal Kiai dan Kacang (Rebus) Lupa Kulitnya

Nyai Ontosoroh: “Kau adalah seorang pribumi, Minke. Kau harus bangga dengan identitasmu. Jangan lupakan budaya dan asal-usulmu.” Persis dengan kehidupan sekarang penulis kerap melihat seorang yang lupa identitasnya usai merantau di Negeri orang. Jangankan kampung halamannya, bahasa sukunya pun ia tidak menguasainya.

Pendidikan Sebagai Alat Perubahan

Pendidikan menjadi sebuah harapan bagi Minke untuk memperjuangkan hak-haknya dan bangsanya. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan adalah instrumen penting untuk meraih perubahan.

Minke: “Aku ingin mendapatkan pendidikan yang terbaik. Aku ingin menggunakan ilmuku untuk melawan penindasan Belanda.”

Bupati: “Pendidikan adalah kunci untuk meraih masa depan yang lebih baik. Gunakan ilmumu untuk membantu rakyat Indonesia.” Dialog tersebut menekankan pendidikan sangatlah penting, jadi jangan bolos ketika sudah mendapatkan kesempatan bersekolah.

Belajar dari Sejarah

Bumi Manusia tak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi juga mengajak kita untuk belajar dari sejarah. Dengan memahami masa lalu, kita dapat mencegah kesalahan serupa terulang di masa depan. Nyai Ontosoroh berkata “Jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Nyai Ontosoroh dengan terang menjelaskan pentingnya mempelajari sejarah. (Luki)

 

Berita Terkait

Demokrasi Lampung Rusak, Penyelenggara Sibuk “Main Mata” dengan Caleg
Pasca Jadi Bahasa Resmi UNESCO, Ini Tindak Lanjut Kantor Bahasa Provinsi Lampung
Jungkir Balik Juga Perlu Pelumas
Kerja Keras Atlet Porprov IX Lambar Akankah Terima Apresiasi?
Wahyuda Pratama Wakili Lampung Jambore Pelajar Teladan Bangsa IX
Puluhan Peratin di Pesbar tak Nyenyak Tidur
Tak Berhenti di Sepuluh
“Seistimewa Apa Batik Garuda Lambar?

Berita Terkait

Selasa, 28 Mei 2024 - 18:06 WIB

BMBK Mensinyalir Aksi Protes Lewat Sosmed Sarat Politik

Selasa, 28 Mei 2024 - 16:54 WIB

BMBK Klaim Anggarkan 5,1 Miliar untuk Perbaikan Jalan Viral di Tubaba

Selasa, 28 Mei 2024 - 16:31 WIB

Pemprov Lampung Catat 45 Sekolah Penggerak SMA dan SLB

Selasa, 28 Mei 2024 - 15:52 WIB

Lampung Raih Rekor MURI Budidaya Ayam Petelur dan Jadi Pionir NKV

Selasa, 28 Mei 2024 - 14:35 WIB

Tabung Oksigen Bocor, Puluhan Pengunjung RS Graha Husada Berhamburan Keluar

Selasa, 28 Mei 2024 - 09:59 WIB

FGD AMSI, Guru Besar Unila Rekomendasi Literasi Digital di Sekolah

Selasa, 28 Mei 2024 - 07:39 WIB

MTQ ke-53 Tingkat Bandarlampung Dimulai

Senin, 27 Mei 2024 - 21:13 WIB

AMSI Lampung: Budaya Literasi Bisa Dimulai dari Website Sekolah

Berita Terbaru

Plh Sekretaris Dinas BMBK Lampung, Hendriyanto, ketika diwawancarai. Foto: Luki.

Lampung

BMBK Mensinyalir Aksi Protes Lewat Sosmed Sarat Politik

Selasa, 28 Mei 2024 - 18:06 WIB

Kepala Disdikbud Lampung, Sulpakar, ketika diwawancarai. Foto: Luki.

Lampung

Pemprov Lampung Catat 45 Sekolah Penggerak SMA dan SLB

Selasa, 28 Mei 2024 - 16:31 WIB