BERBAGI

*Hendri Std

Dulu sewaktu masih SMA saya sangat tergila-gila pada Iwan Fals. Saya makin kesengsem saat dia berkolaborasi bareng Jabo dkk di Swami atau bareng Rendra dan Setiawan Djodi di Kantata Takwa.

Sungguh pilihan kawan yang tepat menurut saya. Yang membikin jati diri Iwan makin kentara. Pokoknya….ukh, saya tambah kagum akan keberpihakannya pada kaum lemah, golongan tertindas. Sangat kagum, malah. Tapi itu dulu. Dulu banget.

Lantas bagaimana kabar Iwan Fals sekarang? Jujur saja sudah beberapa tahun terakhir saya kurang tertarik mengikuti sepak terjangnya. Disamping memang tak ada hal baru darinya, selain kedekatannya terhadap istana. Yah, bebas saja. Iwan mau berakrab-ria dengan siapa pun itu haknya. Saya hargai itu. Lagi pula saya hanya satu dari jutaan penggemarnya. Sebatas sebulir  buih ombak di lautan.

Tapi tanpa dinyana, perhatian saya mendadak tersedot kembali ke Iwan Fals belakangan ini. Itu bukan lantaran ada lagu barunya yang mengkritisi penguasa seperti lagu-lagu khas ‘pemberontakannya’ dahulu kala.

Lagi pula saya menyimpan keraguan kalau Iwan Fals masih punya kemampuan sekaligus kepekaan jernih untuk bisa membuat lagu-lagu semacam itu lagi. Dan memang terbukti sudah sekian waktu tak ada lagi “nada sumbang” yang ditujukan ke penguasa olehnya.

Kali ini perhatian saya justru tertuju pada cuitan di akun twitternya terkait kisruh Omnibus Law. Begini deretan celotehnya;

“Demo omnibus law lawannya keputusan sah, tentara dan polisi, yg paling serem ya pandemi. Ati2 ah.”

Pada cuitan dihari Selasa (6/10/2020) itu, saya masih bisa menerima kekhawatiran Iwan pada keselamatan para pendemo. Masih ada nuansa simpatinya terhadap ‘parlemen jalanan’.

Sebaliknya, saya agak tercekat saat membaca cuitan Iwan dihari berikutnya. “Gini lo, klo mati sendiri ya silahkan sajalah, tapi klo “ngajak2” orang lain nah ini yg berabe, orang lain kan berhak hidup, iye kan kan kan kan. Selamat hari rabu semoga semakin seru hidupmu dan tambah bahagianya tentu saja. Sayangi diri, orang lain dan keluargamu.”

Ulala…saya terkaget-kaget menyimak ucapan seorang maestro yang pernah menyuarakan lagu “Bongkar” dan “Paman Doblang” ini.

Saya tertarik akan spirit cuitannya. Nih, Iwan Fals sedang ngomelin siapa. Meradang pada langkah para pendemokah, yang turun ke jalan dikala pandemi?

Atau tudingannya justru di arahkan kepada pemerintah yang telah menggelindingkan RUU Cipta Kerja sambil berpesan ke DPR RI untuk “SEGERA” diproses. Dan ternyata gayung bersambut. Bahkan seakan tidak ingin mengecewakan pengorder, DPR RI benar-benar bekerja sigap.

Saking cepatnya, malah terkesan kelewat kebelet, mensahkan UU Cipta Kerja di tengah pandemi, disaat angka terinfeksi menyentuh 4 ribu kasus per hari. Pada situasi kebelet itukah Iwan Fals mengarahkan omelannya?

Setelah saya runut, agaknya cuitan Iwan Fals pada 7 Oktober 2020 itu, lebih diarahkan kepada para pendemo. Owalah, Iwan sedang meradang ke mahasiswa, buruh dan pelajar yang turun ke jalan kiranya.

Duh, kalian para pendemo, mestinya dengar ucapan Sang Idola ini, deh. Jangan suka ajak-ajak orang untuk mati barengan. Klo sudah bosan hidup dan kepingin migrasi ke alam baka, ya berangkat aja sendiri!

Tadinya saya masih berharap akan ada cuitan Iwan Fals yang fair. Setidaknya berimbanglah. Klo para pendemo ‘disemprit’, saya berharap Iwan juga mempersoalkan timing pengesahan Omnibus Law.

Kok, bisa-bisanya pemerintah meminta pembahasan dan pengesahan UU Cipta Kerja disaat suasana kritis Covid-19 seperti sekarang.

Kok, DPR RI juga seakan kehilangan kepekaannya untuk mensinyalir keputusan mereka bakal menangguk kontra dan berpotensi memicu orang-orang (terutama buruh) turun ke jalan.

Atau semua itu memang sengaja dipinggirkan alias tak digubris, lantaran merasa kekuatan politik penguasa sudah tak tertandingi?

Saya menunggu-nunggu cuitan Iwan Fals yang menyoroti perkara itu. Tapi apa mungkin akan ada cuitan semacam itu dari Sang Legend di saat sekarang? Saya kok pesimis.

Andai Rendra masih ada. Saya juga kepingin tahu bagaimana penilaian almarhum si “Burung Merak” terhadap sikap kawan kolaborasinya itu.

Sebatas ini saya makin paham bedanya Cinta Tanah Air dan Cinta Penguasa.(*Pimum Suratkabar Harian Lentera Swara Lampung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here